Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Tidak Asal Bertanya atau Asbun, Ini Definisi Critical Thinking pada Gen Alpha Menurut Psikolog
Pexels/Pavel Danilyuk
  • Berpikir kritis bukan sekadar banyak bertanya, tapi kemampuan anak menganalisis dan menghubungkan informasi dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.
  • Kemampuan berpikir kritis perlu dilatih sejak dini agar anak mandiri mengambil keputusan dan memahami konsekuensinya tanpa selalu bergantung pada orangtua.
  • Diskusi hangat dan lingkungan emosional yang aman membantu anak Gen Alpha berani berpendapat, sementara pola asuh terbuka dari orangtua milenial memperkuat kemampuan berpikir kritis mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kemampuan berpikir kritis atau critical thinking menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu ditanamkan sejak usia dini. Anak yang terbiasa berpikir kritis tidak hanya sekadar bertanya, tetapi juga mampu memproses dan menganalisis informasi dengan baik.

Menurut Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt., seorang Psikolog Klinis, pola asuh dan lingkungan sangat berperan dalam membentuk kemampuan ini, terutama pada anak-anak Gen Alpha yang tumbuh di era digital.

Berikut Popmama.com rangkum penjelasannya seputar tidak asal bertanya atau asbun, ini definisi critical thinking pada gen alpha.

1. Critical thinking bukan sekadar bertanya “asbun”

Popmama.com/David Andrew

Critical thinking sering disalahartikan sebagai kebiasaan anak yang banyak bertanya. Padahal, esensinya jauh lebih dalam dari itu.

Critical thinking itu sendiri bukan hanya sekedar pertanyaan, tapi bagaimana anak menerima informasi lalu diproses dan dianalisis dengan pengetahuan yang pernah ia pelajari. Jadi bukan sekedar nanya asbun, tapi mau tau dengan pertimbangan dan analisa yang mereka lakukan,” jelas Alexa kepada Popmama.com.

Artinya, anak yang kritis tidak hanya ingin tahu, tetapi juga mencoba memahami dan menghubungkan informasi yang ia dapatkan. Ini yang membedakan antara rasa ingin tahu yang asal dengan pemikiran yang terarah.

2. Dilatih sejak dini agar anak mandiri mengambil keputusan

kado natal untuk toddler (pexels.com/Vlada Karpovich)

Kemampuan berpikir kritis perlu dilatih sejak anak masih kecil. Ini akan membantu mereka dalam berbagai aspek kehidupan ke depan.

“Dari anak usia dini supaya kritis, karena kalau gitu mereka akan lebih mudah mengembangkan suatu hal. Jadi ketika mereka udah ngejalanin sendiri akhirnya orangtua pun juga tidak bisa 100% seperti mau mereka dan mereka pun harus bisa memikirkan diri mereka sendiri,” tutur Alexa.

Dengan begitu, anak akan belajar membuat keputusan sendiri, memahami konsekuensi, dan tidak selalu bergantung pada orangtua. Ini juga membantu mereka dalam menjaga diri dan menentukan arah hidupnya.

3. Diskusi hangat lebih efektif daripada sekadar melarang

Popmama.com/David Andrew

Alexa menyebut kalau cara orangtua berkomunikasi sangat memengaruhi perkembangan critical thinking anak. Pendekatan yang terbuka lebih efektif dibandingkan dengan pola komunikasi satu arah.

“Jadi critical thinking itu sangat diperlukan supaya bisa mengambil keputusan yang tepat, menjaga diri, dan menentukan arah hidup mereka lebih baik. Untuk ngajarin hal itu memang dari awalnya biasakan untuk tidak langsung memarahi atau nyuruh-nyuruh, berdiskusi yang hangat dan bikin situasi terbuka supaya anak nyaman cerita sama kita,” pungkasnya. 

Lingkungan yang aman secara emosional membuat anak berani mengungkapkan pendapat dan belajar berpikir lebih dalam. Ini menjadi fondasi penting dalam membentuk pola pikir kritis.

4. Orangtua Gen Alpha lebih terbuka dan aware

Popmama.com/David Andrew

Perubahan generasi juga memengaruhi cara pengasuhan anak. Orangtua Gen Alpha yang kebanyakan berasal dari generasi milenial cenderung lebih terbuka.

Kesadaran ini membuat anak memiliki ruang untuk berekspresi dan berpikir secara mandiri, tanpa takut dihakimi.

“Betul, jadi penjelasannya gini. Kebanyakan orangtua dari Gen Alpha itu usianya milenial. Individu di usia milenial itu lebih mau dengerin anaknya. Jadi melek tentang kesehatan mental, tumbuh kembang anak, makanya mereka bisa memberikan ruang yang aman sejak kecil untuk bercerita dan berdiskusi,” tutur Alexa.

5. Gen Alpha tumbuh dengan akses informasi yang luas

5 Cara Efektif Menghadapi Toddler Tanpa Emosi Meledak

Selain pola asuh, lingkungan digital juga berperan besar dalam membentuk cara berpikir anak Gen Alpha.

“Untuk anak-anak gen alpha lahir di era digital, mau nyari informasi apapun gampang, dari kecil udah kenal screen kalau penasaran buka google atau media sosial lainnya supaya dapat informasi lebih luas. Mereka terbiasa punya informasi yang luas dan terbuka dengan informasi dan pertanyaan yang diberi dari orangtuanya,” jelas Alexa.

Akses informasi yang luas ini membuat anak lebih cepat belajar, tetapi juga perlu diarahkan agar mereka bisa memilah dan menganalisis informasi dengan baik.

Itulah tadi rangkuman seputar tidak asal bertanya atau asbun, ini definisi critical thinking pada gen alpha. Ternyata maknanya jauh lebih dalam nih.

POPMAMA TALK Mei 2026 - Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt
Psikolog Klinis

Senior Editor - Novy Agrina
Host - Novy Agrina  
Editor - Onic Metheany & Denisa Permataningtias  
Content Writer - Putri Syifa Nurfadilah & Sania Chandra Nurfitriana   
Script - Sania Chandra Nurfitriana   
Social Media - Mayang Ulfah 
Photographer - David Andrew
Videographer - Bellinna Putri, David Andrew & Albertus Olav
Video Editor - David Andrew
Design - Aristika Medinasari

Editorial Team