Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

10 Alasan Gen Alpha Berbeda dan Cara Orangtua Menyikapinya

10 Alasan Gen Alpha Berbeda dan Cara Orangtua Menyikapinya
Freepik
Intinya Sih
  • Perbedaan zaman membuat pola asuh lama tidak selalu relevan sehingga Mama perlu lebih adaptif memahami karakter gen alpha

  • Gen alpha tumbuh dengan teknologi, keterbukaan emosi, dan pola pikir kritis sehingga orangtua perlu mengedepankan komunikasi dan pendampingan yang tepat

  • Dengan menyesuaikan pendekatan dan tetap membangun koneksi yang hangat, Mama dapat membantu si Kecil tumbuh percaya diri dan siap menghadapi perubahan zaman

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Mama mungkin pernah membandingkan masa kecil Mama dengan kehidupan si Kecil sekarang. Dulu, waktu bermain lebih banyak di luar rumah, sumber informasi terbatas, dan aturan orangtua jarang dipertanyakan.

Sekarang, si Kecil tumbuh di lingkungan yang serba cepat, serba digital, dan penuh pilihan. Perbedaannya terasa jelas, bahkan dalam hal sederhana sehari-hari.

Tidak jarang Mama merasa pendekatan yang dulu efektif, kini tidak selalu berhasil diterapkan pada si Kecil. Situasi ini bisa membuat Mama bertanya, apakah memang zamannya yang berubah, atau cara Mama yang perlu menyesuaikan.

Berikut Popmama.com rangkum 10 alasan anak gen alpha berbeda dan cara orangtua menyikapinya agar Mama bisa lebih memahami karakter si Kecil dan menyesuaikan pola asuh di rumah.

Table of Content

1. Sejak kecil akrab dengan teknologi

1. Sejak kecil akrab dengan teknologi

2 anak bermain tablet dan ponsel
Freepik

Generasi alpha atau gen alpha adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 2010-2024. Mereka lahir ketika internet dan ponsel sudah menjadi bagian dari keseharian keluarga.

Berbeda dengan generasi Z atau gen z yang mengenal teknologi saat remaja, gen alpha bisa membuka video atau memilih tontonan bahkan sebelum lancar berbicara. Teknologi bukan hal baru bagi mereka, melainkan lingkungan yang sudah melekat sejak awal.

Karena itu, melarang total penggunaan ponsel sering kali justru memicu konflik. Tantangannya bukan menjauhkan si Kecil dari teknologi, tetapi membimbingnya agar bisa menggunakan secara bijak. Mama bisa menetapkan batas waktu layar yang konsisten, memilihkan konten sesuai usia, dan mendampingi si Kecil saat mengakses internet.

Selain itu, penting juga mengajarkan etika digital sejak dini. Si Kecil perlu tahu bahwa tidak semua informasi di internet benar, tidak semua orang di dunia maya bisa dipercaya, dan jejak digital bisa berdampak jangka panjang. Dengan pendampingan yang tepat, teknologi bisa menjadi alat belajar dan eksplorasi, bukan sekadar hiburan tanpa batas.

2. Lebih kritis terhadap aturan

Anak memegang papan jalan
Freepik

Jika dulu anak cenderung menuruti perintah orangtua tanpa banyak bertanya, sekarang situasinya berbeda. Gen alpha lebih sering ingin tahu alasan di balik sebuah aturan. Saat Mama mengatakan tidak boleh, mereka bisa langsung bertanya kenapa.

Bukan untuk melawan, tetapi karena mereka terbiasa berpikir dan mencari penjelasan. Pendekatan satu arah seperti karena Mama bilang begitu sering kali tidak lagi efektif. Mereka ingin dilibatkan dan merasa pendapatnya dihargai. Di sinilah pentingnya komunikasi dua arah di rumah. Mama bisa menjelaskan alasan sebuah aturan dengan bahasa sederhana dan sesuai usia si Kecil.

Ketika si Kecil memahami alasan di balik aturan, mereka cenderung lebih kooperatif. Diskusi kecil sehari-hari juga bisa melatih kemampuan berpikir kritis sekaligus membangun rasa saling percaya antara Mama dan si Kecil.

