Jangan Dewasa Sebelum Waktunya, Biarkan Anak Berkembang Sesuai Usia

Zaman sekarang, anak usia 7-8 tahun sudah berperilaku seperti anak remaja

16 Oktober 2019

Jangan Dewasa Sebelum Waktunya, Biarkan Anak Berkembang Sesuai Usia
Freepik

Melihat tumbuh-kembang anak yang sangat pesat, merupakan kebahagiaan tiap orangtua. Rasanya baru kemarin menyambutnya lahir ke dunia, belajar berjalan, mendengarkan ocehan pertamanya dan kini ia telah usia jelang remaja.

Ketika ia masih kecil, dari baru lahir hingga usia batita, orangtua mungkin direpotkan dengan mengajarinya berbagai hal agar ia bisa mandiri. Ketika memasuki usia balita, anak terdorong rasa ingin tahu dan mencoba-coba apapun yang membuatnya penasaran sehingga menjadi tantangan orangtua untuk selalu mengawasi ke mana pun dan apapun yang dilakukannya.

Namun, memasuki usia jelang remaja, tantangannya berbeda. Anak sudah cukup mandiri melakukan berbagai hal dan kini ia punya batasan privasi dan kehendaknya sendiri. Panutannya tak lagi orangtuanya, melainkan teman sebaya dan tayangan yang ditontonnya di televisi atau internet. Bagaimana orangtua menyikapi masa-masa ini?

Terlalu Muda Menjadi Remaja, Terlalu Besar Dianggap Anak Kecil

Terlalu Muda Menjadi Remaja, Terlalu Besar Dianggap Anak Kecil
Freepik

Bahasa Inggris punya istilah untuk anak-anak pra remaja ini, yaitu 'tween'. Tween berarti usia-usia tanggung, di mana anak terlalu muda menjadi remaja, tetapi sudah cukup besar jika disebut anak-anak. Dulunya, anak usia 10-12 tahun dikategorikan sebagai tween, tetapi kini anak usia 7-8 tahun sudah memiliki cara berpikir dan berperilaku ala tween.

Di satu sisi, mereka masih suka bermain dengan benda-benda yang disukai anak-anak kecil, seperti boneka. Tetapi mereka juga mulai terpengaruh akan fashion dan gaya remaja, make up, skincare atau pun tayangan remaja di televisi dan Youtube.

Pada fase ini, anak seringkali mulai menunjukkan penolakan perilaku terhadap orangtua yang dianggapnya terlalu memanjakannya. Mereka mulai punya privasi dan otoritas terhadap kehendaknya sendiri. 

Hal ini seringkali terlihat menyebalkan bagi orangtua. Tetapi ingat, Ma, si Anak sendiri pun sebetulnya sedang mengalami kebingungan atas identitas dirinya. 

Jangan sampai ia bertumbuh lebih dewasa ketimbang usianya. Berikut ini beberapa saran dari Popmama.com menghadapi anak-anak usia 'tanggung' ini agar tetap bertumbuh layaknya perkembangan anak di usianya, terutama pada anak perempuan:

1. Pantau tontonan dan idolanya

1. Pantau tontonan idolanya
Freepik

Harus diakui, kini media sangat berperan penting dalam laku informasi yang diterima anak. Bukan sekadar berapa jam waktu yang dihabiskan anak dalam menonton tayangan di televisi atau internet, melainkan juga apa yang ditontonnya dan diserapnya.

Dilansir dari parents.com, Kaiser Family Foundation melaporkan bahwa anak usia 8-10 tahun menghabiskan lebih dari 17 jam per minggu di depan layar. Program-program yang berlabelkan untuk anak-anak pun, sebetulnya mengandung pesan dan produk-produk yang lebih tepat untuk anak remaja. 

Sebagai orangtua, kita tak mungkin serta-merta melarang anak menonton tayangan televisi dan internet. Yang perlu dilakukan adalah memantaunya. Temanilah anak saat menonton tayangan favoritnya, bertanyalah tentang apa yang dilakukan tokoh dalam tayangan tersebut dan mintalah pendapatnya. Dari sinilah Mama bisa menanamkan pengertian tentang nilai dan norma kehidupan, tanpa mengintimidasi dan reaktif berlebih.

