7 Dampak Child Grooming pada Anak, Jarang Disadari Orangtua

- Anak mengalami trauma psikologis, seperti gangguan kecemasan dan PTSD.
- Muncul rasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri, membuat anak enggan bercerita.
- Kehilangan kepercayaan terhadap orang lain, menyebabkan anak sulit mempercayai orang di sekitarnya.
Belakangan ini, buku karya Aurelie Moeremans ramai diperbincangkan lantaran mengangkat cerita pengalaman dirinya menjadi korban child grooming saat usia 15 tahun.
Terbitnya buku Broken Strings tersebut membuat banyak orang semakin menyadari betapa bahayanya child grooming yang kerap tidak disadari, bahkan oleh orangtua sekali pun.
Berikut Popmama.com siap membahas beberapa dampak child grooming pada anak.
Apa Itu Child Grooming?

Child grooming adalah perilaku manipulatif yang dilakukan seseorang untuk membangun kedekatan dan kepercayaan dengan anak, dengan tujuan mengeksploitasi, baik secara seksual, emosional, maupun psikologis.
Proses ini biasanya terjadi secara bertahap dan halus, sehingga sering kali tidak disadari oleh korban.
Pelaku bisa berpura-pura menjadi sosok yang perhatian, memberikan pujian berlebihan, menawarkan hadiah, hingga membuat anak merasa spesial, dan bergantung secara emosional.
Seiring berjalannya waktu, pelaku mulai mengaburkan batasan yang wajar, seperti meminta anak menyimpan rahasia, menanyakan hal pribadi, mengirim pesan atau konten tidak pantas, hingga mengarahkan anak pada perilaku yang merugikan.
Karena dampaknya dapat mengganggu kesehatan mental anak dalam jangka panjang, penting bagi orangtua dan lingkungan sekitar untuk memahami tanda-tandanya serta membangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa aman untuk bercerita.
7 Dampak Child Grooming pada Anak
1. Anak mengalami trauma psikologis

Child grooming dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam pada anak. Anak bisa merasa takut, tertekan, dan tidak aman, bahkan setelah kontak dengan pelaku sudah berhenti.
Trauma ini sering muncul karena anak merasa dirinya dimanfaatkan oleh seseorang yang sebelumnya dipercaya.
Dalam jangka panjang, trauma bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan, mimpi buruk, sulit tidur, hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan emosi dan keseharian anak.
2. Muncul rasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri

Banyak korban grooming merasa bahwa kejadian tersebut adalah kesalahan mereka. Pelaku biasanya memanipulasi anak dengan membuatnya merasa 'ikut terlibat' atau 'sama-sama mau', padahal anak berada dalam posisi yang tidak setara.
Rasa bersalah ini dapat membuat anak enggan bercerita kepada orangtua atau guru. Anak memilih memendam perasaan karena takut dimarahi, dipermalukan, atau tidak dipercaya.
3. Kehilangan kepercayaan terhadap orang lain

Setelah mengalami grooming, anak bisa menjadi lebih tertutup dan sulit mempercayai orang di sekitarnya.
Ini wajar karena kepercayaan mereka pernah disalahgunakan oleh seseorang yang dianggap aman.
Akibatnya, anak mungkin menjauh dari keluarga, teman, atau guru. Hubungan sosial yang seharusnya mendukung justru terasa mengancam bagi anak.
4. Gangguan emosi dan perilaku

Dampak grooming juga bisa terlihat dari perubahan emosi dan perilaku anak. Anak bisa menjadi lebih mudah marah, murung, sensitif, atau sering menangis tanpa alasan yang jelas.
Sebagian anak juga menunjukkan perubahan perilaku seperti menarik diri, prestasi sekolah menurun, kehilangan minat pada hal yang dulu disukai, atau justru mencari perhatian secara berlebihan.
5. Gangguan kepercayaan diri

Pelaku grooming sering memanipulasi anak secara psikologis, membuat anak merasa bahwa hanya pelaku lah yang benar-benar peduli padanya.
Hal ini dapat merusak cara anak memandang dirinya sendiri. Akibatnya, anak tumbuh dengan rasa percaya diri yang rendah. Anak bisa merasa tidak berharga, merasa dirinya 'rusak', atau merasa tidak pantas dihargai oleh orang lain.
6. Risiko mengalami kekerasan berulang

Anak yang pernah menjadi korban grooming memiliki risiko lebih besar untuk kembali menjadi target pelaku lain.
Hal ini bisa terjadi karena anak belum memahami batasan yang sehat dalam relasi.
Jika tidak mendapatkan edukasi dan pendampingan yang tepat, anak kemungkinan merasa sulit mengenali tanda-tanda manipulasi dan kembali terjebak dalam pola hubungan yang tidak aman.
7. Dampak jangka panjang hingga dewasa

Dampak child grooming tidak selalu berhenti saat anak tumbuh besar. Banyak korban membawa luka emosional hingga remaja bahkan dewasa, termasuk kesulitan menjalin hubungan sehat dan rasa takut akan kedekatan emosional.
Beberapa korban juga mengalami masalah kesehatan mental jangka panjang seperti depresi, kecemasan kronis, atau kesulitan mengelola emosi. Karena itu, dukungan psikologis sejak dini sangat penting untuk proses pemulihan.
Demikian pembahasan mengenai dampak child grooming pada anak. Perlu disadari banyak orang bahwa child grooming bukan isu sepele, karena dampaknya bisa membekas hingga anak tumbuh dewasa


















