Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Penembakan di Sekolah Filipina Tewaskan 3 Nyawa, Pelaku 16 Tahun

3 min read
Penembakan di Sekolah Filipina Tewaskan 3 Nyawa, Pelaku 16 Tahun
Aljazeera.com
Share Article

Aksi penembakan yang terjadi di sekolah Filipina kembali terjadi. Kali ini, penembakan massal tersebut terjadi di sebuah sekolah di Kota Banga, Cotabato Selatan, Filipina selatan, pada Jumat (18/9/2026) kemarin.

Dari pemberitaan media lokal setempat, insiden mengerikan ini merenggut setidaknya tiga nyawa, termasuk terduga pelaku yang masih berusia 16 tahun.

Selain korban tewas, sederta siswa lainnya juga turut mengalami luka akibat insiden berdarah tersebut.

Tentu insiden ini menjadi pukulan berat bagi dunia pendidikan dan keamanan sekolah di Filipina. Di mana deretan kasus penembakan di lingkungan sekolah kembali terjadi dengan pelaku yang statusnya masih pelajar atau remaja.

Melansir dari berbagai sumber, berikut Popmama.com rangkumkan informasi selengkapnya.

  1. 1. Kronologi penembakan

    penembakan di filipina
    Aljazeera.com

    Berdasarkan keterangan Gubernur Provinsi Cotabato Selatan, Reynaldo Tamayo, serta Wali Kota Albert Palencia, pelaku diduga mengakhiri hidupnya sendiri usai menembaki rekan-rekannya.

    Namun, sebelum melancarkan aksinya, remaja yang dikenal humoris itu sempat melontarkan gertakan kepada teman-temannya.

    "Tersangka tadinya duduk di sebelah teman-temannya dan menyuruh mereka pulang 'karena setelah makan siang, saya akan menjalankan rencana saya'. Teman-temannya tertawa karena penembak dikenal suka bercanda," kata Palencia dikutip dari Al-Jazeera..

    Namun, ancaman itu ternyata bukan candaan belaka. Setelah makan siang, pelaku mulai menembaki 10 siswa sebelum ikut terbunuh.

    Meski kepolisian setempat menyatakan situasi telah terkendali, jumlah pasti pelaku yang terlibat masih diselidiki.

  2. 2. Kejadian serupa dalam kurun beberapa bulan terakhir

    penembakan di filipina
    Bbc.com

    Tragedi di Cotabato Selatan ini memperpanjang deretan kelam penembakan sekolah di Filipina yang pelakunya sama-sama masih berstatus pelajar atau remaja.

    Daari informasi yang beredar, motif penembakan yang menelan korban jiwa ini masih belum diketahui pasti. Kepemilikan senjata yang dibawa pelaku juga belum bisa dipastikan.

    Peristiwa ini menjadi kasus ketiga yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, menandakan pola yang mengkhawatirkan di lingkungan pendidikan negara tersebut.

    Pada Agustus lalu, seorang siswa di Zamboanga yang menyiarkan secara langsung detik-detik saat ia membunuh rekannya di dalam kelas sebelum akhirnya bunuh diri.

    Sementara pada Juni di tahun yang sama, insiden serupa menghantam sebuah SMA negeri di Tacloban, Filipina tengah, ketika dua orang siswa melepaskan tembakan yang menewaskan tiga pelajar dan melukai 20 orang lainnya.

    Rangkaian kejadian ini menunjukkan bahwa kekerasan bersenjata di sekolah bukan lagi kasus tunggal, melainkan fenomena yang perlu ditangani secara serius oleh pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

  3. 3. Sorotan ketat terhadap kepemilikan senjata api

    tembakan
    Magnific/jannoon028

    Bukan hanya sekali, berulangnya insiden ini kemudian memicu masyarakat untuk melakukan evaluasi atas kepemilikan senjata api di Filipina.

    Meski pemerintah telah memperketat aturan melalui pemeriksaan latar belakang dan tes psikologis bagi pembeli, peredaran senjata api ilegal di tengah masyarakat masih menjadi ancaman nyata.

    Pemerintah setempat memang telah menggelar simulasi penanganan penembak massal di sekolah-sekolah secara nasional.

    Namun, Tamayo mengingatkan bahwa peran orangtua dalam mengawasi senjata di rumah jauh lebih penting dibanding hanya mengandalkan petugas keamanan sekolah.

    Lebih lanjut, pemerintah juga berharap kerjasama dengan orangtua bahwa keamanan anak-anak kita perlu dimulai dari dalam rumah, bukan semata-mata dari petugas keamanan di sekolah.

    Insiden penembakan di sekolah di Cotabato Selatan ini kembali menjadi alarm keras bagi sistem keamanan sekolah dan pengawasan senjata api di Filipina.

    Tanpa langkah nyata dari pemerintah, sekolah, dan keluarga, kasus serupa berpotensi terus berulang dan merenggut lebih banyak nyawa anak-anak.

    Semoga ada langkah tegas dan cepat yang bisa dilakukan, agar tidak ada kejadian yang sama pada anak-anak lainnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More