Child grooming terjadi melalui tahapan yang sistematis dan terencana. Proses ini tidak langsung mengarah pada eksploitasi, tetapi dimulai dari hal yang terlihat normal.
“Child grooming ini adalah suatu manipulasi psikologis yang terencana dan sistematis,” ujar Dr Piprim
Adapun tahapan grooming meliputi:
1. Targeting the child (menentukan target)
Pada tahap awal, pelaku akan memilih anak yang dianggap lebih mudah didekati atau memiliki kerentanan tertentu. Misalnya anak yang merasa kesepian, kurang percaya diri, berasal dari keluarga yang tidak stabil, atau jarang mendapatkan pendampingan orangtua di rumah.
Namun, tidak menutup kemungkinan anak dengan kondisi “baik-baik saja” juga bisa menjadi target. Hal ini karena kebutuhan akan pengakuan, ingin dipuji, atau ingin diperhatikan juga bisa dimanfaatkan oleh pelaku.
2. Gaining trust (membangun kepercayaan)
Setelah menentukan target, pelaku mulai membangun kepercayaan, tidak hanya kepada anak tetapi juga kepada orangtua dan lingkungan sekitarnya.
Pelaku biasanya mengumpulkan informasi tentang anak, memahami kebiasaan, kesukaan, hingga kondisi keluarga. Dari situ, pelaku berusaha mengambil hati anak dengan sikap yang terlihat baik.
Dalam tahap ini, pelaku juga mulai mengenalkan konsep “rahasia”, sehingga anak perlahan terbiasa menyimpan hal-hal yang sebenarnya tidak boleh dilakukan tanpa sepengetahuan orangtua.
3. Fulfilling a need (memenuhi kebutuhan anak)
Setelah hubungan mulai terbangun, pelaku akan memberikan berbagai bentuk perhatian atau hal-hal yang menyenangkan. Bisa berupa hadiah, perhatian emosional, atau sekadar komunikasi intens. Contohnya seperti pertanyaan sederhana, misalnya “sudah makan belum?” atau “kamu mau apa?”
Hal-hal kecil ini membuat anak merasa diperhatikan dan dianggap penting. Dari sini, anak mulai memiliki ketergantungan emosional terhadap pelaku.
4. Isolation (mengisolasi anak)
Pada tahap ini, pelaku mulai membentuk pengaruh yang lebih kuat terhadap anak. Grooming diibaratkan seperti “didandani”, di mana pelaku perlahan menyetir cara berpikir anak.
Pelaku bisa menawarkan bantuan seperti mengantar ke les atau menemani aktivitas, sehingga kehadirannya menjadi semakin dominan dalam kehidupan anak.
Selain itu, pelaku juga mulai menanamkan doktrin seperti “aku baik dan sayang sama kamu”
Hal ini membuat anak merasa pelaku adalah sosok yang paling memahami dirinya, sehingga jarak dengan orang lain semakin terbentuk.
5. Sexualizing the relationship (menormalisasi perilaku seksual)
Tahap ini menjadi titik penting, di mana pelaku mulai mengubah batasan hubungan. Awalnya mungkin hanya berupa sentuhan ringan, seperti memegang tangan.
Anak biasanya merasa tidak nyaman di awal, tetapi pelaku akan memanipulasi dengan mengatakan bahwa hal tersebut adalah bentuk kasih sayang orang dewasa.
Anak kemudian didoktrin bahwa perilaku tersebut adalah normal, sehingga perlahan batasan anak menjadi kabur dan hubungan mengarah ke hal yang lebih seksual.
6. Maintaining control (mengendalikan dan menjaga hubungan)
Setelah anak berada dalam kendali, pelaku akan memastikan hubungan tersebut tetap berjalan dan tidak terbongkar. Kontrol ini bisa dilakukan melalui:
Ancaman, seperti menyebarkan foto atau video
Manipulasi perasaan, seperti membuat anak merasa bersalah
Memberikan kenyamanan kembali agar anak tidak menjauh
Pelaku juga bisa mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah keinginan anak, sehingga korban merasa tidak punya pilihan dan sulit keluar dari situasi tersebut.