Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Curhat Mama, Anaknya Alami Pelecehan saat Bermain dengan Teman Sesama Perempuan
Pexels/cottonbro studio
  • Seorang Mama menemukan anaknya mengalami pelecehan saat bermain dengan teman yang lebih tua, memicu kesadaran pentingnya pengawasan bahkan di lingkungan rumah sendiri.

  • Penyelidikan polisi mengungkap bahwa pelaku anak juga merupakan korban kekerasan dari Papa kandungnya, menyoroti rantai kekerasan yang bisa terjadi tanpa terdeteksi.

  • Mama tersebut kini rutin mengajarkan keamanan tubuh dan batasan sentuhan aman kepada anak-anaknya, serta mendorong komunikasi terbuka agar anak berani melapor jika merasa tidak nyaman.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjaga keselamatan anak tidak hanya dilakukan saat mereka berada di luar rumah. 

Terkadang, ancaman atau situasi yang membingungkan bagi anak justru bisa terjadi di dalam lingkungan terdekat, bahkan saat sedang bermain bersama temannya sendiri. 

Sebuah kisah nyata yang dibagikan oleh seorang Mama berusia 35 tahun melalui akun Instagram @nurturedfirst menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kewaspadaan orangtua.

Berikut Popmama.com rangkum kronologi kejadian tersebut beserta panduan penting dalam mengedukasi anak mengenai batasan aman dalam pertemanan!

1. Kecurigaan awal di balik selimut kamar anak

Instagram.com/nurturedfirst

Kisah ini bermula ketika sang Mama masuk ke dalam kamar anak perempuannya yang berusia 7 tahun. 

Saat itu, sang anak sedang berada di balik selimut bersama teman bermainnya, Raye (11 tahun), yang merupakan tetangga sebelah rumah. 

Begitu sang Mama masuk, mereka langsung duduk dengan cepat dan bertingkah sangat aneh.

Sadar ada yang tidak beres, sang Mama langsung melarang mereka bermain di bawah selimut dan meminta mereka pindah ke ruang keluarga hingga waktu bermain selesai.

2. Pengakuan jujur anak dan terungkapnya manipulasi

Instagram.com/nurturedfirst

Setelah teman anaknya pulang, sang Mama mendekati anaknya dengan tenang dan memastikan bahwa ia tidak akan dimarahi jika bercerita jujur. 

Sambil memalingkan wajah, sang anak akhirnya mengaku bahwa Raye sering memintanya untuk menyentuh area privatnya dengan dalih bagian dari permainan dokter-dokteran. 

Sang anak memilih menyembunyikan hal ini karena Raye memanipulasinya dengan mengatakan bahwa seorang dokter tidak boleh menceritakan apa yang dilakukan kepada pasiennya dan itu harus menjadi rahasia.

3. Penyelidikan polisi dan komitmen baru tentang body safety

Instagram.com/nurturedfirst

Sadar ada ketimpangan usia yang tidak wajar, sang Mama melaporkan hal ini ke polisi. 

Penyelidikan akhirnya mengungkap kenyataan pahit bahwa Raye ternyata juga merupakan korban kekerasan serupa yang dilakukan oleh Papa kandungnya sendiri.

"Saya tahu bahwa anak-anak memang memiliki rasa ingin tahu tentang tubuh satu sama lain, dan adalah hal yang umum bagi mereka untuk ingin melihat bagian tubuh masing-masing atau mengajukan pertanyaan karena penasaran. Namun, saya juga tahu bahwa BUKAN merupakan perilaku anak yang normal jika tindakan tersebut dilakukan secara berulang, penuh rahasia, dan terdapat ketimpangan kekuasaan dalam hal usia seperti ini."

Belajar dari kejadian memilukan tersebut, sang Mama kini mengubah cara mendidik anak-anaknya demi masa depan mereka.

"Sekarang saya rutin mengobrol tentang keamanan tubuh dengan semua anak-anak saya. Saya mengajari mereka bahwa tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh bagian privat mereka, atau meminta mereka untuk menyentuh bagian privat orang lain. Saya juga mengajari mereka bahwa sentuhan yang tidak aman bisa terjadi dalam bentuk sebuah permainan juga."