Editors' Picks

2. Mendidik anak lebih dini soal pertumbuhan fisik

2. Mendidik anak lebih dini soal pertumbuhan fisik
Freepik/kristina_igumnova

Dibandingkan dua atau tiga dekade yang lalu, pertumbuhan fisik anak perempuan masa kini lebih cepat. Di usia 7 tahun, buah dada anak perempuan sudah mulai bertumbuh, bahkan rambut kemaluannya. Pada anak laki-laki, pertumbuhan ini mungkin tidak secepat anak perempuan.

Dengan perubahan ini, sebagian anak perempuan mengalami stres. Cara berpikir mereka mungkin masih seperti anak kecil, tetapi tubuhnya terus bertumbuh mendekati tubuh anak remaja. Ada anak-anak yang menjadi tidak percaya diri dan malu karena buah dadanya menonjol, tidak seperti teman-teman perempuan lainnya. 

"Bantu anak memahami bahwa apa yang terjadi pada tubuhnya adalah perubahan yang normal. Semua anak pun pada akhirnya akan mengalami apa yang dialaminya. Ia mungkin tumbuh lebih cepat, dan itu tidak apa-apa," ujar Elizabeth Hartley-Brewer, penulis Talking to Tweens: Getting It Right Before It Gets Rocky With Your 8- to 12-Year-Old.

Di usia ini, anak cukup dipengaruhi apa yang dilihatnya di media. Sosok yang lebih tua merupakan panutannya. Bisa jadi karenanya anak perempuan akan mengkhawatirkan berat badan mereka, sementara anak laki-laki risau akan tinggi badannya. Perasaan ini akan memengaruhi cara pikir anak, yang turut berdampak pada keputusannya berpakaian dan bertindak. Jadi, cobalah mengalihkan fokus dari penampilan fisik ke hal-hal nonfisik, misalnya keterampilan seni, kemampuannya menyelesaikan masalah dan lain-lain.
 

3. Biarkan anak menikmati masa kanak-kanaknya

3. Biarkan anak menikmati masa kanak-kanaknya
Freepik/Andrey.a.v

Di usia 'tanggung' ini, anak-anak masih sangat perlu dipacu kreativitas dan olah tubuhnya. Ia butuh rangsangan untuk mengeksplorasi kemampuan intelektualnya. Jadi, biarkan ia mencoba apapun yang ia inginkan, mulai dari olahraga, musik, seni lukis dan lain-lain, tanpa dibatasi waktu. 

Permainan yang tidak terstruktur aturan, seperti membangun kota atau bangunan dengan balok, bermain menjamu tamu atau jual-beli, bahkan bermain dengan boneka, sangatlah penting untuk perkembangannya dan menjaganya agar tetap lugu sesuai usianya.

Masalahnya, saat ini anak-anak telah mengenal gadget dan benda-benda teknologi lain yang seharusnya baru boleh diaksesnya di usia remaja. Mereka mengetahui kesenangan ini lebih dini. Sekali mereka berkenalan dengannya, mainan-mainan analog dan yang lebih sederhana menjadi tak lagi menarik. 

Hartley-Brewer berpendapat, "Anak Mama mungkin memiliki teman sebaya yang sudah punya ponselnya sendiri. Tetapi bukan berarti anak Mama juga perlu memiliknya. Orangtua seharusnya tidak terpengaruh akan tekanan teman sebaya anak-anaknya." Kalau pun Mama memutuskan memberikan ponsel untuk anak, batasi penggunaannya hanya untuk berkirim pesan teks dan telepon ke orangtua dan teman terdekat tertentu.

Orangtua mungkin tak dapat benar-benar mencegah datangnya 'badai' tween ini lebih dini. Tetapi dengan komunikasi yang kuat antar kedua orangtua dan anak, masa-masa ini akan dapat dilalui dengan baik. Mama memang tak dapat menghentikan perubahan yang terjadi pada diri anak, tetapi ingatlah bahwa orangtua punya kemampuan untuk mengarahkan dan mengendalikan.

Semoga tips ini berguna ya, Ma!

Baca Juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!