7 Gangguan Saluran Cerna yang Sering Terjadi pada Anak

Perhatikan ya, Ma! Anak-anak usia sekolah rentan terkena penyakit ini

3 Maret 2020

7 Gangguan Saluran Cerna Sering Terjadi Anak
Freepik

Anak-anak yang telah memasuki usia sekolah memiliki banyak keinginan baru terutama rasa penasarannya terhadap makanan.

Banyak makanan-makanan yang di jual bebas di sekolah yang menarik perhatiannya. Namun, makanan-makanan tersebut belum tentu baik bagi pencernaannya.

Menurut Dokter Spesialis Anak dan Konsultan Gastroenterologi Hepatologi Anak Rumah Sakit Pondok Indah, dr. Frieda Handayani K.,Sp.A(K), saluran pencernaan terutama usus merupakan otak kedua manusia. Hal ini karena otak dan saluran cerna saling memiliki kaitan.

Usus sendiri diketahui memiliki 70-80 persen antibodi yang berpengaruh pada tubuh. Oleh sebab itu, jika ingin sehat, makanan yang dikonsumsi harus sehat pula.

Dengan memiliki saluran cerna yang sehat, organ tubuh akan menyerap nutrisi, memaksimalkan fungsi imun, serta menyeimbangkan mikrobiota. Namun apabila saluran cerna bermasalah, maka beberapa fungsi tadi juga akan ikut terganggu.

Dalam media gathering RSPI di Jakarta pada Kamis (27/2), dr. Frieda memaparkan ada sekitar 7 gangguan saluran cerna yang sering terjadi pada anak khususnya usia sekolah.

Berikut Popmama.com rangkum penjelasannya.

1. Diare

1. Diare
Freepik

dr. Frieda menjelaskan, biasanya diare ditandai dengan frekuensi buang air besar (BAB) yang sering atau lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi feses yang cenderung cair.

Ketika tubuh mengalami diare, frekuensi buang air besar yang sering disertai muntah dapat menyebabkan tubuh kekurangan cairan. Hal ini tentu dapat menyebabkan dehidrasi.

Dehidrasi dapat terjadi dengan intensitas yang beragam baik ringan, sedang hingga berat.

Diare dapat disebabkan karena berbagai faktor, antara lain infeksi karena virus, bakteri dan parasit, keracunan makanan, malabsorpsi, gangguan kekebalan tubuh yang disebabkan oleh aids serta alergi.

Menurut World Health Organization (WHO), terdapat lima cara untuk menangani diare, yaitu:

  • Berikan oralit sesuai dosis yang dianjurkan,
  • tetap berikan makanan dan ASI tiap dua jam sekali,
  • berikan suplemen zinc selama 10 hari,
  • berikan antibiotik selektif sesuai dengan petunjuk dokter,
  • berikan informasi pada anak agar tidak terjadi kasus yang sama.

2. Konstipasi

2. Konstipasi
Freepik

Konstipasi pada anak ditandai dengan frekuensi BAB kurang dari 2 kali dalam seminggu. Anak biasanya akan mengeluh sakit ketika mengedan serta feses memiliki konsistensi keras dan bulat.

Konstipasi biasanya terjadi karena perubahan pola makan anak yang mulai berubah dan kebiasaan anak yang sengaja menahan buang air besar. Kebiasaan ini akan menyebabkan feses dalam usus bertumpuk sehingga membuat ukurannya semakin besar dan lebih keras.

Cara yang dapat dilakukan agar tidak terjadi konstipasi pada anak bisa berupa clean-out treatment, memberikan obat rumatan atau obat pelancar, pijat perut, atau toilet training, serta konsultasikan ke dokter spesialis anak untuk mengetahui apa penyebabnya.

Editors' Picks

3. Gastroesophageal reflux disease (GERD)

3. Gastroesophageal reflux disease (GERD)
Freepik

Gastroesophageal reflux disease atau GERD dapat terjadi pada siapa saja termasuk bayi dan anak-anak.

