Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Kolaborasi Kurikulum Global-Lokal Bentuk Karakter Anak

Venue acara
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana
Intinya sih...
  • Pemilihan pendidikan anak kini tak hanya soal sekolah bagus, tetapi juga bagaimana lingkungan belajar membentuk cara berpikir dan sikap anak
  • Kolaborasi kurikulum global-lokal memastikan anak belajar sesuai standar internasional sekaligus memahami nilai sosial dan budaya Indonesia
  • Dengan menanamkan nilai karakter dan sosial sejak prasekolah, pendekatan ini membentuk anak Indonesia yang siap bersaing secara global sekaligus peduli dengan lingkungannya.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat memilih pendidikan untuk anak, Mama tidak hanya memikirkan sekolah mana yang bagus, tetapi juga lingkungan seperti apa yang akan membentuk cara anak berpikir dan bersikap.

Misalnya, apakah anak akan terbiasa menyampaikan pendapat, belajar bekerja sama dengan teman yang beragam, sekaligus tetap memahami nilai dan budaya yang ia temui di rumah dan lingkungan sekitar, atau bahkan sudah mulai hidup di dunia yang makin cepat berubah, di mana kemampuan berpikir kritis dan punya daya saing menjadi kunci untuk siap menghadapi masa depan.

Kebutuhan akan pendidikan yang mampu menggabungkan wawasan global dengan nilai lokal inilah yang menjadi fokus media briefing yang digelar oleh Wellington College Independent School Jakarta pada Selasa, 15 Januari 2026, di Jakarta.

Dalam forum tersebut, sejumlah narasumber membagikan pandangan mereka mengenai pengembangan pendidikan jangka panjang dan kolaborasi lintas budaya, di antaranya:

  • Melissa Meyers selaku Founding Head of School Wellington College Independent School Jakarta

  • Tan Wee Han selaku Governor and Chief Executive Officer Wellington College Education Singapore Group (WCESG)

  • Tommy Suryopratomo selaku pembina yayasan Wellington College Independent School Jakarta

Berikut Popmama.com ulas kolaborasi kurikulum global–lokal dalam pendidikan Indonesia.

Table of Content

1. Kurikulum global dan lokal dirancang melalui kolaborasi pendidik lintas negara

1. Kurikulum global dan lokal dirancang melalui kolaborasi pendidik lintas negara

Melissa Meyers, founding fead of School Wellington College Independent School Jakarta.jpg
Dok. Praxis

Dalam sesi tanya jawab, Melissa Meyers menjelaskan bahwa kurikulum global yang diterapkan tidak "diimpor" secara utuh dari luar negeri, melainkan disusun dengan mengacu pada standar pendidikan Inggris dan Indonesia.

Proses penyusunan kurikulum ini melibatkan kolaborasi antara pendidik lokal dan internasional, baik dari Indonesia maupun Inggris.

"We look to the children and make sure that we adding a knowledge and understanding and skills"

Hal ini dilakukan untuk memastikan pembelajaran yang dirancang tidak hanya memenuhi standar global, tetapi juga relevan dengan kebutuhan anak Indonesia dari sisi pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman terhadap lingkungan sosialnya.

Melalui kolaborasi ini, kurikulum yang dihasilkan mengadopsi metode pembelajaran inquiry-based learning atau pembelajaran berbasis rasa ingin tahu, pendekatan yang umum digunakan dalam sistem pendidikan Inggris, namun disesuaikan dengan konteks Indonesia.

Anak didorong untuk aktif bertanya, mengeksplorasi, dan memahami materi melalui pengalaman langsung, bukan sekadar menerima informasi secara pasif.

2. Kurikulum memadukan nilai global dan lokal untuk kesejahteraan anak

Tan Wee Han, governor and chief executive officer Wellington College Education Singapore Group (WCESG) .jpg
Dok. Praxis

Salah satu aspek penting dalam kolaborasi kurikulum global-lokal adalah bagaimana nilai-nilai dari kedua lingkungan diintegrasikan untuk mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.

Dalam hal ini, kesadaran akan kesehatan mental dan pencegahan bullying turut diadaptasi dalam konteks pendidikan Indonesia.

Melissa Meyers menyampaikan bahwa aspek kesejahteraan psikologis anak kini menjadi bagian dari kurikulum sejak usia dini.

"We teach them how to put words on those feelings"

Pendekatan ini mencerminkan kolaborasi antara standar pendidikan global yang menekankan student well-being dengan kebutuhan lokal di Indonesia, di mana isu kesehatan mental dan bullying mulai mendapat perhatian serius dari orangtua.

Integrasi nilai global tentang kesejahteraan mental ini diselaraskan dengan nilai lokal Indonesia yang menekankan kepedulian sosial dan empati.

Anak tidak hanya diajarkan untuk mengenali perasaannya sendiri, tetapi juga memahami dan menghargai perasaan orang lain, sebuah fondasi penting dalam membangun karakter anak Indonesia yang siap bersaing namun tetap memiliki kepedulian sosial.

3. Nilai karakter hasil kolaborasi global-lokal untuk persiapan masa depan

Tommy Suryopratomo, pembina yayasan Wellington College Independent School Jakarta.jpg
Dok. Praxis

Kolaborasi kurikulum global-lokal tidak hanya berhenti pada penyesuaian metode pembelajaran atau integrasi kesejahteraan siswa, tetapi juga mencakup penanaman nilai karakter yang mempersiapkan anak menghadapi tantangan masa depan.

Tantangan seperti perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan dunia yang semakin tanpa batas membuat kesiapan anak perlu dibentuk sejak usia dini.

Namun menurut pembahasan dalam forum tersebut, kesiapan ini tidak bisa dibentuk secara instan, melainkan melalui penanaman nilai yang dilakukan secara konsisten sejak awal.

Tommy Suryopratomo menyampaikan bahwa pendidikan perlu dipahami sebagai upaya jangka panjang.

Mengingat daya saing sumber daya manusia Indonesia yang masih perlu ditingkatkan di tengah dunia yang semakin tanpa batas, anak-anak Indonesia perlu dibekali dengan nilai dan keterampilan yang akan membantu mereka menghadapi tantangan di masa depan.

Dalam paparannya, Tommy menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai seperti rasa ingin tahu, keberanian untuk menyampaikan gagasan, kemampuan berpikir kritis, dan integritas yang dipadukan dengan penekanan kuat pada kepedulian sosial dan empati, sesuai dengan karakter budaya Indonesia.

4. Global-lokal untuk generasi mendatang

Sesi dokumentasi acara
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Penanaman nilai sosial sejak dini menjadi perhatian khusus, mengingat sikap empati dan kepedulian akan lebih sulit dibentuk ketika anak sudah dewasa.

Dengan memulai dari usia prasekolah, kolaborasi nilai global dan lokal ini diharapkan dapat melahirkan anak Indonesia yang tidak hanya memiliki integritas dan keterampilan untuk bersaing secara global, tetapi juga tetap memiliki jiwa sosial yang baik.

Intinya Ma, pendekatan kolaborasi kurikulum global–lokal ini menunjukkan bahwa pendidikan berkualitas bukan hanya soal mengadopsi standar internasional, tetapi juga tentang memastikan anak tetap terhubung dengan nilai dan budaya tempat ia tumbuh, seperti yang diterapkan di Wellington College Independent School Jakarta.

Jadi, sekolah seperti apa yang menurut Mama ideal untuk menggabungkan wawasan global dengan nilai-nilai lokal Indonesia?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More

7 Ucapan Rahasia Tak Terucap Anak, Orangtua Wajib Tahu

16 Jan 2026, 12:07 WIBBig Kid