Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Tragis, Kaki Siswi SD di Inhil Menghitam usai Diduga Jadi Korban Bully
Tribata Riua

Hati orangtua mana, yang tak tak tersayat saat melihat kondisi kaki anaknya mengalami luka hingga hitam pekat?

Inilah yang dialami seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku SD asal Indragiri Hilir, Riau.

RA (11) kini viral setelah sebuah video beredar di media sosial yang perlihatkan kondisi tragis kakinya, yang diduga terjadi setelah perundungan oleh temannya.

Tak hanya luka fisik yang terlihat jelas, dampak psikologis yang diderita RA juga patut menjadi perhatian serius akan maraknya kekerasa yang terjadi di kalangan anak-anak.

Lantas, bagaimana kronologi peristiwa ini bisa terjadi hingga menyebabkan cedera serius? Melansir dari berbagai sumber, berikut Popmama.com rangkumkan ulasan selengkapnya.

1. Kronologi kekerasan yang memicu cedera

Magnific/freepik

Menurut keterangan yang diunggah di akun Instagram @riau.terkini, peristiwa nahas itu bermula saat RA tengah menjalankan tugas membersihkan ruang kelas atau piket.

Saat itu, ia melihat salah satu temannya yang berinisial F kedapatan bermain bola di dalam kelas. Sebagai siswa yang tengah bertugas, RA pun menegur temannya tersebut.

Teguran yang seharusnya menjadi bentuk tanggung jawab kecil itulah yang diduga menjadi pemicu aksi kekerasan, yang menyebabkan kondisi kedua kaki RA mulai menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.

Kakinya mengalami luka cedera dengan perubahan warna menjadi kehitaman dan terasa nyeri setiap kali digunakan untuk berjalan.

2. Cedera serius yang berdampak pada psikologis korban

Magnific/rawpixel

Kondisi kaki RA yang menghitam menunjukkan adanya cedera cukup serius yang membuatnya kesulitan beraktivitas seperti biasa.

Orangtua korban, Azahari dan Siti Hajar, mengaku sangat terpukul melihat penderitaan yang dialami putrinya. Mereka berharap adanya perhatian serius dari pihak sekolah maupun instansi terkait.

Bukan hanya perawatan medis saja untuk memulihkan kondisi fisik RA, tapi juga pendampingan psikologis mengingat trauma yang mungkin timbul akibat perundungan tersebut.

Hingga video ini viral dan dibagikan ulang oleh sejumlah akun di media sosial, banyak pihak yang mendesak pihak sekolah agar tidak menutup mata terhadap insiden ini.

Tindakan tegas seperti pembinaan kepada siswa yang terlibat, serta peningkatan pengawasan aktivitas siswa, perlu dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang.

3. Ajarkan anak untuk berani melapor perilaku kekerasan

Magnific/freepik

Peristiwa perundungan di kalangan anak-anak sekolah ini sudah sepatutnya menjadi perhatian khusus bagi berbagai pihak, termasuk pihak sekolah dan orangtua.

Agar tak ada lagi tindak kekerasan di kalangan anak, Mama bisa tanamkan pada anak bahwa tidak ada teguran yang salah dan tidak ada alasan untuk membalas dengan kekerasan.

Anak harus tahu bahwa melapor kepada guru atau orangtua adalah tindakan berani untuk memutus kekerasan, bukan memalukan.

Selain itu, pastikan anak dan orangtua punya komunikasi terbuka yang sehat di rumah. Biasakan anak bercerita tentang kesehariannya di sekolah, termasuk hal-hal kecil seperti saat ditegur atau saat menegur teman.

Dengan adanya komunikasi dua arah yang terjalin antara anak dan orangtua, Mama Papa bisa cepat mendeteksi jika ada potensi perundungan.

Terakhir, anak juga bisa belajar cara menenangkan diri dan meminta bantuan, misalnya dengan berteriak memanggil guru saat merasa terancam.

Semoga kejadian ini bisa menjadi peringatan keras bagi kita semua, serta tidak ada lagi kejadian serupa yang dialami anak-anak kita.

Editorial Team