7 Alasan Mengapa Remaja Korban Grooming Tidak Melawan, Ini Penjelasan Psikolog

Belakangan ini, kasus child grooming kembali ramai diperbincangkan setelah artis Aurélie Moeremans membagikan pengalamannya dalam buku digital "Broken Strings".
Dalam bukunya, Aurélie menceritakan bagaimana ia mengalami grooming saat remaja oleh orang dewasa yang usianya jauh lebih tua. Kisah ini membuka mata banyak orang tentang betapa halus dan berbahayanya praktik manipulasi ini.
Banyak yang bertanya, "Mengapa korban, terutama remaja usia 15-18 tahun, sering terlihat pasif dan tidak melawan?" Pertanyaan ini kerap dilontarkan dari sudut pandang orang dewasa yang telah memiliki kemampuan penilaian risiko yang matang.
Namun, jawabannya justru jauh lebih kompleks dari sekadar "tidak berani", Ma. Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., menjelaskan secara mendalam dinamika psikologis dan perkembangan otak remaja yang menjadi penyebabnya.
Lantas, apa alasan di balik diamnya remaja yang jadi korban grooming? Berikut Popmama.com rangkumkan informasi selengkapnya.
1. Otak remaja belum sepenuhnya matang

Melalui utas yang diunggah Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., dalam akun Threads miliknya, ia menjabarkan beberapa alasan mengapa banyak remaja yang jadi korban grooming kerap memilih diam dan tak melawan.
Salah satu alasannya karena usia remaja yang masih belum matang untuk melindungi dirinya. Di usia 15-18 tahun, bagian otak yang disebut prefrontal cortex masih dalam perkembangan.
Prefrontal cortex sendiri bertugas untuk menilai risiko, membuat keputusan jangka panjang, dan mengatakan "tidak".
Akibatnya, meski emosi anak sudah besar, kemampuan untuk melihat bahaya jangka panjang dan mengambil langkah strategis melindungi diri masih terbatas.
Di usia ini, anak masih belum punya "perlengkapan" otak yang matang untuk secara konsisten mengenali dan menolak manipulasi yang mereka terima, meski dari orang terdekatnya.
2. Dimulai dari manipulasi, bukan langsung kekerasan

Pelaku grooming biasanya jarang datang dengan ancaman atau kekerasa, Ma. Mereka biasanya menyamar sebagai "penyelamat", "satu-satunya yang mengerti", atau "pembela" di saat anak remaja mulai merasa kesepian.
Ketika anak tak mendapat perhatian dan dukungan dari keluarga atau orang terdekatnya, maka perhatian dan dukungan yang diberikan pelaku inilah yang perlahan-lahan mengaburkan batas antara yang normal dan yang salah.
Korban pada awalnya tidak merasa diserang, justru merasa kehadiran pelaku sebagai hal yang ia butuhkan, bahkan sampai merasa berhutang budi pada pelaku.
Inilah yang membuat "lawan" bukan respons pertama yang muncul, karena anak awalnya terlebih dahulu dimanipulasi oleh pelaku.
3. Pola asuh otoriter yang membentuk pemikiran anak

Remaja yang tumbuh dari pola asuh otoriter karena lingkungan keluarga yang terlalu ketat, minim komunikasi, dan penuh hukuman cenderung terbiasa dengan pola patuh demi merasa aman.
Dalam utas yang diunggahnya tersebut, Anastasi menyebutkan bahwa pola asuh seperti ini membuat anak merasa lebih terlatih untuk takut pada konsekuensi dan menyalahkan diri sendiri.
Itulah mengapa saat dihadapkan pada situasi ancaman seperti dalam grooming, respons otomatis yang muncul adalah diam, menuruti, dan bertahan, bukan melawan.
4. Kondisi ekonomi yang sulit membuat anak terpengaruh

