6 Cara Ajarkan Anak agar Tak Jadi Pelaku Pelecehan Seksual Menurut Psikolog

Kasus chat mahasiswa FH UI yang viral baru-baru ini tentu menjadi tamparan keras bagi kita semua.
Candaan bernada pelecehan terhadap perempuan yang justru muncul di lingkungan pendidikan membuat kita sadar, banyak anak muda yang gagal memahami batasan, empati, dan rasa hormat.
Dari kasus tersebut, terlihat bahwa normalisasi pelanggaran batasan sudah terjadi di usia muda, Ma.
Menanggapi hal ini, Psikolog Anak dan Remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, M.Psi., menekankan bahwa pencegahan pelecehan harus dimulai sejak dini, bukan saat anak sudah dewasa.
Berikut Popmama.com rangkumkan beberapa cara yang bisa orangtua praktikkan di rumah untuk mengajarkan anak agar tidak menjadi pelaku pelecehan seksual di kemudian hari.
1. Ajarkan empati dan rasa hormat

Vera menjelaskan bahwa fondasi utama agar anak tidak menjadi pelaku pelecehan adalah memiliki empati.
Anak harus dibiasakan melihat orang lain sebagai manusia yang punya perasaan dan batasan, bukan sekadar objek atau sumber kesenangan semata.
Mama bisa melatih anak untuk mulai peduli ketika temannya sedih, atau memahami bahwa tubuh dan perasaan orang lain itu berharga.
Dengan empati, anak akan berpikir ulang sebelum melakukan sesuatu yang bisa menyakiti orang lain.
2. Kenalkan konsep consent sejak kecil

Saat terjadi kasus pelecehan seksual, istilah consent sering kali muncul. Ini adalah persetujuan, yang bukan hanya soal hubungan dewasa.
Sejak kecil, anak perlu diajarkan untuk menghargai ketika seseorang tidak mau disentuh, dipeluk, atau dijadikan bahan bercanda.
Vera menekankan bahwa konsep "tidak berarti tidak" harus menjadi kebiasaan.
Ajarkan anak untuk selalu meminta izin sebelum menyentuh temannya, dan ajari pula bahwa mereka berhak menolak jika tidak nyaman. Dengan begitu, anak tumbuh paham bahwa batasan pribadi adalah hal yang serius.
3. Orangtua harus menjadi contoh

Sebagai peniru ulung, anak belajar paling kuat dari apa yang mereka lihat di rumah.
Itulah mengapa para ahli, termasuk Vera, mengingatkan bahwa orangtua perlu memberikan contoh konkret, misalnya bagaimana cara Papa memperlakukan Mama dengan penuh hormat, dan sebaliknya.
Ketika anak menyaksikan bahwa dalam keluarganya tidak ada kekerasan verbal, fisik, atau pelecehan dalam bentuk candaan, mereka akan meniru pola relasi yang sehat.
Untuk itu, jadilah model utama dalam menghormati pasangan dan anggota keluarga lain. Dengan begitu, anak pun akan menerapkan hal serupa dalam lingkungan pertemanannya.
4. Bangun komunikasi teruka

Anak perlu merasa aman untuk bertanya tentang seksualitas, relasi, dan batasan tanpa takut dimarahi atau dihakimi.
Itulah mengapa perlu adanya komunikasi terbuka antara anak dan orangtua, untuk mencegah anak mencari informasi dari sumber yang salah atau ikut-ikutan candaan tidak sehat.
Mama bisa memulai topik ringan sejak dini, seperti "Kamu boleh bilang tidak kalau ada yang memelukmu tanpa izin."
Dengan komunikasi yang hangat, anak akan lebih nyaman mendiskusikan hal-hal yang mengganggu pikirannya, termasuk tentang seksualitas.
5. Koreksi perilaku yang kurang tepat sejak dini

Sering kali orangtua tertawa atau menganggap lucu ketika anak kecil menarik rambut teman perempuannya atau melucu soal bagian tubuh.
Nah, berawal dari candaan inilah yang justru jadi perilaku keliru yang perlu diluruskan, Ma.
Vera memeringatkan bahwa jangan pernah menormalisasi ucapan seperti "namanya juga anak laki-laki" karena justru di situlah pembentukan nilai harus dilakukan.
Setiap perilaku yang mengarah pada pelanggaran batasan, sekecil apa pun itu, maka harus segera dikoreksi. Jelaskan dengan tenang mengapa hal tersebut tidak boleh diulang, dan arahkan ke perilaku yang lebih hormat.
6. Ajarkan tanggung jawab digital

Terakhir, Vera juga mengingatkan orangtua untuk mengajarkan anak etika bermedia sosial.
Di era digital, pelecehan tidak hanya terjadi secara fisik, tapi juga lewat pesan teks, meme, atau komentar di media sosial.
Anak perlu paham bahwa mengirim gambar tidak pantas, membuat candaan seksis di grup chat, atau mengomentari tubuh orang lain secara online adalah bagian dari pelecehan.
Ajarkan anak untuk selalu berpikir sebelum mengetik, dan laporkan jika melihat konten yang melanggar batasan. Dengan tanggung jawab digital, mereka tidak akan menjadi bagian dari budaya pelecehan di media sosial.
Mencegah anak menjadi pelaku pelecehan seksual bukan berarti menuduh anak kita melakukannya ya, Ma, justru membekali mereka dengan nilai empati, consent, dan rasa hormat sejak dini.
Dengan konsistensi di rumah, komunikasi terbuka, dan koreksi perilaku yang tepat, Mama bisa membantu melahirkan generasi yang lebih aman, beradab, dan menghargai sesama manusia.


















