Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
anak depresi
Freepik/8photo

Kasus dugaan bunuh diri seorang anak di NTT beberapa waktu terakhir menjadi peringatan pilu bagi kita orangtua ya, Ma.

Kejadian ini menyoroti sebuah fakta yang kerap luput dari perhatian kita, yakni depresi pada anak itu nyata, namun gejalanya sering tersamarkan dan dianggap sebagai bagian normal dari tumbuh kembang.

Sebagai orangtua, kita mungkin mengira depresi identik dengan kesedihan mendalam yang mudah terlihat. Namun faktanya, pada anak-anak justru lebih sering tampil sebagai perubahan perilaku atau emosi yang halus.

Tanda-tandanya bisa tumpang tindih dengan fase berkembang atau kita anggap sekadar moody belaka, sehingga risiko untuk terabaikan sangat besar. Itulah mengapa orangtua perlu mengenal tandanya sebagai langkah pencegahan dini.

Mengutip dari penjelasan psikolog anak, Mira Amir, berikut Popmama.com rangkumkan tanda yang perlu orangtua waspadai ketika anak mengalami depresi.

Mengetahui Depresi pada Anak Sedini Mungkin

Freepik

Deteksi dini dari kita sebagai orangtua menjadi kunci utama untuk memberikan intervensi yang tepat sebelum kondisi anak semakin bertambah parah, Ma.

Sebelum itu, orangtua juga perlu memahami bahwa depresi pada anak bukan sekadar rasa sedih sesaat atau keinginan untuk menarik diri yang biasa terjadi.

Ini adalah gangguan kesehatan mental yang memengaruhi suasana hati, pikiran, energi, dan perilaku anak secara signifikan, sehingga mengganggu fungsi sehari-harinya di rumah, sekolah, dan pergaulan.

Berbeda dengan kita orang dewasa yang bisa lebih verbal mengungkapkan perasaan, anak-anak sering kali tidak memiliki kosakata yang cukup untuk menjelaskan apa yang mereka rasakan, sehingga emosi dan tekanan yang mereka alami diekspresikan melalui perubahan perilaku dan fisik.

Masih menjadi hal yang kerap diabaikan, depresi pada anak nyatanya bisa memicu masalah pada berbagai aspek, seperti penurunan nilai akademik, kehilangan minat pada pertemanan, hingga keluhan sakit fisik yang tidak jelas penyebabnya.

Dengan memahami bahwa ini adalah kondisi medis yang membutuhkan perhatian serius, tentu bisa menjadi langkah pertama yang vital untuk kita sebagai orangtua dalam menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Untuk itu, berikut ini adalah tanda depresi pada anak yang perlu orangtua waspadai, yaitu:

1. Perubahan perilaku dan emosi yang drastis

Freepik

Dalam salah satu wawancara, Psikolog Anak Mira Amir membagikan beberapa tanda depresi pada anak yang perlu menjadi perhatian khusus para orangtua.

Salah satu tanda utama yang paling mudah namun sering salah kita artikan adalah perubahan drastis pada sikap dan emosi anak, Ma.

Misalnya, anak yang biasanya ceria, aktif, dan banyak bicara tiba-tiba menjadi sangat pendiam, murung, atau menarik diri dari interaksi keluarga. Perubahan ini konsisten dan terjadi di berbagai situasi, baik di rumah maupun di sekolah.

Kita kerap menganggap fase ini sebagai mood swing biasa atau mengartikannya pada hal lain seperti "sedang malas" atau "capek sekolah".

Padahal, ini bisa menjadi indikator awal bahwa anak sedang berjuang dengan perasaan negatif yang membebani, tapi mereka tak bisa mengungkapkannya.

Penting untuk kita amati durasi dan intensitas perubahan ini ya, Ma. Jika berlangsung lebih dari dua minggu dan mengganggu aktivitas normalnya, itu adalah sinyal untuk kita lebih memerhatikan anak.

2. Peningkatan rasa gelisah dan jadi lebih sensitif

Freepik/jcomp

Anak dengan depresi sering menunjukkan tingkat kecemasan dan jadi lebih sensitif, Ma. Mereka menjadi lebih mudah tersinggung, marah karena hal-hal sepele, atau tampak gelisah tanpa alasan yang jelas.

Interaksi sosial yang sebelumnya menyenangkan, justru kini terasa mengancam atau tidak nyaman yang membuat mereka menghindari teman atau kegiatan kelompok.

Biasanya, tanda seperti ini banyak dialami oleh anak-anak usia sekolah, yang bisa disertai dengan sikap mudah menangis, marah berlebihan, atau sulit dikendalikan amarahnya.

Lingkungan yang peka, termasuk kita sebagai orangtua, seharusnya dapat menangkap lonceng alarm ini sebagai sesuatu yang tidak biasa, bukan sekadar pembawaan diri yang "memang sedang rewel" atau "cengeng".

3. Kehilangan energi dan minat pada kegiataan kesukaannya

Freepik

Tanda lain yang perlu kita waspadai dan sering terabaikan adalah anhedonia, yaitu kehilangan minat atau kesenangan pada hampir semua kegiatan yang sebelumnya sangat disukai anak.

Mereka mungkin tampak terlihat lesu, tidak bersemangat, dan selalu kelelahan. Tak jarang juga mungkin menolak ajakan bermain, malas mengerjakan hobinya, atau ogah-ogahan saat diajak jalan-jalan.

Kondisi ini sangat mudah kita salahartikan sebagai kemalasan atau kelelahan fisik biasa akibat terlalu banyak kegiatan sekolah. Namun, dalam konteks depresi, kehilangan energi ini bersifat mental dan emosional.

Anak merasa kosong dan tidak memiliki tenaga atau motivasi untuk melakukan apa pun, sekalipun itu hal yang menyenangkan. Ini merupakan sinyal penting bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kondisi mentalnya, Ma.

4. Pola tidur dan makan yang terganggu

Freepik

Tanda lain dari seseorang yang mengalami depresi adalah perubahan pada fungsi biologis dasar seperti tidur dan makan.

Gangguan tidur dapat bervariasi, dari insomnia atau sulit tidur dan sering terbangun di malam hari, hingga hipersomnia atau tidur berlebihan sepanjang hari.

Begitu pula dengan pola makan, Ma. Biasanya bisa berubah drastis, baik menjadi tidak nafsu makan sehingga berat badan turun, atau justru makan berlebihan sebagai pelarian.

Pola tidur yang tidak teratur akan memperparah keadaan, menyebabkan anak semakin lelah, sulit konsentrasi di sekolah, dan semakin tidak stabil emosinya.

Ketika anak mengalami hal ini, penting untuk kita perhatikan karena biasanya gangguan ini terjadi secara konsisten, bukan hanya sesekali.

Kesehatan mental anak adalah fondasi dari perkembangannya agar menjadi pribadi yang tumbuh sehat dan bahagia. Setiap perubahan perilaku, sekecil apa pun, adalah bentuk komunikasi dari diri mereka.

Dengan meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan kita sebagai orangtua, kita bisa menjadi safety net pertama yang mencegah tragedi, sekaligus membuka jalan bagi anak untuk mendapatkan pertolongan dan pulih dengan lebih cepat.

Semoga informasi di atas bisa jadi peringatan bagi kita untuk lebih perhatian lagi pada anak ya, Ma.

Editorial Team