Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Kasus Grooming Anak di Dunia Game, Ini Modus yang Perlu Diwaspadai Orangtua

Kasus Grooming Anak di Dunia Game, Ini Modus yang Perlu Diwaspadai Orangtua
Freepik/DC Studio
Intinya sih...
  • Dari komunikasi yang terjalin di komunitas game tersebut, pelaku mulai mengumpulkan data dan membangun kedekatan secara bertahap.
  • Pemalsuan identitas hingga pengiriman konten dewasa, bisa melemahkan posisi anak sebagai korban.
  • Penyelidikan terhadap streamer game Wuthering Waves.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bermain game online kini menjadi salah satu aktivitas yang digemari anak. Melalui permainan daring, anak bisa berinteraksi, bekerja sama, hingga mengenal banyak orang baru di ruang digital. Namun, tidak semua interaksi tersebut berjalan aman, terutama ketika anak mulai berkomunikasi dengan orang asing tanpa pendampingan orangtua.

Belakangan ini, publik dikejutkan dengan terbongkarnya kasus seorang streamer game yang diduga memanfaatkan komunitas permainan daring untuk mendekati anak di bawah umur. Kasus ini menjadi pengingat bahwa dunia game tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menyimpan risiko yang perlu diwaspadai.

Tidak sedikit orangtua yang mengira aktivitas bermain game sepenuhnya aman selama anak berada di rumah. Padahal, interaksi di balik layar sering kali luput dari pengawasan dan dapat membuka celah terjadinya tindakan yang membahayakan anak.

Agar Mama lebih memahami risiko yang dapat muncul dari aktivitas game online, Popmama.com merangkum Kasus grooming anak di dunia game, ini modus yang perlu diwaspadai orangtua.

Yuk, disimak!

Kronologi Terbongkarnya Kasus dan Modus Pelaku lewat Game Online

Seseorang sedang duduk di depan komputer
Freepik

Kasus ini bermula dari penyelidikan terhadap aktivitas seorang streamer game yang dikenal sebagai penjoki permainan Wuthering Waves. Dalam proses pemeriksaan, sejumlah akun media sosial, mulai dari TikTok hingga alamat email, ditelusuri untuk memastikan identitas dan jejak digital yang digunakan dalam aktivitas daring tersebut.

Pada proses tersebut, orangtua diminta untuk menyaksikan langsung pemeriksaan akun agar tidak terjadi penghapusan data. Dari penelusuran itu, ditemukan penggunaan lebih dari satu akun serta keterkaitan dengan akun milik orang terdekat, yang memunculkan kecurigaan adanya penyamaran identitas.

Modus pelaku dilakukan melalui dunia game online. Anak-anak diajak bergabung ke dalam grup Discord dengan iming-iming bantuan bermain, sesi tanya jawab, hingga pendampingan dalam menyelesaikan tugas terkait game. Status sebagai penjoki game dimanfaatkan untuk membangun kepercayaan anak dan membuat interaksi terasa aman.

Dari komunikasi yang terjalin di komunitas game tersebut, pelaku mulai mengumpulkan data dan membangun kedekatan secara bertahap. Pola ini menunjukkan bahwa ruang permainan daring dapat menjadi pintu masuk bagi pihak tidak bertanggung jawab untuk mendekati anak tanpa disadari orangtua.

Pemalsuan Identitas hingga Pengiriman Konten Dewasa

Seorang laki-laki sedang duduk di depan laptop dan memalsukan identitasnya
Freepik

Setelah berhasil menjalin komunikasi melalui komunitas game, pelaku mulai melakukan pemalsuan identitas untuk memperkuat kepercayaan anak. Kepada para korban, pelaku mengaku masih berusia 15 tahun dan berasal dari sejumlah daerah di Pulau Jawa, seperti Bandung dan Bekasi. Informasi tersebut disampaikan secara konsisten agar anak merasa sedang berinteraksi dengan teman sebaya.

