Kekhawatiran terhadap dampak billboard ini juga datang dari kalangan medis. Dokter anak sekaligus Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, menyampaikan pandangannya melalui media sosial Threads, @dr.piprim.
Ia menilai bahwa di tengah meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja, pesan seperti “Aku Harus Mati” berpotensi memberikan pengaruh negatif. Tulisan tersebut dikhawatirkan bisa memicu pemikiran berbahaya, terutama bagi anak atau remaja yang sedang berada dalam kondisi rentan.
Menurutnya, konten semacam ini seharusnya tidak dipasang di ruang publik yang mudah diakses oleh anak-anak. Ia juga mendorong agar pemerintah, termasuk Prabowo Subianto, serta pihak terkait memberikan perhatian lebih terhadap isu ini.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa jika sampai ada dampak serius yang muncul akibat paparan pesan tersebut, maka pihak yang membiarkan pemasangan billboard di ruang publik juga perlu ikut bertanggung jawab.
Perbedaan respons antara anak-anak seperti Kawa dan Tobi dengan anak lain menunjukkan bahwa setiap anak memiliki cara sendiri dalam memahami apa yang mereka lihat.
Namun, kontroversi ini tetap menjadi pengingat penting bagi orangtua dan masyarakat untuk lebih peka terhadap konten yang hadir di ruang publik.