4. Ciri-ciri teman bermain yang baik dan aman untuk anak

Pexels/cottonbro sudio

Sebagai langkah awal pencegahan, Mama perlu membimbing anak untuk mengenali batasan pertemanan yang sehat sejak dini. 

Berikut adalah beberapa ciri teman bermain yang baik untuk anak:

  • Menghargai kenyamanan bersama, tidak suka memaksa anak melakukan hal-hal yang membuatnya takut atau tidak nyaman.

  • Terbuka dalam beraktivitas, selalu mengajak melakukan aktivitas yang positif, jelas, dan bisa dilihat orang lain (seperti menggambar atau membuat gelang bersama).

  • Tidak menyembunyikan rahasia buruk, teman yang aman tidak akan pernah meminta anak untuk merahasiakan suatu tindakan atau permainan dari orang tuanya.

5. Hal yang harus dilakukan orang tua saat anak mengadakan playdate

Pexels/Vika Glitter

Ketika rumah Mama menjadi tempat berkumpul dan bermain bagi anak-anak, pengawasan yang cerdas dan konsisten sangat diperlukan lewat langkah berikut:

  • Terapkan aturan ruangan terbuka, buat kesepakatan tegas sejak awal bahwa tidak boleh ada permainan yang dilakukan di balik pintu kamar yang tertutup rapat atau di bawah selimut.

  • Lakukan pengawasan berkala, sesekali masuklah ke area bermain mereka, misalnya untuk mengantarkan camilan atau sekadar menyapa dan mengecek aktivitas mereka.

  • Amati interaksi anak, perhatikan bagaimana cara mereka berkomunikasi, apakah ada salah satu anak yang tampak mendominasi atau justru terlihat tertekan selama bermain.

6. Kapan Mama harus mulai menaruh curiga pada teman bermain anak

Pexels/RDNE Stock Project

Meskipun rasa ingin tahu anak-anak adalah hal yang wajar dalam fase pertumbuhan, Mama wajib waspada dan segera bertindak jika menemui tanda-tanda berikut:

  • Perilaku yang berulang dan obsesif, tindakan yang mengarah pada eksplorasi fisik dilakukan secara terus-menerus dan terstruktur.

  • Sikap yang penuh rahasia, anak-anak langsung menunjukkan gelagat panik, cemas, atau langsung mengubah posisi tubuh secara drastis saat orang dewasa mendekat.

  • Adanya ketimpangan kuasa, terdapat perbedaan usia atau dominasi yang terlalu jauh, di mana anak yang lebih tua mengontrol penuh anak yang lebih muda di dalam permainan.

7. Cara membangun komunikasi seputar keamanan tubuh

Pexels/Alex Green

Membekali anak dengan pemahaman tentang hak atas tubuhnya sendiri adalah perlindungan terbaik yang bisa Mama berikan. 

Caranya dapat dimulai melalui langkah ini:

  • Kenalkan nama ilmiah organ intim, edukasi anak dengan menyebutkan nama asli bagian tubuh privat mereka agar mereka bisa melapor dengan jelas jika terjadi sesuatu.

  • Ajarkan konsep sentuhan aman dan tidak aman, beri tahu anak bahwa bagian tubuh yang tertutup pakaian dalam tidak boleh disentuh atau dilihat oleh orang lain, termasuk dalam bentuk permainan.

  • Tanamkan hak untuk menolak, latih anak agar berani berkata "tidak" atau "jangan" dengan lantang jika ada orang lain, termasuk teman dekat atau orang yang mereka sayangi, yang mencoba melanggar batasan tersebut.

Intinya, Ma, tugas terpenting Mama sebagai orangtua adalah menjadi tempat bersandar yang paling aman dan selalu mempercayai intuisi mereka. 

Dengan begitu, kapan pun anak menghadapi situasi yang membingungkan atau tidak nyaman di luar sana, mereka tahu bahwa mereka bisa langsung berlari dan bercerita kepada Mama tanpa rasa takut dihakimi.

Editorial Team

Related Article