3. Cara belajar yang berbeda

2 anak belajar lewat video
Freepik

Sekolah bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Gen alpha terbiasa belajar dari video, platform edukasi, hingga kreator konten yang membahas berbagai topik.

Dalam waktu singkat, mereka bisa memahami konsep tertentu dari tayangan yang menarik dan interaktif. Hal ini membuat gaya belajar si Kecil menjadi lebih visual dan praktis. Mereka cenderung cepat bosan jika hanya mendengarkan penjelasan satu arah dalam waktu lama.

Karena itu, penting bagi Mama untuk tidak hanya fokus pada nilai akademis, tetapi juga melihat bagaimana si Kecil memahami dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Mama bisa mendukung dengan menyediakan ruang eksplorasi, seperti diskusi ringan tentang hal yang sedang si Kecil pelajari atau mengaitkan pelajaran sekolah dengan pengalaman sehari-hari. Dengan begitu, rasa ingin tahu si Kecil tetap terjaga dan proses belajar terasa lebih relevan.

4. Emosi menjadi hal yang lebih diperhatikan

Anak tersenyum lebar
Freepik/jcomp

Gen alpha tumbuh di era ketika kesehatan mental mulai dibicarakan secara terbuka. Mereka diajarkan bahwa merasa sedih, marah, atau cemas adalah hal yang wajar. Kuat bukan berarti memendam perasaan, tetapi mampu mengenali dan mengelolanya dengan baik.

Karena itu, ketika si Kecil mengungkapkan perasaannya, penting bagi Mama untuk tidak langsung menyepelekan atau membandingkan dengan pengalaman orang lain.

Kalimat seperti “tidak usah lebay” atau “itu hal kecil” bisa membuat si Lecil enggan bercerita lagi. Sebaliknya, Mama bisa membantu si Kecil menamai emosinya dan mencari cara yang sehat untuk mengelolanya.

Misalnya dengan menarik napas dalam, menulis, berbicara, atau beristirahat sejenak. Dengan dukungan yang konsisten, si Kecil belajar bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk mengekspresikan perasaan.

5. Lebih peduli pada isu lingkungan

Anak memegang pot bunga
Freepik/jcomp

Banyak gen alpha sudah mengenal konsep daur ulang, pengurangan sampah plastik, hingga pentingnya menjaga bumi sejak usia dini. Informasi tentang perubahan iklim dan kerusakan lingkungan mudah mereka temui di berbagai platform.

Tidak heran jika mereka kadang mempertanyakan kebiasaan orang dewasa yang dianggap kurang peduli. Kepedulian ini bisa menjadi nilai positif jika diarahkan dengan tepat. Mama dapat melibatkan si Kecil dalam kebiasaan sederhana seperti memilah sampah, membawa tas belanja sendiri, atau menghemat listrik dan air di rumah.

Dengan memberi contoh langsung, si Kecil belajar bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar wacana, tetapi bagian dari tanggung jawab sehari-hari. Kebiasaan kecil yang dilakukan bersama keluarga bisa membentuk pola pikir peduli yang bertahan hingga dewasa.

6. Membutuhkan ruang untuk mandiri

Anak angkat jari
Freepik

Gen alpha cenderung ingin terlibat dalam pengambilan keputusan, bahkan dalam hal sederhana seperti memilih pakaian atau menentukan aktivitas akhir pekan. Mereka ingin merasa dipercaya dan dianggap mampu. Pola asuh yang terlalu mengontrol bisa memicu penolakan atau sikap tertutup.

Karena itu, Mama bisa mulai memberikan pilihan yang aman dan terarah. Misalnya membiarkan si Kecil menentukan waktu belajar dalam rentang yang sudah disepakati. Memberi ruang bukan berarti melepas tanggung jawab.

Justru dengan kesempatan membuat keputusan, si Kecil belajar memahami konsekuensi dan bertanggung jawab atas pilihannya. Kesalahan kecil yang terjadi dalam proses ini bisa menjadi pengalaman belajar yang berharga.

