- Belajar bahwa setiap aktivitas ada nilainya
- Merasa aman karena rutinitasnya konsisten
- Pelan-pelan mengaitkan kebiasaan dengan makna
Kurikulum Belajar Anak di Rumah, Orangtua sebagai Madrasah Pertama

- Memahami konsep bergantung pada Tuhan YME dalam keseharian
- Mengajarkan dan mengamalkan dalil-dalil
- Pengetahuan umum sejak dini, mengenalkan dunia dengan cara alami
Ada satu hal yang sering kita lupakan dalam hiruk pikuk parenting modern. Sebelum anak mengenal sekolah, guru, atau buku pelajaran, orangtualah madrasah pertamanya. Dari rumah, anak pertama kali belajar tentang doa, sikap, rasa aman, dan makna hidup.
Sebuah unggahan di TikTok memperlihatkan bagaimana sepasang orangtua menyusun “kurikulum rumah” sederhana untuk anak mereka. Tidak mewah, tidak rumit, hanya sebuah tabel berisi hal-hal yang ingin mereka kenalkan secara bertahap dari doa sehari-hari, dalil, pengetahuan umum, dan kisah Al-Qur’an.
Bukan untuk mengejar anak agar cepat bisa, tapi agar orangtua tidak berjalan tanpa arah. Simak inspirasi selengkapnya di Popmama.com sebagai orangtua madrasah pertama, yuk buat kurikulum belajar anak di rumah!
Kurikulum Rumah Agar Anak Tetap On Track

Kurikulum rumah seperti ini bukan tentang membuat anak lebih cepat dari teman-temannya. Bukan juga soal anak harus hafal banyak hal dalam waktu singkat.
Kurikulum ini lebih mirip kompas pengasuhan. Orangtua tahu apa yang ingin dikenalkan, apa yang ingin ditanamkan, dan nilai apa yang ingin dibiasakan di rumah.
Dengan menuliskannya, orangtua jadi lebih sadar bahwa mendidik anak tidak hanya soal di sekolah, tapi tentang kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.
1. Doa Sehari-hari

Dalam kurikulum tersebut, doa dibaca setiap pagi dan sore, serta doa-doa yang berkaitan dengan aktivitas harian. Ini bukan soal anak harus hafal cepat, tapi tentang mengenalkan konsep bergantung pada Tuhan YME dalam keseharian.
Anak yang terbiasa mendengar doa:
Orangtua membacakan doa sebelum tidur setiap malam. Anak mungkin belum ikut membaca, tapi suatu hari ia akan bertanya, lalu meniru.
Dalam unggahannya, Mama @zyanfalda membagi kurikulum doa yang harus dikuasai sejak umur 3,5 tahun sebagai berikut:
1. Dibaca setiap pagi dan sore
- Sholawat nabi
- Doa Nabi Yunus
- Doa pagi dan sore
- Doa raja isgtighfar
- Doa untuk orangtua
- Doa mohon masuk surga
- Doa mencari ilmu
- Doa mohon ke Mekah
- Doa mohon ketetapan iman
- Doa mohon ilham yang baik
- Doa Nabi Musa
- Doa mohon rezeki
- Doa kebaikan dunia akhirat
- Doa Asmaul Husna 1-50
2. Doa Sehari-hari
- Doa makan dan setelah makan
- Doa tidur dan bangun tidur
- Doa masuk kamar mandi dan keluar kamar mandi
- Doa keluar rumah
- Doa naik kendaraan
- Doa setelah mendengar adzan
- Doa wudhu dan setelah wudhu
- Doa ketika mendengar petir
- Doa masuk rumah
- Doa memakai pakaian
Selain itu, surat-surat dalam Juz Amma juga wajib dihafalkan.
2. Mengajarkan dan mengamalkan dalil-dalil

Menariknya, dalil yang diajarkan bukan hanya soal ibadah, tapi juga sikap hidup seperti tidak marah, bersyukur, tersenyum, bersedekah, dan bersungguh-sungguh.
Ini penting karena anak tidak hanya diajarkan apa yang harus dilakukan, tapi juga kenapa itu dilakukan.
Misalnya:
- Anak diajari untuk berbagi, lalu orangtua mengaitkannya dengan dalil sedekah
- Anak diingatkan untuk menahan marah, sambil diceritakan bahwa Islam mengajarkan menahan amarah
Anak belajar bahwa nilai-nilai ini bukan sekadar aturan rumah, tapi bagian dari keyakinan. Untuk itu, Mama Zyan membagikan dalil dan artinya yang perlu dihafalkan:
1. Dalil menuntut ilmu
2. Dalil mengamal
3. Dalil infaq
4. Dalil Shodaqoh
5. Dalil niat
6. Dalil Sholat
7. Dalil doa
8. Dalil jangan marah
9. Dalil Islam
10. Dalil senyum
11. Dalil mempersungguh
12. Dalil bersyukur
3. Pengetahuan umum sejak dini, mengenalkan dunia dengan cara alami

Anatomi, antariksa, dan sains mungkin terdengar “berat”, tapi pada praktiknya, ini sangat sederhana.
Di usia 1,5 tahun, belajar anatomi bisa berarti:
- Mengenal nama bagian tubuh saat mandi
- Menunjuk mata, hidung, tangan
Belajar antariksa bisa sesederhana melihat bulan, mengunjungi museum, membaca buku bergambar planet untuk menumbuhkan rasa ingin tahunya.
Kenalkan anak pada organ-organ yang mengendalikan tubuh lewat buku-buku yang menarik atau sekadar dari internet. Mama dan Papa juga bisa mengajak anak melakukan eksperimen sederhana di rumah.
4. Kisah Al-Qur'an dan para Nabi

Cerita adalah bahasa anak. Kisah para nabi menjadi jembatan untuk mengenalkan keberanian, kesabaran, dan ketaatan.
Metode yang bisa diterapkan adalah lewat:
- Cerita singkat sebelum tidur
- Fokus pada satu nilai, bukan seluruh kisah
- Mengulang cerita yang sama beberapa hari
Anak belajar paling kuat melalui cerita. Kisah para nabi membantu anak mengenal keberanian, kesabaran, ketaatan, dan kejujuran.
Memulai dengan cara yang paling sederhana

Menuliskan hal-hal ini dalam bentuk kurikulum, bahkan sesederhana Excel, membantu orangtua:
- Lebih konsisten
- Tidak bingung harus mengajarkan apa
- Tidak merasa “anak saya kok belum bisa apa-apa”
Kurikulum ini bukan jadwal ketat, tapi pengingat arah dan menjadi target bagi anak. Menjadi madrasah pertama bukan berarti orangtua harus tahu segalanya. Justru anak belajar paling banyak dari usaha dan keteladanan.
Sebagai orangtua madrasah pertama, yuk buat kurikulum belajar anak di rumah seperti yang sudah dicontohkan melalui gaya parenting @zyanfalda melalui akun media sosialnya.

















