Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Mata Anak Sering Menyipit? Bisa Jadi Tanda Kelainan Refraksi

5 min read
Mata Anak Sering Menyipit? Bisa Jadi Tanda Kelainan Refraksi
Popmama.com/Violin Heldina/AI
  • Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 3,6 juta anak Indonesia mengalami kelainan refraksi yang belum terkoreksi, sehingga penglihatan kabur berpotensi mengganggu belajar, bermain, dan kepercayaan diri.

  • Miopia membuat anak sulit melihat jauh, hipermetropia mengganggu penglihatan dekat, sedangkan astigmatisme menyebabkan pandangan buram atau berbayang pada berbagai jarak.

  • Tanda yang perlu diperhatikan meliputi sering menyipitkan mata, duduk dekat televisi, memegang buku terlalu dekat, mengucek mata, sakit kepala, dan sulit fokus; pemeriksaan rutin membantu deteksi dini.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Masalah kesehatan mata pada anak masih menjadi perhatian penting di Indonesia. Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa sekitar 3,6 juta anak Indonesia mengalami kelainan refraksi yang belum terkoreksi.

Kondisi ini terjadi ketika cahaya yang masuk ke mata tidak difokuskan dengan tepat pada retina, sehingga penglihatan menjadi kabur.

Kelainan refraksi sering kali tidak disadari karena anak belum memahami bahwa penglihatannya berbeda dari orang lain. Banyak anak menganggap penglihatan yang buram sebagai hal yang normal sehingga tidak mengeluh kepada orangtua.

Padahal, gangguan penglihatan dapat memengaruhi kemampuan belajar, aktivitas bermain, hingga rasa percaya diri anak di lingkungan sosialnya.

Lantas, apa saja jenis-jenis kelainan refraksi? Berikut Popmama.com telah merangkum beberapa jenis kelainan refraksi. Yuk, simak penjelasannya!

  1. 1. Rabun jauh (miopia)

    Jika anak kesulitan untuk melihat objek yang jauh bisa jadi miopia
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Rabun jauh atau miopia merupakan jenis kelainan refraksi yang paling sering ditemukan pada anak usia sekolah. Kondisi ini membuat anak dapat melihat benda yang berada dekat dengan jelas, tetapi kesulitan melihat objek yang letaknya jauh.

    Akibatnya, anak mungkin tidak dapat membaca tulisan di papan tulis dengan baik, kesulitan mengenali wajah seseorang dari kejauhan, atau sering meminta duduk di barisan depan kelas.

    Gejala miopia sering kali muncul secara perlahan sehingga tidak langsung disadari oleh orangtua. Beberapa anak terbiasa menyipitkan mata saat melihat jauh karena cara tersebut membantu mereka memperoleh gambaran yang sedikit lebih jelas.

    Selain itu, anak juga bisa mengeluhkan sakit kepala atau mata lelah setelah beraktivitas. Penelitian menunjukkan bahwa menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar dan kurang beraktivitas di luar ruangan dapat meningkatkan risiko rabun jauh.

    Karena itu, penting bagi Mama untuk memperhatikan kebiasaan sehari-hari anak sekaligus menjadwalkan pemeriksaan mata secara berkala.

  2. 2. Rabun dekat (hipermetropia)

    Hipermetropia terjadi saat anak lebih sulit melihat benda yang berada dekat
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Hipermetropia atau rabun dekat terjadi ketika anak lebih sulit melihat benda yang berada dekat dengan matanya. Meskipun demikian, kondisi ini tidak selalu mudah dikenali karena mata anak masih memiliki kemampuan akomodasi yang cukup baik.

    Mata akan bekerja lebih keras untuk memfokuskan penglihatan sehingga sebagian anak tetap dapat melihat dengan cukup jelas, terutama jika tingkat kelainannya ringan.

    Masalah biasanya mulai terlihat ketika anak harus membaca buku, menggambar, menulis, atau mengerjakan tugas dalam waktu yang lama. Anak dapat mengeluh matanya terasa lelah, perih, atau sering mengalami sakit kepala setelah belajar.

