Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Respons Kawa Tobi Anak Andien soal Billboard Film yang Provokatif
Instagram.com/andien
  • Kawa dan Tobi, anak Andien, menanggapi billboard film 'Aku Harus Mati' dengan kritis dan polos, menyoroti penggunaan kata dalam judul tanpa menunjukkan rasa takut.
  • Billboard film tersebut memicu pro dan kontra di masyarakat karena dianggap menyeramkan dan kurang sensitif, terutama bagi anak-anak serta individu dengan kondisi mental rentan.
  • Dokter anak Piprim Basarah Yanuarso menilai pesan billboard berpotensi berdampak negatif pada kesehatan mental anak, menyerukan perhatian pemerintah terhadap konten publik yang tidak ramah anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Momen sederhana yang dibagikan Andien Aisyah di media sosial baru-baru ini berhasil mencuri perhatian publik. Lewat akun Threads miliknya, @andien, Andien memperlihatkan reaksi unik kedua anaknya saat melihat billboard promosi film yang cukup provokatif.

Alih-alih menunjukkan rasa takut seperti yang dikhawatirkan banyak orangtua, respons Kawa dan Tobi justru tak terduga dan mengundang senyum sekaligus takjub.

Berikut Popmama.com rangkum respons Kawa dan Tobi anak Andien melihat billboard film yang ramai diperbincangkan.

1. Respons kritis Kawa dan Tobi soal diksi

Instagram.com/andien

Saat tidak sengaja melihat poster film berjudul “Aku Harus Mati”, Andien sempat merasa khawatir dengan reaksi anak-anaknya. Namun, respons yang muncul justru jauh dari dugaan.

Alih-alih takut, keduanya malah menyoroti penggunaan kata dalam judul tersebut. Reaksi ini dibagikan langsung oleh Andien melalui Threads.

Reaksi anak-anakku pas nggak sengaja ngeliat poster ‘Aku Harus Mati’...

(tadinya aku deg-degan tanggapan mereka bakal kayak apa, ternyata...)
Kawa: “Wow, emang harus banget?”
Tobi: “Bu, itu kayaknya salah deh mestinya meninggal. Kan ini maksudnya manusia. Kalo mati buat binatang”

Diketahui, Askara Biru atau Kawa kini berusia 9 tahun, sementara Tarisma Jingga yang akrab disapa Tobi berusia 5 tahun. Respons polos namun kritis ini pun menuai banyak pujian dari penggemar.

2. Billboard film picu pro dan kontra

Freepik

Belakangan ini, billboard promosi film berjudul “Aku Harus Mati” yang tayang sejak 2 April 2026 memang tengah menjadi perbincangan.

Sejumlah orangtua mengaku anak mereka merasa takut bahkan sampai menangis setelah melihat visual dan judul yang dinilai cukup menyeramkan. Reaksi tersebut sudah banyak dibagikan di media sosial dan memicu diskusi lebih luas.

Bukan hanya anak-anak, sebagian orang dewasa juga mengkritik keberadaan billboard tersebut. Ada yang menilai pesan dalam judulnya sensitif dan berlebihan, terutama bagi mereka yang sedang berada dalam kondisi mental yang lelah.

Bahkan, beberapa orang mengaitkannya sebagai “pertanda” tertentu yang justru memicu kecemasan dan kepanikan. Hal ini membuat keberadaan iklan tersebut semakin menuai sorotan dari berbagai kalangan.

3. Dokter anak soroti dampak psikologis

Freepik

Kekhawatiran terhadap dampak billboard ini juga datang dari kalangan medis. Dokter anak sekaligus Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, menyampaikan pandangannya melalui media sosial Threads, @dr.piprim.

Ia menilai bahwa di tengah meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja, pesan seperti “Aku Harus Mati” berpotensi memberikan pengaruh negatif. Tulisan tersebut dikhawatirkan bisa memicu pemikiran berbahaya, terutama bagi anak atau remaja yang sedang berada dalam kondisi rentan.

Menurutnya, konten semacam ini seharusnya tidak dipasang di ruang publik yang mudah diakses oleh anak-anak. Ia juga mendorong agar pemerintah, termasuk Prabowo Subianto, serta pihak terkait memberikan perhatian lebih terhadap isu ini.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa jika sampai ada dampak serius yang muncul akibat paparan pesan tersebut, maka pihak yang membiarkan pemasangan billboard di ruang publik juga perlu ikut bertanggung jawab.

Perbedaan respons antara anak-anak seperti Kawa dan Tobi dengan anak lain menunjukkan bahwa setiap anak memiliki cara sendiri dalam memahami apa yang mereka lihat.

Namun, kontroversi ini tetap menjadi pengingat penting bagi orangtua dan masyarakat untuk lebih peka terhadap konten yang hadir di ruang publik.

Editorial Team