Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
yosi project pop dengan istri dan anak
Instagram.com/aprillamokalu

Intinya sih...

  • Yosi dan Aprilla memilih pendidikan berdasarkan tahap perkembangan anak, dengan prioritas lokasi sekolah yang dekat untuk TK dan SD.

  • Mereka mengharapkan anak tumbuh menjadi pribadi yang berwawasan luas, memiliki kepedulian sosial, dan mampu menerapkan diri dengan baik dalam banyak hal.

  • Penerapan kurikulum IB dilakukan secara bertahap sesuai jenjang, menunjukkan kesadaran akan kebutuhan anak yang berbeda di setiap fase usianya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam beberapa tahun terakhir, perpindahan pola pikir orangtua terhadap pendidikan anak semakin kuat. Bukan hanya melihat dari reputasi sekolahnya saja, tetapi juga apa kurikulum yang dipakai dan bagaimana hal itu dapat membantu perkembangan serta pengembangan diri anak secara menyeluruh.

Pencarian seputar kurikulum International Baccalaureate (IB) pun semakin ramai di internet. Kurikulum IB menjadi salah satu alternatif metode pendidikan berstandar internasional yang holistik.

Salah satu pasangan artis yang memilih kurikulum pendidikan IB untuk anak-anaknya adalah Hermann Josis Mokalu atau yang akrab disapa Yosi dari Project Pop, bersama istrinya, Aprilla Iriani Fahani.

Keduanya secara sadar menerapkan pendidikan dengan kurikulum IB kepada anak mereka, Raina Abigail dan Reuben Mokalu.

IB sendiri dikenal sebagai pemimpin global dalam pendidikan internasional yang berfokus pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan membentuk siswa menjadi warga dunia yang berpengetahuan serta berempati.

Lantas, apa yang membuat Yosi dan Aprilla yakin dengan pilihan ini? Melalui wawancara eksklusif bersama Popmama.com, pasangan ini membongkar alasan, pengalaman, serta keunggulan kurikulum IB yang mereka rasakan langsung pada perkembangan anak-anaknya.

1. Pertimbangan dalam memilih pendidikan untuk anak

Instagram.com/yosimokalu & aprillamokalu

Bagi Yosi dan Aprilla, memilih sekolah dilakukan sesuai "musim" atau tahap perkembangan anak. Untuk tingkat TK dan SD, prioritas utama adalah lokasi yang dekat dengan rumah.

Mereka percaya, bahwa jarak tempuh yang singkat penting agar anak tidak kelelahan di perjalanan dan bisa lebih fokus. Masa SD dianggap sebagai pengenalan terhadap pendidikan formal, di mana anak belajar berkomitmen, berteman, memahami rutinitas, dan mengenal kedisiplinan dasar.

"Kita mikirinnya yang deket sama rumah dulu aja. Karena jarak dari rumah ke sekolah itu juga penting, berapa lama dia ada di dalam kendaraan jadi dia capek atau enggaknya." ungkap Aprilla kepada Popmama.com.

Memasuki SMP, barulah kurikulum IB menjadi pertimbangan serius. Kedua anak mereka memulai jenjang menengah di PSKD Mandiri. Baru kemudian anak pertama Yosi dan Aprilla, Raina Abigail, melanjutkan SMA di United World College of Southeast Asia (UWC SEA) di Singapura yang merupakan almamater tempat Mamanya sekolah dahulu.

Sementara anak kedua mereka, Reuben Mokalu, bersekolah di Gandhi Memorial Intercontinental School (GIMS), salah satu sekolah pertama di Indonesia yang mendapatkan status sebagai sekolah dunia IB.

Salah satu alasan utama memilih sekolah IB adalah stabilitas dan kualitas pengajar yang sudah ada sejak lama.

Aprilla juga menambahkan bahwa dirinya menyukai sekolah dengan guru-guru yang telah lama mengabdi, memahami kurikulum dengan dalam, dan mencintai profesinya sebagai bagian dari hidup, bukan sekadar pekerjaan.

