Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Studi: Anak Kehilangan Orangtua Berisiko Tinggi Alami Gangguan Mental

Studi: Anak Kehilangan Orangtua Berisiko Tinggi Alami Gangguan Mental
Pexels/Jordane Maldaner
  • Studi Curtin University pada lebih dari 6.300 rumah tangga Australia menemukan anak yang kehilangan orangtua memiliki risiko gangguan mental sekitar dua kali lebih tinggi, termasuk kecemasan, depresi, dan ADHD.
  • Anak dengan orangtua meninggal mencatat tingkat gangguan mental tertinggi, 28,8 persen; risiko juga lebih tinggi pada anak dari keluarga bercerai, tidak tinggal bersama kedua orangtua kandung, atau mengalami perubahan pengasuhan.
  • Peneliti menekankan kebutuhan dukungan bagi anak dan keluarga yang berduka, tetapi akses bantuan masih terhambat antrean layanan panjang, biaya tinggi, serta kebingungan mencari terapi dan penanganan sesuai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bagi seorang anak, kehilangan sosok orangtua bisa menjadi perubahan besar dalam hidupnya. Di usia ketika mereka masih membutuhkan rasa aman, kasih sayang, dan bimbingan dari orangtua, sebuah kehilangan tentu dapat menghadirkan tantangan emosional yang tidak sederhana.

Hal tersebut juga terlihat dalam sebuah penelitian dari Curtin University. Studi ini menemukan adanya kaitan antara kehilangan orangtua dengan kondisi kesehatan mental anak. 

Anak yang mengalami kehilangan orangtua disebut memiliki kemungkinan dua kali lipat lebih besar untuk mengalami gangguan mental dibandingkan mereka yang masih memiliki orangtua.

Simak pembahasan selengkapnya telah Popmama.com siapkan.

  1. 1. Anak yang kehilangan orangtua berisiko dua kali lebih besar mengalami gangguan mental

    Anak yang kehilangan orangtua berisiko dua kali lebih besar mengalami gangguan mental
    Pexels/Pavel Danilyuk

    Peneliti Curtin University menganalisis data keluarga di Australia untuk melihat kondisi kesehatan mental anak yang mengalami kehilangan orangtua. Hasilnya menunjukkan, 21,4 persen anak dalam kelompok tersebut mengalami gangguan mental. 

    Beberapa kondisi yang ditemukan antara lain kecemasan, depresi, dan ADHD. Profesor Lauren Breen dari School of Population Health Curtin University mengatakan hasil penelitian tersebut menggambarkan besarnya persoalan yang perlu mendapat perhatian. 

    Menurutnya, anak yang kehilangan orangtua membutuhkan sistem pendukung yang lebih baik agar kondisi kesehatan mentalnya tetap terjaga. 

    “Kehilangan orang tua lebih umum terjadi dan hal itu memiliki dampak yang jelas dan terukur pada kesehatan mental anak-anak,” ujar Profesor Breen.

  2. 2. Anak yang orangtuanya meninggal memiliki risiko gangguan mental paling tinggi

    Anak yang orangtuanya meninggal memiliki risiko gangguan mental paling tinggi
    Pexels/cottonbro studio

    Penelitian tersebut menggunakan data dari survei nasional yang melibatkan lebih dari 6.300 rumah tangga di Australia. Rumah tangga yang menjadi bagian dari penelitian ini memiliki anak-anak berusia 4 hingga 17 tahun. 

    Dari berbagai kondisi kehilangan orangtua yang diteliti, anak yang orangtuanya meninggal dunia menunjukkan tingkat gangguan mental paling tinggi. Kondisi ini terutama menjadi perhatian pada anak-anak yang masih berusia lebih kecil. 

    “Anak-anak yang orang tuanya meninggal memiliki tingkat gangguan mental tertinggi dibandingkan kelompok lain mana pun, yaitu 28,8 persen,” ujar Breen.

    “Khususnya bagi anak-anak yang lebih kecil, dampaknya bisa sangat parah.” lanjut Breen.

    Studi semakin memperkuat bukti bahwa kehilangan orangtua merupakan salah satu pengalaman paling menyedihkan yang dapat dialami anak. Peristiwa tersebut juga berkaitan dengan meningkatnya risiko anak mengalami berbagai masalah kesehatan mental. 

  3. 3. Kehilangan orangtua dapat membuat anak lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental

    Kehilangan orangtua dapat membuat anak lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental
    Freepik

    Dampak kehilangan orangtua juga menjadi perhatian Lionheart Camp for Kids, sebuah lembaga pemberi dukungan kepada anak-anak serta keluarga yang sedang menghadapi masa berduka. 