Namun, hasil penelusuran digital menunjukkan fakta yang berbeda. Dari data biodata dan jejak transaksi yang terlacak, usia pelaku terbukti lebih tua dari pengakuan awal. Lokasi domisili juga tidak sesuai dengan keterangan yang sebelumnya disampaikan kepada anak.

Setelah kedekatan terbangun, interaksi mulai mengarah pada hal yang tidak pantas. Pelaku diketahui mengirimkan foto dan video berkonten dewasa kepada anak melalui platform komunikasi daring. Konten tersebut termasuk materi eksplisit yang tidak seharusnya diakses oleh anak.

Pola ini menunjukkan bagaimana pemalsuan identitas dapat digunakan sebagai alat untuk menurunkan kewaspadaan anak. Tanpa pendampingan orangtua, anak berisiko terpapar konten yang dapat berdampak buruk pada kondisi psikologis dan rasa aman.

Korban Anak di Bawah Umur dan Munculnya Istilah “Kasus PDF”

seseorang sedang duduk dan bermain game online tembak-tembakan di komputer
Freepik/DC Studio

Berdasarkan keterangan salah satu korban, kasus ini diketahui melibatkan setidaknya enam anak. Mayoritas korban masih berada di bawah umur, dengan rentang usia remaja awal. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa pelaku secara sengaja menyasar anak-anak melalui komunitas game online.

Seiring dengan meluasnya informasi di media sosial, kasus ini kemudian dikenal dengan sebutan “Kasus PDF”. Istilah tersebut digunakan warganet untuk merujuk pada praktik pelecehan terhadap anak yang bermula dari interaksi digital. Meski begitu, inti dari kasus ini tetaplah tindakan kejahatan siber yang membahayakan anak.

Terungkapnya jumlah korban menjadi perhatian serius bagi orangtua dan komunitas gaming. Interaksi yang awalnya terlihat wajar dalam permainan daring dapat berubah menjadi situasi berisiko ketika tidak ada pengawasan dan literasi digital yang memadai.

Mengapa Kasus Grooming di Dunia Game Berbahaya bagi Anak

Anak perempuan sedang bermain ponsel di balik selimutnya
Freepik

Kasus grooming di dunia game menunjukkan bahwa anak belum selalu memiliki kesiapan emosional untuk menghadapi manipulasi di ruang digital. Kedekatan yang dibangun melalui permainan dan komunikasi daring dapat membuat anak merasa aman, padahal situasi tersebut justru berisiko.

Dalam banyak kasus, pelaku memanfaatkan posisi sebagai sosok yang dianggap lebih ahli atau berpengaruh di dalam game. Ketimpangan relasi ini dapat membuat anak segan menolak atau mempertanyakan permintaan yang tidak pantas. Tanpa disadari, anak dapat terdorong untuk mengikuti arahan yang membahayakan diri.

Paparan konten tidak pantas juga berpotensi menimbulkan dampak psikologis jangka panjang, seperti rasa takut, bingung, hingga hilangnya kepercayaan diri. Oleh karena itu, pendampingan aktif dari orangtua menjadi sangat penting, terutama saat anak mulai aktif berinteraksi di komunitas game online.

Dengan komunikasi yang terbuka, orangtua dapat membantu anak memahami batasan yang aman di dunia digital. Pendekatan ini tidak hanya melindungi anak dari risiko grooming, tetapi juga membangun rasa percaya antara anak dan orangtua.

Itulah hal-hal penting yang perlu diperhatikan terkait Kasus grooming anak di dunia game, ini modus yang perlu diwaspadai orangtua. Dengan pendampingan yang tepat, anak bisa tetap aman saat bermain game online.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More

68 Anak Indonesia Terpapar Ideologi Neo-Nazi dan White Supremacy, Apa Itu?

19 Jan 2026, 14:51 WIBBig Kid