- Lompat Navigasi Pemrogram Cilik
- Olahraga Komputasional
- Jejak Lincah Batang dan Daun
- Zig-zag Sortir Koin
- Jump and Toss Block Coding
- Balance Turtle Block Coding
Festival Berpikir Komputasional 2026, Padukan Literasi Fisik dan Berpikir Logis Anak

- Festival Berpikir Komputasional 2026 digelar di Kudus sebagai penutup pelatihan Djarum Foundation untuk 11 SD/MI Batch 2, melibatkan 550 peserta dari 22 sekolah.
- Peserta mengikuti lomba unplugged dan plugged yang mengasah strategi, pemecahan masalah, coding, Scratch, Bebras, serta robotika kreatif untuk siswa kelas 4-6.
- Festival pertama kali memadukan literasi fisik, melibatkan orang tua dalam lomba, dan didukung Kemendikdasmen sebagai ruang praktik coding serta AI pilihan di sekolah.
Festival Berpikir Komputasional 2026 yang diselenggarakan oleh Djarum Foundation resmi digelar di GOR Badminton Djarum Jati, Kudus, pada hari Minggu (20/9/2026).
Festival ini menjadi kegiatan penutup dari serangkaian pelatihan dan pendampingan yang dilaksanakan oleh Bakti Pendidikan Djarum Foundation kepada 11 SD/MI Batch 2 Kabupaten Kudus pada tahun 2026.
Pelatihan telah dimulai sejak tahun 2024 dan telah memberi dampak positif pada total 22 SD/MI di Kabupaten Kudus. Menariknya, acara ini tidak hanya mengajak pesertanya untuk berpikir semata, tapi juga turut melibatkan literasi fisik untuk pertama kalinya agar anak-anak aktif bergerak.
Untuk pembahasan selengkapnya, berikut Popmama.com siap membahas informasi mengenai Festival Berpikir Komputasional 2026.
1. Daftar lomba yang dihadirkan di Festival Berpikir Komputasional 2026

Popmama.com/Sania Chandra Festival Berpikir Komputasional 2026 dimulai sejak pukul 7 pagi dengan diikuti oleh 550 peserta dari 22 SD/MI yang berbeda. Terdapat dua kategori perlombaan yang diikuti oleh para peserta tingkat SD, yaitu Lomba Unplugged dan Lomba Plugged.
Lomba Unplugged
Lomba Plugged
- Animasi Scratch
- Story Telling Scratch
- Soal Bebras Si Kecil
- Soal Bebras Siaga
- Creative Robotics
2. Murid SD diajak menciptakan robot bersama tim

Popmama.com/Sania Chandra Pada dasarnya, lomba-lomba yang dihadirkan di acara ini berfokus pada strategi dan pemecahan masalah. Selain berpikir secara individu, ada pula lomba Creative Robotics yang ditunjukkan untuk murid kelas 4 sampai 6 SD/MI.
Lomba ini menantang murid untuk merancang dan membangun robot kreatif sebagai solusi terhadap permasalahan literasi fisik yang ditemukan di lingkungan sekolah atau madrasah masing-masing.
Murid perlu membentuk tim yang terdiri dari 3 sampai 5 orang dan didampingi oleh 1 guru. Tim dituntut mempresentasikan rancangan hardware dan software robot yang telah mereka bentuk dalam waktu 5 menit di hadapan dewan juri.
Melalui kegiatan tersebut, para murid belajar untuk memanfaatkan keterampilan berpikir komputasional dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan sederhana yang berkaitan dengan literasi fisik melalui sebuah robot.
3. Hadirkan literasi fisik untuk pertama kalinya

Popmama.com/Sania Chandra Meskipun berpikir komputasional erat kaitannya dengan teknologi, koding, dan kecerdasan buatan (AI), namun di tahun ini untuk pertama kalinya hadir konsep baru berupa keterlibatan literasi fisik.
Konsep ini membuat para peserta lomba perlu bergerak secara aktif perlu diselesaikan. Konsep literasi fisik hadir demi mendorong para murid untuk gemar bergerak sekaligus merasa yakin dalam melakukan berbagai bentuk gerakan fisik.
Harapannya, dapat tercipta ketertarikan dalam diri anak untuk bergerak secara aktif dan menciptakan kualitas hidup yang lebih sehat.
4. Tak hanya anak, orangtua juga diajak mengikuti lomba

Popmama.com/Sania Chandra Festival Berpikir Komputasional 2026 tidak hanya menghadirkan lomba yang dikhususkan untuk murid saja, tetapi juga turut melibatkan kekompakan bersama orangtua. Dalam lomba Olahraga Komputasional dan Lompat Navigasi Pemrogram Kecil, diperlukan dua pemain yang terdiri dari murid dan wali murid.
Melalui Lompat Navigasi Pemrogram Kecil, murid belajar untuk melakukan debugging jika terjadi kesalahan pada algoritma buatannya yang dijalankan langsung oleh wali murid. Debugging adalah mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahan dalam algoritma atau program komputer.
Sementara itu, Olahraga Komputasional menjadi lomba yang memerlukan kekompakan antara murid dan wali murid dalam menjalankan instruksi secara bersamaan.
5. Dihadiri oleh Dirjen PAUD Dikdas dan PNFI

Popmama.com/Sania Chandra Acara ini menjadi salah satu wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan sekaligus mempraktikkan kemampuan coding dan kecerdasan artifisial (AI) yang telah mereka pelajari di sekolah.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, mengatakan bahwa penyelenggaraan festival tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mulai menerapkan coding dan kecerdasan artifisial sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah.
“Kita mendukung acara ini karena ini sejalan dengan apa yang sudah dicanangkan ya. Karena di Kementerian kita mulai tahun pelajaran, tahun 25-26 kita sudah mencanangkan mapel pilihan coding dan kecerdasan artifisial,” kata Gogot saat diwawancarai Popmama.com dalam acara ‘Festival Berpikir Komputasional 2026’ di Kudus, Minggu (20/9/2026).
Coding dan kecerdasan artifisial kini menjadi mata pelajaran pilihan yang dapat dipelajari oleh siswa di sekolah. Kehadiran kegiatan seperti festival ini dapat membantu anak mendapatkan pengalaman langsung untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah mereka pelajari.
“Coding dan kecerdasan artifisial itu sudah menjadi mapel pilihan sekolah. Nah supaya anak-anak lebih termotivasi untuk mengaktualisasikan pelajaran-pelajaran mereka perlu tempat untuk mempraktekkan apa yang sudah mereka pelajari,” lanjutnya.
Festival Berpikir Komputasional 2026 menjadi salah satu kegiatan yang dapat mewadahi kebutuhan tersebut. Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan secara langsung.
Demikian informasi mengenai Festival Berpikir Komputasional 2026. Bagaimana menurut pendapat Mama?


















