Perkembangan dunia pendidikan tanah air kembali menjadi sorotan hangat yang patut Mama perhatikan bersama.
Gawat, Hasil TKA SD dan SMP 2026 Jeblok!

Kemendikdasmen merilis hasil TKA nasional 2026 untuk SD dan SMP dengan partisipasi 98,12 persen murid, menunjukkan nilai rata-rata Bahasa Indonesia sekitar 60 dan Matematika di bawah 45.
Rendahnya nilai disebabkan soal berbasis HOTS yang menuntut penalaran tinggi, sementara banyak siswa masih terbiasa menghafal; ditambah pengaruh gawai dan metode belajar guru yang belum merata.
Hasil TKA menggunakan skala 0–100 dengan kategori Baik, Memadai, dan Kurang; sertifikat resmi SHTKA akan digunakan untuk validasi rapor serta seleksi jalur prestasi SPMB 2026.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) nasional untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Evaluasi berskala besar ini menjadi momen penting karena TKA untuk jenjang SD dan SMP baru pertama kali diadakan di tahun 2026 ini, berbeda dengan jenjang SMA yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2025 lalu.
Berikut Popmama.com rangkum 4 poin pembahasan penting terkait jebloknya nilai rerata TKA anak mama!
Table of Content
1. Rincian angka rerata nilai TKA jenjang SD dan SMP

Kemendikdasmen resmi mengumumkan hasil TKA jenjang SD/MI dan SMP/MTs Sederajat Tahun 2026 ini pada Senin (26/5/2026) pukul 13.00 WIB, dengan tingkat partisipasi nasional yang sangat tinggi mencapai 98,12 persen murid.
Pengumuman resmi dari pemerintah memperlihatkan data capaian akademis anak-anak yang masih jauh dari target ideal.
Pada jenjang SD, nilai rerata nasional untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia hanya mampu mencapai angka 60,14 dan mata pelajaran Matematika merosot hingga angka 43,41.
Kondisi yang tidak jauh berbeda juga terjadi pada jenjang SMP, di mana nilai rerata Bahasa Indonesia berada di angka 60,83 dan nilai Matematika jatuh di angka 40,34.
2. Faktor di balik kesulitan bernalar anak zaman sekarang

Rendahnya nilai ini terjadi karena selama ini banyak murid terbiasa menghafal rumus atau menjawab soal matematika prosedural langsung, sementara soal TKA didesain berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Murid dituntut mengubah masalah kontekstual sehari-hari menjadi model matematika terlebih dahulu sebelum menyelesaikannya, sehingga banyak anak kesulitan bernalar.
TKA 2026 bertindak sebagai alat uji independen berskala nasional yang objektif untuk mengungkap potret kemampuan aktual anak tanpa adanya intervensi nilai rapor yang kerap dikatrol sekolah.
Masalah ini diperparah oleh belum meratanya metode deep learning dari guru di daerah serta paparan gawai dan video pendek media sosial yang menurunkan daya tahan membaca teks panjang serta melemahkan fokus siswa.
3. Panduan membaca rentang hasil TKA

Sebelum membaca hasil evaluasi, Mama perlu tahu bahwa rentang nilai TKA SD dan SMP menggunakan skala 0 hingga 100, berbeda dengan SMA dan SMK yang menggunakan skala 200 hingga 800.
Hasilnya terbagi menjadi kategori Baik, Memadai, dan Kurang, serta predikat istimewa bagi siswa SD dan SMP yang meraih nilai 95,00 di setiap mata uji.
Kemendikdasmen bahwa hasil TKA tidak akan tercantum dalam ijazah. Nilai mendalam tersebut nantinya akan diterbitkan secara resmi melalui Sertifikat Hasil TKA (SHTKA) yang berguna untuk validasi nilai rapor, keperluan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 jalur prestasi, dan evaluasi mandiri siswa.
Melihat hasil evaluasi nasional ini tentu menjadi pengingat yang sangat berharga bagi Mama sebagai orangtua di rumah ya, Ma.
Nilai rerata yang jeblok ini jangan sampai membuat Mama patah semangat atau justru memarahi anak, melainkan harus dijadikan bahan refleksi untuk memperbaiki cara belajar mereka.


