"Saya tuh senang sama sekolah-sekolah yang nggak tergolong baru, yang guru-gurunya itu udah lama. Ada gurunya Raina yang tadinya guru saya. Jadi saya punya reassurance sebagai orangtua bahwa guru-guru itu mengerti they know what they're doing, paham dengan kurikulum yang mereka ajarkan, mengerti dan mereka mencintai pekerjaannya," tambah Aprilla.

2. Bukan sekadar pintar, tapi bagaimana bisa jadi manusia yang berkontribusi

Instagram.com/yosimokalu & aprillamokalu

Yosi dan Aprilla tidak hanya mengejar prestasi akademis semata pada kedua anaknya. Mereka mengharapkan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang berwawasan luas, memiliki kepedulian sosial, dan mampu menerapkan diri dengan baik dalam banyak hal sehingga dapat bermanfaat di tengah masyarakat.

Salah satu aspek pada kurikulum IB yang mereka apresiasi adalah penekanan pada Theory of Knowledge (TOK), yang melatih critical thinking anak.

Melalui TOK, anak-anak diajarkan untuk tidak menerima informasi begitu saja, tapi mempertanyakan, membaca dengan saksama, dan mencari kebenaran.

Selain itu, program seperti project week juga mengajarkan kemandirian, manajemen waktu, dan soft skill penting seperti kerja sama tim.

"Bagaimana dia bisa mengaplikasikan dirinya di dalam society, how to apply themselves well in society, dan mereka juga punya kepedulian sehingga mereka mau membangun (keadaan) di mana pun mereka ditempatkan," sambung Aprilla.

Bagi Aprilla dan Yosi, kesuksesan sejati terletak pada kemampuan seseorang untuk berkolaborasi dengan baik bersama orang lain.

3. Transisi perpindahan ke kurikulum IB yang dimulai secara bertahap

Instagram.com/aprillamokalu

Penerapan kurikulum IB dilakukan secara bertahap sesuai jenjang. Raina mulai mengenyam IB sepenuhnya di SMA saat ia bersekolah di UWC SEA Singapura, sementara Reuben memulai IB sejak SMP di PSKD Mandiri dan semakin mendalam di GIMS.

Keputusan ini diambil setelah melewati masa pengenalan pendidikan formal di SD dengan kurikulum nasional, yang menurut mereka sudah cukup untuk membangun fondasi disiplin dan rutinitas belajar.

Pendekatan bertahap ini menunjukkan kesadaran akan kebutuhan anak yang berbeda di setiap fase usianya.

Selain itu, Yosi juga menambahkan bahwa adanya perubahan besar yang mereka rasakan setelah perpindahan dari kurikulum nasional ke IB seperti bagaimana sikap para pendidik yang terus-menerus membangun trust pada murid.

"Saya ingat, anak saya Reuben juga pernah bilang gurunya itu waktu dia awal masuk encourage dia kalau nggak ngerti boleh bertanya. Anak diajarkan untuk berani nanya. Ini yang cukup beda dengan sekolah sebelumnya," timpal Yosi menambahkan.

Namun baik Yosi maupun Aprilla, keduanya sadar bahwa setiap kurikulum dalam pendidikan anak tentu sudah disusun sedemikian rupa demi memberikan pendidikan terbaik bagi setiap murid. Hanya saja bagi mereka, semua penerapannya akan kembali pada setiap sekolah.

4. Keunggulan kurikulum IB yang sangat dirasakan Yosi dan Aprilla

Instagram.com/yosimokalu & aprillamokalu

Pasangan artis yang sudah menikah selama 21 tahun ini melihat bahwa kekuatan IB terletak pada fleksibilitas dan pengakuan terhadap keunikan setiap anak.

Dalam penjelasannya, Aprilla menambahkan bahwa kurikulum IB yang ditempuh kedua anaknya saat masih pendidikan menengah menggunakan sistem 6 subject dengan pilihan 3 higher dan 3 lower.

Sistem ini yang memungkinkan anak mengeksplorasi dan menonjolkan bidang yang mereka kuasai, tanpa merasa "bodoh" di bidang lain. Ini sangat membantu di usia remaja yang sedang mencari jati diri.

