Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bolehkah Anak Dikerokin saat Masuk Angin? Ini Faktanya
Popmama.com/Putri Syifa N/AI (anak dikerokin)
  • Kerokan tidak disarankan untuk anak karena “masuk angin” bukan diagnosis medis, dan tindakan ini tidak terbukti mengeluarkan angin atau mengobati penyebab keluhan.
  • Bekas merah setelah kerokan berasal dari gesekan atau tekanan yang merusak pembuluh darah kecil, sehingga dapat menimbulkan petechiae, purpura, atau memar pada kulit anak.
  • Saat anak tidak enak badan, utamakan cairan, istirahat, pakaian nyaman, dan pemantauan gejala; segera periksakan bila lemas berat, sulit minum, sesak, kejang, atau memburuk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kerokan menjadi salah satu cara tradisional yang masih sering dilakukan ketika tubuh terasa tidak enak badan. Kerokan ini biasanya dilakukan oleh dewasa, tetapi sebagian orangtua mungkin pernah memberikan kerokan kepada anak ketika si Kecil dianggap mengalami “masuk angin”.

Namun, apakah kerokan benar-benar bisa mengeluarkan “angin” dari tubuh? Secara medis, tidak ada bukti bahwa semakin merah bekas kerokan berarti semakin banyak angin yang keluar. Bahkan, perubahan warna kulit setelah kerokan justru berkaitan dengan cedera pada pembuluh darah kecil akibat gesekan atau tekanan.

Berikut Popmama.com rangkum fakta medis yang perlu diketahui sebelum mengerok anak.

1. Kerokan tidak disarankan untuk anak

Popmama.com/Putri Syifa N/AI

Sebagai informasi, penyakit “masuk angin” sendiri menurut Kementerian Kesehatan RI bukan istilah medis yang digunakan untuk diagnosis suatu penyakit. Istilah tersebut biasanya digunakan masyarakat untuk menggambarkan kumpulan gejala seperti badan tidak enak, lemas, pusing, mual, kembung, atau gejala yang menyerupai flu. Penyebabnya pun dapat beragam.

Karena itu, kerokan tidak dapat dianggap sebagai pengobatan untuk “mengeluarkan angin” dari tubuh.

Namun, untuk anak sendiri hal ini tidak disarankan. Alasannya karena kemerahan pada kerokan bukan tanda “angin” keluar melainkan luka gesekan untuk kulit anak yang masih sensitif.

2. Bekas kerokan merah bukan tanda angin keluar

Popmama.com/Putri Syifa N/AI

Sudah disinggung singkat sebelumnya kalau warna merah yang muncul setelah kerokan bukan berarti “angin” keluar melalui kulit. Dalam literatur medis, praktik coining atau kerokan memang diketahui dapat menghasilkan petechiae, purpura, atau memar akibat gesekan kuat pada kulit.

Jurnal Journal of Pediatric Health Care menjelaskan bahwa memar terjadi ketika trauma tumpul menyebabkan pembuluh darah di bawah kulit mengalami kerusakan sehingga darah keluar dan terkumpul di jaringan kulit. Pada praktik coining, koin atau benda sejenis digosokkan dengan kuat hingga menimbulkan perubahan pada kulit.

Jadi, semakin merah bekas kerokan bukan berarti semakin banyak “angin” yang keluar, melainkan dapat menunjukkan semakin kuatnya tekanan atau gesekan yang diberikan pada kulit.

3. Kulit anak perlu mendapat perhatian ekstra

Pexels/KseniaChernaya

Kulit anak masih rentan mengalami iritasi dan cedera akibat gesekan yang terlalu kuat. Praktik coining dapat menghasilkan pola seperti memar pada kulit anak. Bahkan, tinjauan terbaru secara medis menyebut bahwa praktik tradisional seperti coining dapat menyebabkan purpura, ekimosis, hingga lesi seperti luka bakar, tergantung teknik yang digunakan.

Website California Childcare Health Program dari University of California San Francisco mencatat sejumlah komplikasi coining yang pernah dilaporkan, termasuk luka bakar, memar, perdarahan, hingga keracunan akibat bahan tertentu yang digunakan bersama praktik tersebut.

4. Kerokan tidak mengobati penyebab anak demam atau sakit

Pexels/Gustavo Fring

Jika anak mengalami demam, kerokan tidak dapat menggantikan penanganan terhadap penyebab demam tersebut. Demam sendiri merupakan gejala, bukan penyakit yang berdiri sendiri.

Kemenkes RI menyarankan beberapa langkah sederhana ketika anak demam, seperti memastikan anak beristirahat dan cukup minum. Kemenkes juga menyebut kompres hangat dapat dilakukan, meski bukan merupakan terapi utama.

Fokus utama sebaiknya adalah membuat anak nyaman dan memberikan obat penurun demam seperti paracetamol atau ibuprofen bila anak tampak tidak nyaman, dengan dosis yang sesuai.

5. Lantas, apa yang bisa dilakukan saat anak tidak enak badan?

Pexels/Tima Miroshnichenko

Daripada mengerok tubuh anak yang khasiatnya sudah dibantah secara medis, lebih baik membantu si Kecil dengan memberikan cukup cairan, memastikan waktu istirahat, mengenakan pakaian yang nyaman, serta memantau gejalanya.

Namun, jika anak demam atau sakit dan tampak sangat lemas, sulit minum, mengalami tanda dehidrasi, sesak napas, kejang, sulit dibangunkan, atau kondisi semakin memburuk, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter.

Kesimpulannya, kerokan bukan cara untuk mengeluarkan angin dari tubuh anak. Bekas merah yang muncul merupakan respons kulit terhadap gesekan dan dapat berupa petechiae atau memar. Karena kulit anak lebih rentan, sebaiknya pilih perawatan yang lebih lembut dan sesuai dengan penyebab keluhannya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article