Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Alasan Mama Tidak Boleh Melarang Anak Menangis, Bisa Ganggu Mentalnya

4 min read
Alasan Mama Tidak Boleh Melarang Anak Menangis, Bisa Ganggu Mentalnya
Pexels/Ong Béo Studio - BH ĐN
  • Dr. Cathryn Tobin menegaskan tangisan adalah sinyal anak kewalahan menghadapi emosi, bukan kelemahan yang perlu dihentikan oleh orangtua.

  • Larangan menangis membuat anak menahan perasaan, tidak belajar regulasi emosi, serta berpotensi kesulitan mengenali emosi dan berempati saat dewasa.

  • Orangtua dianjurkan menemani, memvalidasi kesedihan dengan nada tenang, dan tetap membatasi tegas perilaku fisik destruktif saat anak meluapkan emosi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Melihat si Kecil menangis mungkin membuat orangtua refleks mengucapkan, "Sudah, jangan menangis lagi!"

​Sebenarnya, kebiasaan melarang anak mengekspresikan rasa sedihnya bisa berdampak buruk bagi kesehatan mentalnya, lho.

Hal ini ditegaskan langsung oleh Dr. Cathryn Tobin dalam konten edukasinya. Seorang dokter anak asal Kanada yang sudah berpengalaman selama lebih dari 40 tahun.

Menurutnya, menangis bukanlah bentuk kelemahan yang harus dihentikan, melainkan sinyal bahwa anak sedang kewalahan menghadapi emosi yang terlalu besar.

​Lantas, mengapa kebiasaan melarang anak menangis ini tidak diperbolehkan? Berikut Popmama.com rangkum alasannya!

  1. 1.​ Memaksa anak menyembunyikan emosi, bukan mengelolanya

    Anak berhenti menangis karena memendam perasaannya
    Pexels/Phumlani Nangu

    Mungkin ada sebagian Mama menganggap saat anak berhenti menangis setelah dilarang, artinya masalah telah selesai dan sudah tenang.

    Padahal yang terjadi sebenarnya justru sebaliknya, Ma. Anak tidak sedang menenangkan dirinya, melainkan hanya menahan perasaannya.

    Ketika anak mendengar ucapan seperti, "Jangan cengeng!" Otak anak malah menangkap pesan bahwa emosi sedih atau kecewa adalah sesuatu yang buruk dan tidak diterima.

    Secara psikologis dan perkembangan anak, respon penolakan ini berdampak mendalam pada dua hal:

    • ​Anak tidak diajarkan emotional regulation: Ketika opsi meluapkan ini ditutup, anak tidak pernah diajarkan bagaimana cara mengenali rasa sedih secara sehat.
    • ​Memendam perasaannya: Karena takut membuat orangtua marah, anak belajar untuk berpura-pura baik-baik saja. Kebiasaan memendam perasaan akan membentuk pola kepribadian anak yang tertutup dan enggan terbuka kepada orangtuanya.

  2. 2. Mengikis kemampuan regulasi emosi saat dewasa

    Melarang anak menangis bisa berakibat pada regulasi emosinya
    Pexels/Pragyan Bezbaruah

    Perlakuan melarang yang berulang saat anak sedang emosional akan membentuk pola pikir dan mekanisme pertahanan diri hingga ia dewasa.

    ​Ketika emosi anak secara konsisten diabaikan, anak tumbuh dengan keyakinan keliru bahwa perasaan sedih adalah hal yang melanggar aturan dan berbau negatif.

    Bila anak tidak pernah diberi ruang aman untuk memproses rasa sedih. Ia akan tumbuh menjadi orang dewasa yang kesulitan mengenali perasaannya sendiri.

    Saat menghadapi tekanan hidup, anak akan memendam emosinya rapat-rapat karena tidak tahu cara menyalurkannya secara sehat.

    Selain itu, dampak lainnya anak akan kesulitan memahami emosi orang lain.

    Kebiasaan menindas rasa sedih diri sendiri membuat ia canggung saat harus berempati pada pasangan, teman, atau lingkungan sekitarnya kelak.

  3. 3. Bagaimana cara yang tepat untuk mengatasi itu?

    Anak menangis
    Pexels/George Pak

    Menghadiri, menemani, dan berada di dekat anak yang sedang menangis sama sekali tidak akan membuat ia bergantung pada orangtua.

    Sebaliknya, tindakan ini merupakan bagian dari proses membangun rasa aman dalam dirinya.

    Secara psikologis, keberadaan Mama saat anak emosional memberikan pemahaman penting bagi mental anak:

    • Tanda penerimaan emosi: Saat Mama tetap berada di sisinya tanpa marah, anak menangkap rasa aman dan diterima.
    • ​Membangun anak yang resilien: Anak yang emosinya divalidasi dan didampingi tidak akan larut dalam kesedihannya selamanya. Justru, dukungan tersebut membantu anak belajar cara bangkit dari rasa kecewa.
    • ​Membatasi perilaku destruktif: Jika luapan emosi tersebut disertai aksi fisik yang buruk, maka tindakan tersebut harus Mama batasi dengan tegas.

  4. 4. Ganti "jangan menangis" dengan kalimat validasi yang menenangkan

    Dampingi anak saat menangis
    Pexels/https://kaboompics.com/

    Menghentikan kebiasaan melarang anak menangis memang membutuhkan latihan. Sebagai solusinya, Dr. Cathryn merekomendasikan Mama untuk mengganti kata "jangan menangis" dengan kalimat-kalimat empati yang memvalidasi emosi si Kecil.

    ​Tujuan dari kalimat validasi ini bukanlah membuat anak seketika diam, ya. Melainkan memberi tahu anak mama bahwa ia didengar, dipahami, dan didampingi saat emosinya sedang meluap.

    ​Berikut beberapa contoh kalimat rekomendasi dari Dr. Cathryn:

    ​"Nggak apa-apa kalau merasa sedih"

    Kalimat ini menegaskan kepada anak bahwa emosi sedih adalah hal yang tidak perlu disembunyikan atau ditakuti.

    ​"Semua perasaan itu wajar, kok"

    Memberikan pemahaman bahwa tidak ada emosi yang "salah", sehingga anak tidak merasa bersalah saat merasa kecewa.

    ​"Beri tahu Mama kalau kamu sudah siap untuk dipeluk, ya"

    Memberikan kenyamanan fisik tanpa memaksa anak yang mungkin masih butuh ruang saat emosional.

    ​"Mama ada di sini kalau kamu butuh bantuan"

    Menegaskan kehadiran orangtua sebagai tempat aman saat anak merasa kewalahan menghadapi masalahnya.

    ​Dr. Cathryn mengingatkan untuk menyampaikannya dengan nada suara yang tenang, posisi tubuh sejajar dengan mata anak, dan tanpa gestur terburu-buru.

    Itulah alasan mengapa Mama tidak boleh melarang anak menangis. Dengan menerapkan bimbingan dari Dr. Cathryn, pelan-pelan latih diri untuk menghentikan ucapan "jangan menangis" dan menggantinya dengan dekapan hangat serta kalimat validasi.

    Bagaimana dengan Mama? Kalimat apa yang biasanya paling ampuh untuk menenangkan saat ia sedang menangis atau tantrum di rumah?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More