Berkat Pasti.id, Yova pernah menjadi pembicara di Young Professional Fellowship di Bali, Kazan Global Youth Summit di Rusia, dan Doha International Family Institute di Qatar.
Tentunya bukan hal mudah baginya untuk bicara di hadapan banyak orang. Ia mengenang, “Mungkin aku satu-satunya pembicara yang bukan dari latar profesional maupun akademisi, namun mereka sangat apresiatif karena aku berani speak up sebagai seorang penyintas."
Banyaknya dukungan dari berbagai pihak membuat Yova ingin terus mengembangkan komunitas tersebut sebagai wadah untuk banyak anak muda lain yang mungkin sama seperti dirinya.
Namun, perjuangannya tak selalu mulus. Yova mengaku sempat ingin menghentikan operasional komunitas tersebut karena rasa tidak percaya diri dan konflik internal.
“Tapi aku sadar kalau alasan aku mau bubarkan itu tidak rasional. Semua struggle itu tidak sebanding dengan dukungan dan respon positif yang terus membanjiri,” tutupnya tegas.
Kisah Yovania Asyifa Jami, seorang penyintas yang kini menjadi pejuang kesehatan mental tentu menjadi bukti nyata bahwa masa lalu kelam tidak menentukan batas masa depan seseorang.
Bagi para remaja yang sedang bergulat dengan kesehatan mental, keberanian Yova untuk bersuara dan memulai gerakan nyata adalah inspirasi bahwa mereka tetap bisa berkontribusi, berprestasi, bahkan go internasional.
Untuk para orangtua, memahami bahwa dukungan adalah kunci utama membantu anak-anak menghadapi gangguan jiwa adalah yang terpenting untuk membantu anak melewati ini semua.
Karena seperti yang Yova tunjukkan, perubahan terbesar justru dimulai dari keberanian untuk tidak lagi bungkam dan melawan stigam tersebut.
Semangat selalu untuk para pejuang kesehatan mental!