"Seringkali tes-tes itu membuat anak merasa bodoh karena dia nggak bisa, padahal dia nggak bodoh. Mungkin dia pinternya di yang lain. Jadi, kita rasa penggabungan dari subjek-subjek tersebut bisa bantu menonjolkan kelebihan masing-masing anak tanpa merasa dirinya bodoh," tambah Aprilla yang disetujui oleh Yosi.

Menurut keduanya, di masa kritis anak saat memasuki usia remaja, mereka sering bingung menentukan arah.

Nah, adanya kurikulum IB dengan ragam pilihannya ternyata dapat membantu mereka menemukan passion yang sesuai. Apakah di bidang sains, seni, bahasa, atau bisnis.

Pendekatan inilah yang kemudian mengurangi tekanan dan membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan serta sesuai dengan potensi masing-masing anak.

5. Orangtua punya peran penting dalam proses tumbuh kembang anak

Instagram.com/aprillamokalu

Yosi dan Aprilla menekankan bahwa kesuksesan pendidikan anak adalah sinergi antara sekolah dan keluarga di rumah. Mereka percaya, membentuk karakter anak tidak bisa dimulai saat usianya sudah besar, melainkan harus dibangun sejak anak-anak dan remaja.

Di usia kedua anaknya yang kini sudah dewasa, mereka mengaku sangat aktif dalam membangun komunikasi terbuka dan melibatkan anak dalam pengambilan keputusan sejak dini.

Mulai dari hal sederhana dengan menanyakan pendapat dan perasaan anak, mereka ingin kebiasaan inilah yang akan membangun trust yang kuat.

Begitu pula dalam mendidik anak laki-laki, Aprilla sejak kecil sengaja menerapkan sikap hormat, seperti meminta izin untuk janji bertemu, agar putranya kelak tumbuh menjadi pribadi yang menghargai orang lain, termasuk perempuan.

"Satu hal lagi yang aku terapin terutama sama anak laki-laki ku, karena laki-laki itu perlu merasa dihormati dan itu dimulai dari ibunya, dimulai dari rumah. Jadi kalau mau bikin janji sama dia aku tanya dulu, “Dek, I wanna lunch with you. Bisa minta waktu kamu?”. Jadi nggak bisa asal, karena kan mereka juga punya schedule," ujar Aprilla menambahkan.

Apa yang diterapkan Yosi dan Aprilla ini dilakukan secara konsisten dengan tujuan agar kedua anaknya bisa melihat langsung bagaimana saling menghormati dan menyayangi.

"Dari situ dia kayak, “oh my mom tuh menghargai waktu gue” jadi in return dia menghargai waktu kita. Sekaarang jadinya kalau dia mau diskusi apapun sama saya atau Yosi, dia selalu minta izin atau nanya dulu apakah mami ada waktu," tambah Aprilla.

Inilah alasan mengapa Yosi dan Aprilla percaya bahwa sinergi antara sekolah dan orangtua di rumah sangat berperan penting dalam membentuk karakter pada setiap anak.

6. Perkembangan yang dirasakan dari kurikulum IB

Instagram.com/yosimokalu & aprillamokalu

Perkembangan yang paling terlihat dari Raina maupun Reuben yang dirasakan Yosi dan Aprilla adalah tumbuhnya kemandirian dan tanggung jawab atas proses belajar mereka sendiri.

Dari pendidikan yang mereka dapatkan, mereka memahami bahwa kesuksesan adalah hasil dari konsistensi, bukan usaha dadakan.

Selain itu, kemampuan berpikir kritis mereka terasah dengan baik, tidak hanya dalam akademis tapi juga dalam menyikapi informasi sehari-hari dari media sosial atau berita.

Yang tidak kalah penting, melalui berbagai proyek dan community service, kepedulian sosial anak dengan kurikulum ini juga ikut berkembang. Mereka belajar bahwa ilmu pengetahuan harus bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Fondasi karakter inilah yang kini terlihat jelas saat Raina dan Reuben telah dewasa dan tinggal bersama di Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikan di Biola University.

Meski jauh dari orangtua, keduanya tumbuh sebagai pribadi yang terbuka dan tetap menjaga komunikasi yang baik dengan keluarga, ini ditekankan Yosi merupakan berkat pondasi hubungan yang dibangun sejak dini.

