Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Kronologi Anak SD NTT Tewas Gantung Diri, Bukti Masalah Pendidikan Indonesia

anak NTT gantung diri
Freepik/Dok. Internet
Intinya sih...
  • Kisah tragis dimulai dari permintaan YBS untuk buku tulis dan pensil
  • YBS tinggal terpisah dari sang Mama sejak lahir, hidup dengan dukungan keluarga yang sangat terbatas
  • Pada hari kejadian, YBS ditemukan meninggal dunia setelah bermalam di rumah neneknya dan meninggalkan surat perpisahan untuk sang Mama
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kabar duka datang dari seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10) yang ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di sebuah pohon cengkeh, pada Kamis (29/1/2026).

Peristiwa terjadi di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Kejadian ini tidak hanya menyisakan kesedihan, tetapi juga membuka fakta bahwa kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan masih menjadi di Indonesia.

Berikut Popmama.com siap membahas lebih lanjut mengenai kronologi anak SD NTT gantung diri.

1. Berawal dari permintaan untuk dibelikan buku tulis dan pensil untuk sekolah

unsplash/Debby Hudson
unsplash/Debby Hudson

Kisah tragis ini berawal dari permintaan kecil yang terdengar begitu sederhana. Sehari sebelum kejadian, YBS sempat meminta sang Mama untuk membelikannya buku tulis dan pensil sebagai perlengkapan sekolah.

Namun, kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas membuat sang Mama belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, mengungkapkan bahwa YBS dikenal sebagai anak yang pendiam, santun, dan rajin belajar.

Di mata warga, YBS tidak pernah menunjukkan sikap murung atau atau tanda-tanda menyimpan beban berat, meski hidupnya serba kekurangan.

2. Korban tinggal terpisah dari sang Mama

ilustrasi anak sedih
pexels.com/Mikhail Nilov

Sejak lahir, YBS telah kehilangan figur seorang Papa yang meninggal dunia sebelum ia dilahirkan. Kondisi ini membuat kehidupan YBS berjalan dengan keterbatasan dukungan keluarga inti.

Selama ini, YBS tinggal bersama neneknya yang sudah berusia sekitar 80 tahun. Sementara itu, sang Mama menetap di kampung lain untuk mengurus lima anak lainnya.

Situasi ini membuat YBS tumbuh dengan perhatian yang sangat terbatas, baik secara emosional maupun pengawasan keseharian.

3. Hari terakhir sebelum YBS ditemukan meninggal dunia

Ilustrasi orang meninggal
pixabay.com/soumen82hazra

Pada Kamis pagi (29/1/2026), warga sempat melihat YBS duduk sendirian di depan rumah neneknya. Padahal, pagi itu seharusnya ia bersiap berangkat ke sekolah seperti biasa.

Beberapa jam berselang, tubuh YBS ditemukan oleh warga yang sedang menggembalakan kerbau di sekitar lokasi. Sang Mama, MGT (47), mengungkapkan bahwa YBS sempat bermalam di rumahnya pada malam sebelumnya.

YBS kemudian diantar kembali ke rumah neneknya sekitar pukul 06.00 WITA menggunakan ojek. Sebelum berpisah, Mamanya sempat menasihati YBS agar tetap rajin sekolah dan memahami kondisi keluarga yang sedang sulit.

4. Isi surat perpisahan yang ditinggalkan YBS untuk sang Mama

anak NTT gantung diri
Dok. Internet

Peristiwa ini semakin menuai sorotan setelah aparat kepolisian menemukan secarik kertas berisi pesan tulisan tangan YBS menggunakan bahasa daerah setempat.

Surat tersebut ditujukan kepada sang Mama sebagai ungkapan perpisahan terakhir. Dalam surat itu, YBS meminta sang Mama untuk tidak menangis dan merelakan kepergiannya.

Ia juga menuliskan pesan agar Mamanya tidak mencari atau merindukannya. Jika diterjemahkan, tulisan tangan tersebut berisi:

Surat buat Mama Reti

Mama saya pergi dulu

Mama relakan saya pergi (meninggal)

Jangan menangis ya Mama

Mama saya pergi (meninggal)

Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya

Selamat tinggal Mama

5. Bukti nyata kemiskinan dan tantangan pendidikan di Indonesia

kemiskinan
freepik.com/jcomp

Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga YBS, tetapi juga masyarakat luas. Tragedi yang terjadi seolah menjadi gambaran nyata bahwa kemiskinan dan masalah pendidikan masih terjadi di Indonesia.

Warga setempat berharap kejadian serupa tidak kembali terulang. Itu sebabnya, penting bagi semua pihak menyadari betapa perlunya perhatian, pendampingan, serta kepekaan terhadap kondisi psikologis anak, khususnya mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Demikian kronologi anak SD NTT gantung diri. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi ya, Ma.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More

Kronologi Anak SD NTT Tewas Gantung Diri, Bukti Masalah Pendidikan Indonesia

04 Feb 2026, 17:13 WIBBig Kid