Latar belakang kemiskinan atau tekanan ekonomi juga menjadi alasan lain mengapa remaja yang jadi korban grooming memilih diam dan tidak melawan.
Kondisi ekonomi yang sulit membuat seorang remaja merasa tidak punya pilihan. Terbiasa hidup dalam keterbatasan dan "bersyukur" dalam ketidaknyamanan, ancaman seperti "kamu akan kehilangan segalanya" dari pelaku terasa sangat nyata dan menakutkan.
Bagi otak mereka yang belum sepenuhnya berkembang, kehilangan sedikit keamanan yang ada sudah dianggap bahaya besar, sehingga berakhir memilih untuk mengikuti kemauan pelaku.
5. Punya riwayat jadi korban bullying sebelumnya

Kalau anak remaja pernah menjadi korban perundungan atau bullying, ini yang membuat harga diri anak rusak dan mengurangi rasa percaya diri anak.
Korban bullying kerap kali beranggapan bahwa mereka tak cukup berharga, hal ini yang membuat mereka tanpa sadar sangat haus akan penerimaan dan pengakuan.
Nah, hadirnya pelaku grooming yang datang dan terlihat sebagai "super hero" baginya pun bisa dirasakan seperti satu-satunya kesempatan untuk diterima.
Dari perlakuan manis pelaku di awal, anak pun akan menjadikan mereka sebagai "pegangan hidup" untuk membuatnya merasa nyaman dan aman, sehingga sulit untuk melawan saat kemudian mendapat ancaman.
6. Dunia hiburan memperlebar kuasa untuk memanipulasi

Melihat kisah Aurélie Moeremans yang pernah mengalami child grooming saat usianya remaja, psikolog menggarisbawahi bagaimana dunia hiburan tempat Aurélie tumbuh juga memengaruhi kondisi tersebut, Ma.
Bayangkan seorang remaja yang baru terjun ke dunia hiburan, mereka biasanya belum punya pengalaman, kekuatan tawar, atau perlindungan yang cukup.
Dalam situasi ini, mereka sering kali sangat bergantung pada figur dewasa seperti manajer atau produser. Nah, ketergantungan ini bukan cuma soal karier, tapi juga emosional.
Rasa takut kehilangan kesempatan atau diasingkan dari industri membuat mereka bingung membedakan mana hubungan yang sehat dan mana yang sudah dieksploitasi.
Dalam penjelasannya, Anastasia menegaskan bahwa ini bukan soal mereka "memilih" diam, tapi lebih karena anak merasa terjebak dalam situasi yang sangat tidak seimbang.
7. Respons tubuh yang membeku saat merasa terancam

Anastasia juga menjelaskan bahwa ketika berada dalam situasi berbahaya atau sangat menekan, tubuh punya cara alami untuk bertahan. Reaksinya bisa jadi melawan, kabur, atau membeku.
Nah, banyak korban grooming mengalami respons membeku, yang membuat mereka bisa merasa lumpuh, pasrah, atau hanya mengikuti apa yang terjadi, seolah-olah otak dan tubuh mereka "shutdown" untuk bertahan dari trauma.
Ini adalah reaksi otomatis dari sistem saraf, bukan karena mereka lemah atau tidak berani. Itulah mengapa perintah "ikut saja" secara alamiah sering menjadi bentuk pertahanan diri yang paling mungkin dilakukan saat itu.
Dari utasan yang dibagikan psikolog anak dan remaja di atas, sudah jelas ya, Ma, alasan mengapa remaja yang jadi korban grooming memilih diam dan tidak melawan.
Yang dialami korban adalah gabungan dari keterbatasan perkembangan otak, manipulasi sistematis, kondisi hidup yang mempersempit pilihan, dan respons trauma alami tubuhnya.
Sebagai orangtua, kewaspadaan, pendidikan tentang batasan tubuh, dan membangun komunikasi terbuka dengan remaja adalah langkah terpenting untuk melindungi mereka dari bahaya grooming yang mengintai.
Semoga tak ada lagi korban child grooming pada anak-anak di sekitar kita ya, Ma, Pa.



