7. Pendekatan dari obrolan sederhana, sampai kritis

Instagram.com/yosimokalu & aprillamokalu

Yosi menceritakan momen-momen kecil yang justru berharga, seperti obrolan santai dengan Reuben saat menjemput sang Mama.

Ia mengaku bahwa putranya itu sejak kecil punya hobi yang sama sepertinya dalam olahraga basket. Dari membahas hobi bersama, komunikasi mereka berkembang menjadi diskusi-diskusi mendalam yang lebih kritis.

Nah, kepercayaan yang dibangun sejak kecil inilah yang membuat kedua anak mereka akhirnya merasa nyaman membicarakan hal berat sekalipun.

"Karena kita mulai ngomongin yang nggak penting deh, berdebat soal basket. Tapi karena itu dilakukan berulang-ulang, akhirnya jadi terbiasa dan nyaman untuk saling bercerita," ujar Yosi.

Keterbukaan ini juga berlaku saat anak melihat orangtua berdebat. Yosi dan Aprilla tidak menutup-nutupi, tapi justru memastikan perasaan anak, meminta maaf, dan menjelaskan bahwa orangtua juga tidak sempurna.

"Yang penting adalah kita tidak mengacukan perasaan mereka. Kita make sure mereka keganggu nggak (ketika melihat kita berdebat), abis itu baru kita say sorry," tambah Aprilla.

Pendekatan ini justru memperkuat ikatan dan rasa aman dalam keluarga, sebuah pola yang kini terbawa hingga mereka dewasa dan hidup mandiri.

8. Tantangan saat transisi dari kurikulum Nasional ke IB

Instagram.com/yosimokalu & aprillamokalu

Dari penjelasan Yosi dan Aprilla sebelumnya, keunggulan utama yang dirasakan mereka pada kedua anaknya adalah pendekatan holistik yang mempersiapkan anak untuk dunia nyata, bukan sekadar ujian.

Soft skills seperti manajemen waktu, kerja proyek, berpikir kritis, dan kepemimpinan terintegrasi dalam kurikulum juga sangat membantu anaknya yang kini sudah beranjak dewasa.

Sistem penilaian yang lebih luas juga memberi ruang bagi anak yang memiliki keunggulan di bidang non-akademik, sehingga anak tidak akan merasa bahwa dirinya tidak mampu hanya karena satu pendekatan saja.

Namun, di balik segala keunggulan tersebut, Aprilla sebagai Mama dari Raina dan Reuben mengaku bahwa saat itu ada tantangan yang membuatnya merasa cukup struggling untuk diajarkan pada anak-anaknya.

Aprilla mengaku tantangannya terletak pada tingkat kesulitan dan tuntutan yang tinggi sejak awal. Transisi dari kurikulum biasa ke IB bisa terasa berat bagi anak, maupun orangtua yang mendampingi.

"Di awal-awal sulit banget untuk mereka menyesuaikan dari cara sekolah lama ke kurikulum IB, saya pernah dipanggil ke sekolah, Tapi saya senang saya dipanggil guru. Mereka datang dengan concern yang dialami anak, bukan dengan tuduhan. Mereka bilang, 'how can we help?'," sambung Aprilla.

Ia juga menekankan bahwa dukungan dari guru yang sangat proaktif dan peduli inilah yang membuat tantangan transisi kurikulum bisa diatasi bersama. Guru tidak menghakimi, tapi datang dengan solusi dan tawaran bantuan.

9. Tantangan utama, bagaimana mengajarkan anak displin waktu

Instagram.com/aprillamokalu

Selain perubahan dalam masa peralihan dari kurikulum biasa ke IB, tantang terbesar di awal yang begitu dirasakan Yosi dan Aprilla adalah mengajarkan anak mengatur waktu dan belajar secara konsisten.

Karena banyaknya materi yang anak pelajari dalam kurikulum IB, Aprilla mengaku bahwa sistem last-minute study atau sistem kebut semalam yang mungkin banyak dilakukan pendidikan zaman dulu tidak akan efektif.