7. Tumbuh di dunia tanpa batas

Anak kecil dengan bola dunia
Freepik

Gen alpha terbiasa menonton konten dari berbagai negara, mendengar bahasa asing, dan melihat keberagaman sebagai hal yang wajar. Dunia terasa lebih terbuka dan terhubung.

Hal ini membuat pola pikir mereka lebih global sejak dini. Mereka bisa memiliki panutan dari luar negeri atau tertarik pada budaya yang berbeda dari lingkungan sekitar.

Mama dapat mendukung dengan mendorong pembelajaran bahasa asing, mengenalkan ragam budaya, atau berdiskusi tentang perbedaan dengan sudut pandang yang terbuka.

Dengan pendampingan yang tepat, paparan global ini dapat membantu si Kecil menjadi pribadi yang toleran dan mudah beradaptasi di masa depan.

8. Peran Papa semakin aktif

Ayah bermain dengan anak
Freepik/jcomp

Perubahan juga terlihat dalam dinamika keluarga. Kini semakin banyak Papa yang terlibat langsung dalam pengasuhan, mulai dari mengantar sekolah hingga menemani belajar. Si Kecil pun melihat kerja sama orangtua sebagai hal yang normal.

Kondisi ini memberi contoh bahwa tanggung jawab keluarga tidak hanya dibebankan pada satu pihak. Mama dan Papa bisa saling berbagi peran sesuai kesepakatan dan kebutuhan keluarga.

Ketika si Kecil melihat hubungan yang sehat di rumah, mereka belajar tentang kerja sama, rasa hormat, dan kesetaraan sejak dini. Lingkungan keluarga yang suportif menjadi fondasi penting bagi perkembangan mereka.

9. Lebih terbuka membicarakan kesehatan mental

Anak berbicara dengan boneka
Freepik/pvproductions

Dulu, ketika anak mengatakan merasa cemas atau tertekan, respons yang muncul sering kali sekadar jangan dipikirkan.

Sekarang, gen alpha lebih berani menyebut apa yang mereka rasakan. Mereka mengenal istilah stres, overthinking, bahkan burnout sejak kecil. Hal ini bukan berarti mereka lemah. Justru ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap kesehatan mental semakin meningkat.

Tugas orangtua adalah tidak mengabaikan tanda-tanda tersebut. Ketika si Kecil terlihat murung, mudah marah, atau menarik diri, Mama perlu hadir dan mendengarkan tanpa menghakimi.

Mama juga bisa mengajarkan cara sederhana untuk menenangkan diri, seperti teknik pernapasan, membuat rutinitas yang teratur, atau membatasi paparan konten yang memicu kecemasan. Jika diperlukan, mencari bantuan profesional bukan hal yang memalukan, melainkan bentuk tanggung jawab.

10. Ingin didengar dan dihargai suaranya

Anak berdiskusi dengan orangtua
Freepik

Gen alpha tidak lagi nyaman hanya menjadi pendengar pasif dalam keluarga. Mereka ingin dilibatkan dalam percakapan dan merasa pendapatnya memiliki arti. Bahkan ketika ide mereka terdengar tidak biasa, mereka tetap ingin didengar.

Memberi ruang bagi si Kecil untuk berbicara bukan berarti semua keinginannya harus dituruti. Namun, dengan mendengarkan secara utuh, Mama menunjukkan bahwa suara si Kecil penting. Ini membantu membangun rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi sejak dini.

Diskusi keluarga sederhana, seperti menentukan rencana akhir pekan atau membahas aturan rumah, bisa menjadi momen latihan yang baik. Ketika si Kecil merasa dihargai, mereka juga lebih mudah menghargai orang lain.

Dari sepuluh hal ini, mungkin Mama mulai melihat bahwa perbedaan generasi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Tantangannya memang ada, tetapi peluang untuk membangun hubungan yang lebih terbuka juga semakin besar.

Menurut Mama, bagian mana yang paling Mama rasakan di rumah saat mendampingi si Kecil tumbuh di era gen alpha?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Kid

See More