    Shelley Skinner selaku CEO sekaligus pendiri lembaga tersebut menjelaskan bahwa kehilangan orangtua dapat membuat persoalan yang sedang dihadapi anak terasa semakin berat. 

    Apalagi, anak dan remaja masih berada dalam proses belajar memahami lingkungan serta berbagai situasi di sekeliling mereka. Ketika persoalan dari luar turut memengaruhi kondisi emosional anak, mereka dapat menjadi lebih rentan menghadapi kecemasan, perilaku berisiko, hingga masalah kesehatan mental dan fisik. 

    “Dunia luar bisa terasa semakin rumit bagi anak atau remaja yang baru belajar memahaminya. Ketika masalah dari luar memengaruhi kondisi mereka, anak menjadi lebih rentan mengalami kecemasan, perilaku beresiko, serta gangguan mental dan fisik,” ucap Skinner.

    Meski begitu, bukan berarti setiap anak yang kehilangan orangtua pasti akan mengalami gangguan mental. Skinner menekankan bahwa banyak anak tetap mampu menjalani proses tumbuh kembang dengan baik setelah kehilangan orangtua.

    “Banyak anak yang kehilangan orangtua tetap tumbuh sehat, bahagia, dan menjalani kehidupan yang normal serta produktif.” lanjutnya.

    “Pada saat yang bersamaan, setiap anggota keluarga juga membutuhkan bantuan yang tepat saat membantu anak melewati masa berduka.” tutup Skinner.

  4. 4. Risiko gangguan mental bisa berbeda berdasarkan kondisi kehilangan orangtua

    Risiko gangguan mental bisa berbeda berdasarkan kondisi kehilangan orangtua
    Pexels/Mikhail Nilov

    Para peneliti juga membandingkan kondisi anak berdasarkan bentuk kehilangan atau perubahan dalam hubungan dengan orangtua. Hasilnya menunjukkan adanya persentase gangguan mental yang berbeda pada setiap kelompok.

    Berikut rinciannya:

    • Orangtua meninggal dunia: 28,8 persen anak mengalami gangguan mental, sedangkan pada anak yang tidak mengalami kondisi tersebut angkanya 13,7 persen.
    • Orangtua yang terlibat dalam pengasuhan: 21,9 persen anak mengalami gangguan mental, sementara kelompok anak tanpa orangtua yang berada dalam pengasuhan pihak lain tercatat sebesar 13,9 persen.
    • Orangtua bercerai: gangguan mental ditemukan pada 20,2 persen anak, dibandingkan 11,9 persen pada anak yang orangtuanya tidak bercerai.
    • Tidak tinggal bersama kedua orangtua kandung secara keseluruhan: sebanyak 21,3 persen anak mengalami gangguan mental, sedangkan pada anak yang tinggal bersama kedua orangtua kandung angkanya 10,8 persen.

  5. 5. Akses terhadap bantuan menjadi hal penting bagi anak yang kehilangan orangtua

    Akses terhadap bantuan menjadi hal penting bagi anak yang kehilangan orangtua
    Freepik

    Meski dukungan sangat dibutuhkan, tidak semua keluarga dapat dengan mudah mendapatkannya. Profesor Breen mengatakan masih ada keluarga yang menghadapi berbagai kendala ketika berusaha mencari bantuan untuk anak.

    Hambatan tersebut dapat berupa waktu tunggu layanan yang panjang, biaya yang tidak sedikit, hingga kebingungan mengenai tempat atau cara mendapatkan pertolongan yang sesuai.

    “Anak-anak yang berduka beserta keluarganya sering menghadapi hambatan seperti mengantri daftar tunggu yang panjang, biaya yang mahal, dan tidak tahu cara mencari bantuan,” kata Breen.

    Menurut Breen, mengetahui jumlah anak yang mengalami kehilangan orangtua merupakan tahap awal untuk memahami seberapa besar kebutuhan dukungan bagi kelompok tersebut. 

    Langkah berikutnya adalah memastikan kondisi anak dan membantu mereka memperoleh layanan yang sesuai dengan kebutuhannya. 

    “Mengetahui seberapa banyak anak yang kehilangan orang tua adalah langkah awal. Selanjutnya, kami perlu memastikan kondisi mereka dan mendapat dukungan yang dibutuhkan, seperti terapi, dukungan keluarga, dan penanganan yang tepat.” lanjut Breen.

    Demikian informasi mengenai anak kehilangan orangtua berisiko lebih tinggi alami gangguan mental. Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa anak yang kehilangan orangtua membutuhkan perhatian yang lebih besar, termasuk akses terhadap layanan kesehatan mental yang mudah dijangkau serta penanganan yang sesuai.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More