Sebagai orangtua yang ikut merasakan masa peralihan kurikulum ini pada anak-anaknya, mereka secara aktif melatih Raina dan Reuben untuk membuat jadwal belajar harian yang terjadwal dengan baik, termasuk menyisipkan waktu istirahat.

"Jadi tantangan aku diawal itu ngajarin schedule, karena aku juga termasuk orang yang ter-schedule. Bagaimana aku mengajarkan mereka untuk menyusun jadwal belajar agar bisa mereka cicil. Justru itu life skill yang bisa mereka pakai dan membuat kita to be able to do everything," ungkap Aprilla.

Keduanya sepakat bahwa pendampingan orangtua sangat berperan aktif, karena kita tidak bisa menyerahkan segalanya ke sekolah. Membantu anak mengatur waktu, mengajarkan disiplin, dan memastikan mereka tidak overwhelmed adalah kunci.

Nah, kehadiran dan dukungan yang diberikan Yosi dan Aprilla pada kedua anaknya inilah yang membuat anak merasa aman dan termotivasi untuk melalui tantangan yang ada.

10. Pesan Yosi dan Aprilla untuk pada orangtua

Instagram.com/yosimokalu & aprillamokalu

Terakhir, Yosi dan Aprilla kembali menegaskan bahwa rekomendasi mereka bukan semata tentang memilih IB atau tidak sebagai kurikulum pendidikan untuk anak.

Intinya, mereka berpesan bahwa apapun kurikulumnya, orangtua harus terlibat aktif dalam kehidupan dan pendidikan anak. Karena fondasi terkuat seorang anak dibangun di rumah, melalui nilai-nilai, komunikasi, dan kehadiran kita sebagai orangtua.

"I think IB atau tanpa IB, parents should be involved in their kids life. Jangan nyerahin semua ke sekolah dan berharap guru bertanggung jawab atas keberhasilan anaknya," tutup Aprilla berpesan.

Pada intinya, apa yang mereka rasakan saat kedua anaknya mengenyam kruikulum IB adalah hasil yang bisa didapat ketika anak-anak mereka tumbuh dewasa.

Namun, ini semua juga akan berhasil karena sinergi yang sejalan antara sekolah dan orangtua. Jadi, prioritaskan anak, dampingi proses belajarnya, dan bangun hubungan yang terbuka untuk mencapai keberhasilan yang seutuhnya.

Pengalaman Yosi Project Pop dan istrinya, Aprilla, membuktikan bahwa kesuksesan pendidikan adalah hasil kolaborasi antara kurikulum yang tepat, dukungan sekolah yang solid, dan yang terpenting, peran aktif serta kasih sayang orangtua di rumah.

Kurikulum IB, dengan segala keunggulannya, menjadi wadah yang efektif untuk menggali potensi dan membentuk karakter anak, ketika diiringi dengan pondasi nilai keluarga yang kuat.

Kini, keduanya sudah merasakan buah dari penerapan tersebut yang terlihat pada Raina dan Reuben yang sukses menjalani pendidikan tinggi di Amerika Serikat dengan kemandirian dan kedekatan keluarga yang tetap terjaga.

Bagaimana menurut Mama, apakah tertarik mengikuti jejak perjalanan Yosi dan Aprilla dalam memberikan pendidikan kurikulum IB pada anak-anaknya?

Mengenal Kurikulum IB

Apa itu kurikulum International Baccalaureate (IB)?

International Baccalaureate (IB) adalah kurikulum internasional yang holistik. Fokus pada pengembangan karakter anak, kemampuan berpikir reflektif, kreatif, mandiri, dan mengembangkan keterampilan sosial siswa.

Bagaimana mengatasi tantangan periode adaptasi saat anak pindah ke sekolah IB?

Bangun komunikasi 3 sisi, yaitu anak, orangtua, dan pihak sekolah. Temukan kelemahan atau kesulitan anak, berikan latihan dan pendampingan. Latihan bertujuan untuk mempermudah anak dalam menghadapi segala kondisi dan tantangan.

Apakah kurikulum IB cocok untuk Gen Alpha?

Orang tua yang menginginkan anaknya mampu berpikir independen, kreatif, dan memiliki karakter kuat sering memilih IB

Editorial Team