Pentingnya Mengajarkan Toleransi pada Anak Sebagai Bekal Hidup

Karena anak yang cerdas bukan hanya punya nilai yang bagus, melainkan juga soal toleransi yang baik

12 Mei 2019

Penting Mengajarkan Toleransi Anak Sebagai Bekal Hidup
flickr.com/barretelementary

Wilayah Indonesia yang sangat luas dengan kondisi alam yang beraneka ragam yang menghasilkan suatu pola kehidupan masyarakat yang beraneka ragam pula. Hal inilah yang menyebabkan bangsa Indonesia memiliki beraneka ragam suku bangsa dengan berbagai adat, budaya, dan segala perbedaan lainnya. 

Tinggal di negara yang multikultural, tentu bukan perkara mudah. Terutama mengajarkan kepada anak bagaimana cara berinteraksi yang baik dan mau membuka diri untuk bertoleransi dengan orang yang berbeda. Termasuk juga membuka wawasan bahwa dengan bertoleransi sejak dini, maka akan membuka banyak kesempatan untuk belajar tentang hal-hal yang baru. 

Mengajarkan toleransi kepada anak tidak hanya dapat dilakukan dengan kata-kata saja. Sebagai orangtua, Mama sebaiknya juga memberikan contoh tentang toleransi melalui tindakan, misalnya dengan cara sebagai berikut:
 

1. Tidak lelah memberi contoh

1. Tidak lelah memberi contoh
pxhere.com

Di lingkungan terkecil keluarga, tentu ada orang-orang yang berbeda agama atau pun ras dengan keluarga Mama. Tunjukkan sikap hormat dan bersikap baik, terutama saat berbicara dengan orang lain. Anak tidak akan belajar dari orang lain Ma, melainkan dari kedua orangtuanya sendiri. 

Saat anak bertanya, sebisa mungkin jawab pertanyaan dengan jujur dan hargailah setiap hal yang ditanyakannya. Terutama tentang bagaimana memahami perbedaan dalam diri orang lain. Dari tampilan fisik hingga agama dan kepercayaan.

Ajari anak-anak untuk memperlakukan orang lain dengan hormat dan tegaskan bahwa orangtua tidak akan menerima perilaku tidak sopan baik di dalam maupun di luar rumah. Hargai perbedaan yang ada di dalam keluarga sendiri, misalnya saja tentang kegemaran, minat, dan kemampuan yang berbeda.
 

2. Memakai media buku, musik, atau film

2. Memakai media buku, musik, atau film
Pexels/Lina Kivaka

Media memiliki kemampuan yang kuat untuk membentuk sikap anak sejak dini. Pilih film, cerita dan permainan yang menghargai perbedaan. Mama bisa mengajarkannya melalui seri Sesame Street atau aneka channel Youtube produksi lokal yang menceritakan tentang keanekaragaman budaya dalam bermasyarakat.
 

Editors' Picks

3. Ajak anak berdiskusi

3. Ajak anak berdiskusi
Freepik

Kita tak dapat mengharapkan hanya hal yang baik yang dilihat oleh anak, apalagi jika anak melihat kejadian intoleran tanpa sengaja. Jika Mama dan anak menonton atau melihat sesuatu yang mengarah pada sikap dan prasangka pada orang lain, pastikan untuk mendiskusikan dampak intoleransi bagi yang mengalaminya. Ajak anak berdiskusi untuk menumbuhkan simpati dan empatinya.
 

4. Libatkan anak berinteraksi dan bersinggungan dengan situasi yang berbeda

4. Libatkan anak berinteraksi bersinggungan situasi berbeda
pxhere.com

Libatkan anak-anak Anda dalam situasi di mana keragaman hadir, seperti di sekolah, tempat kursus, atau bahkan di lingkungan sekitar rumah.

Ajak anak untuk belajar bersama tentang budaya dan tradisi lain, misalnya saja mengenai tentang perayaan agama lain atau tentang bagaimana suku bangsa lain menjalani kehidupan. Pancing anak untuk bercerita tentang pengalaman yang mungkin pernah dijumpai di lingkungan sekitarnya. 

5. Ajarkan anak terbuka dengan perbedaan

5. Ajarkan anak terbuka perbedaan
pixabay.com/RamadhanNotonegoro

Ajarkan tradisi keluarga sendiri kepada anak-anak dan jangan biarkan anak bersikap eksklusif. Arahkan anak untuk bersikap terbuka dalam mengajarkan tentang tradisi yang dimilikinya kepada orang lain.  

Menjadi toleran terhadap perbedaan tidak berarti mengorbankan warisan atau kepercayaan diri sendiri. Kita bisa bangga dan berdiri teguh pada prinsip, sambil terus merayakan perbedaan yang ada di sekitar kita. Dengan mengajarkan tentang toleransi sejak dini, anak memiliki bekal hidup untuk bersosialiasi di masyarakat luas dan memahami bahwa keberagaman ada bukan untuk dijauhi atau disamakan, melainkan untuk diselaraskan dan membuat hidup jadi bermakna. 

Baca Juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!

;