    Tidak jarang kondisi ini membuat anak sulit berkonsentrasi karena penglihatan dekat terasa kurang nyaman. Jika tidak terdeteksi, hipermetropia dapat memengaruhi kenyamanan belajar dan aktivitas sehari-hari.

    Pemeriksaan mata sejak dini dapat membantu mengetahui apakah kesulitan yang dialami anak berkaitan dengan gangguan penglihatan atau faktor lainnya.

  3. 3. Mata silinder (astigmatisme)

    Silinder dapat memengaruhi kemampuan melihat pada berbagai jarak
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Astigmatisme atau mata silinder terjadi ketika bentuk kornea atau lensa mata tidak melengkung secara sempurna. Akibatnya, cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus pada satu titik sehingga penglihatan menjadi buram atau tampak berbayang.

    Berbeda dengan rabun jauh maupun rabun dekat, mata silinder dapat memengaruhi kemampuan melihat pada berbagai jarak.

    Anak dengan astigmatisme sering kali mengalami gejala yang beragam. Sebagian anak mengeluhkan pandangan yang kabur, sementara yang lain merasa objek terlihat ganda atau tidak tajam. Kondisi ini juga dapat menyebabkan mata cepat lelah, terutama setelah membaca atau menatap layar dalam waktu lama.

    Beberapa anak bahkan memiliki kebiasaan memiringkan kepala atau menyipitkan mata untuk mendapatkan sudut pandang yang terasa lebih nyaman. Karena gejalanya dapat menyerupai masalah penglihatan lainnya, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan mata menjadi cara terbaik untuk memastikan diagnosis dan menentukan penanganan yang sesuai.

  4. 4. Presbiopia atau mata tua

    Presbiopia sangat jarang terjadi pada anak
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Presbiopia dikenal sebagai kondisi yang umumnya dialami orang dewasa ketika kemampuan mata untuk melihat objek dekat mulai berkurang. Hal ini terjadi karena lensa mata menjadi kurang lentur seiring bertambahnya usia.

    Akibatnya, seseorang membutuhkan jarak yang lebih jauh untuk membaca tulisan atau melihat benda kecil dengan jelas.

    Meskipun presbiopia sangat jarang terjadi pada anak, kondisi ini tetap termasuk dalam kelompok kelainan refraksi yang sering dibahas dalam dunia kesehatan mata. Memahami berbagai jenis kelainan refraksi dapat membantu Mama membedakan gangguan penglihatan yang umum terjadi pada anak dengan yang biasanya dialami orang dewasa.

    Pengetahuan ini penting agar orangtua tidak salah mengartikan keluhan yang disampaikan anak dan dapat mengambil langkah yang tepat ketika menemukan tanda-tanda gangguan penglihatan.

  5. 5. Kenali tanda gangguan penglihatan sejak dini

    Mama perlu waspada akan kesehatan mata anak
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Banyak kasus kelainan refraksi pada anak baru diketahui setelah prestasi belajar menurun atau guru menyampaikan bahwa anak kesulitan melihat papan tulis. Padahal, semakin cepat gangguan penglihatan terdeteksi, semakin besar peluang untuk mencegah dampaknya terhadap proses belajar dan perkembangan anak.

    Karena itu, orangtua perlu mengenali berbagai tanda yang mungkin muncul sejak awal.

    Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:

    • sering menyipitkan mata,
    • duduk terlalu dekat dengan televisi,
    • memegang buku sangat dekat saat membaca,
    • mengucek mata berulang kali,
    • mengeluh sakit kepala tanpa penyebab yang jelas.

    Anak juga bisa tampak kurang fokus ketika belajar karena harus berusaha lebih keras untuk melihat dengan jelas. Pemeriksaan mata secara rutin menjadi langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan penglihatan si Kecil.

    Dengan penglihatan yang optimal, anak dapat belajar, bermain, dan mengeksplorasi lingkungannya dengan lebih nyaman dan percaya diri.

    Itulah informasi mengenai kelainan refraksi yang banyak dialami oleh anak.

    Semakin cepat ditangani, semakin besar pula peluang anak untuk tumbuh dan belajar dengan optimal. Semoga informasi ini bermanfaat, ya Ma!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More