Penyebab yang terjadi pada bayi diakibatkan karena otot di ujung kerongkongannya belum sempurna dan belum cukup kuat.

Sedangkan pada anak, terjadi tekanan dari bawah kerongkongan yaitu otot kerongkongan yang melemah.

Kemungkinan adanya intoleransi pada makanan, adanya peradangan atau eosinophilic esophagitis, dan terjadinya kelainan anatomi lambung.

Beberapa cara untuk menangani GERD, yaitu:

  • Buat posisi kepala anak lebih tinggi dari perut,
  • posisikan kepala dengan tegak selama 2 jam setelah makan,
  • berikan anak makanan dengan porsi sedikit namun sering. Namun, perhatikan jangan sampai anak terlalu banyak makan,
  • batasi anak mengonsumsi minuman bersoda, makanan berlemak dan gorengan, serta kafein,
  • Kemudian lakukan olahraga teratur.

4. Intoleransi Laktosa

4. Intoleransi Laktosa
Freepik

Laktosa adalah bentuk disakarida dari karbohidrat yang dapat dipecah menjadi galaktosa dan glukosa. Laktosa banyak terdapat di ASI dan susu.

Sedangkan intoleransi laktosa merupakan gejala klinis akibat tidak terhidrolisnya laktosa secara optimal di dalam usus halus akibat enzim laktase yang berkurang.

Gejala yang ditimbulkan akibat intoleransi laktosa ialah, diare, kembung, nyeri perut, muntah, sering flatus/kentut, ada ruam merah di sekitar anus, serta tinja yang berbau asam.

Ketika anak mengalami intoleransi laktosa, sebaiknya kurangi asupan susu, keju, es krim, cokelat, hingga roti.

5. Radang usus buntu

5. Radang usus buntu
Freepik

Radang usus buntu merupakan peradangan yang terjadi di apendiks.

Radang usus buntu memiliki gejala yang berpindah-pindah, biasanya terasa nyeri pada ulu hati kemudian perut bagian kanan bawah disertai demam sekitar 37,5°C. Selain itu, radang usus buntu juga ditandai dengan muntah-muntah serta anoreksia

Ketika anak sudah menunjukkan tanda-tanda itu, segera bawa anak untuk melakukan pemeriksaan lab untuk mengetahui jumlah dan jenis dari leukosit yang ia miliki.

6. Radang lambung

6. Radang lambung
Freepik

Radang lambung atau gastritis adalah penyakit pada lambung yang disebabkan karena adanya peradangan di dinding lambung.

Lambung memiliki lapisan dinding lambung yang berfungsi melindungi bagian lambung dari asam lambung dan enzim pencernaan atau pepsin. Bila lapisan dinding lambung ini rusak, maka lambung akan rentan mengalami peradangan.

Faktor yang menyebabkan terjadinya radang lambung diantaranya karena obat penurun panas seperti ibuprofen dan sejenisnya, terjadinya infeksi bakteri, terdapat infeksi berat seperti radang otak, stres, serta makan makanan yang terlalu pedas, berlemak dan berbumbu.

Penanganannya bisa menggunakan obat seperti antasida dan PPI sesuai anjuran dokter.

7. Irritable bowel syndrome (IBS)

7. Irritable bowel syndrome (IBS)
Freepik

Irritable Bowel Syndrome atau IBS adalah gangguan jangka panjang di sistem pencernaan yang menyerang usus besar untuk jangka waktu lama dengan gejala yang sering kambuh.

IBS dapat membuat saraf lebih sensitif pada saluran pencernaan. IBS dapat berupa diare dan konstipasi.

Cara pencegahan yang dapat dilakukan agar tidak terjadi IBS yaitu, makan makanan yang seimbang seperti sayur dan buah serta gandum utuh, banyak minum air putih, makan dengan porsi kecil namun sering, buat catatan makanan, serta makan tepat waktu.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.