Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
6 Hal yang Dapat Membuat Anak Usia 2 Tahun Sedih, Orangtua Perlu Tahu
Pexels/helenalopes
  • Anak usia 2 tahun sedang belajar mandiri dan mengekspresikan emosi, namun keterbatasan bahasa membuat mereka mudah sedih saat tidak dipahami atau dipaksa berbagi.
  • Perubahan mendadak, kontrol berlebihan, dan perlakuan memalukan dapat membuat anak merasa kehilangan kendali serta menurunkan rasa percaya diri mereka.
  • Overstimulation akibat aktivitas padat atau lingkungan ramai bisa memicu tangisan dan tantrum, sehingga penting menjaga rutinitas serta memberi waktu istirahat yang cukup.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat memasuki usia 2 tahun, anak mulai mengalami banyak perkembangan, terutama dalam aspek emosi dan kemandirian. Pada fase ini, si Kecil mulai memiliki keinginan sendiri, ingin mencoba banyak hal, serta belajar mengekspresikan perasaannya. Namun, karena kemampuan bahasa mereka masih terbatas, anak sering kali menunjukkan emosinya melalui tangisan atau rewel.

Dilansir dari Instagram @ifilutpiah_, ada beberapa hal yang dapat membuat anak usia 2 tahun menjadi sangat sedih.

 Berikut 6 alasan yang sudah Popmama.com rangkum.

1. Dipaksa berbagi

Pexels/Jepgambardella

Di usia 2 tahun, anak sedang berada dalam fase belajar memahami konsep kepemilikan. Mereka mulai mengenal “ini milikku” dan menyadari bahwa dirinya bisa memilih sesuatu. Karena itu, memaksa anak untuk langsung berbagi dapat membuatnya merasa kehilangan kontrol terhadap barang yang dianggap penting.

Selain itu, anak usia toddler masih berada pada fase egosentris. Artinya, mereka melihat dunia dari sudut pandang dirinya sendiri dan belum sepenuhnya mampu memahami perspektif orang lain. Ketika dipaksa berbagi, anak bisa merasa frustrasi karena belum siap secara emosional.

Bukan berarti Mama tidak perlu mengajarkan berbagi. Sebaliknya, Mama bisa mulai mengenalkan empati secara perlahan. Misalnya dengan memberi contoh bergantian atau menunggu giliran. Dengan cara ini, anak belajar berbagi tanpa merasa dipaksa.

2. Tidak didengar

Pexels/Vikaglitter

Tidak didengar bisa menjadi pengalaman yang sangat menyedihkan bagi anak usia 2 tahun. Pada tahap ini, mereka sudah memiliki banyak keinginan, tetapi kemampuan bahasa masih terbatas. Anak mungkin hanya bisa mengucapkan satu kata untuk menyampaikan maksud yang lebih panjang.

Ketika orang dewasa tidak memahami atau mengabaikan usaha komunikasi tersebut, anak bisa merasa frustrasi. Mereka sebenarnya sedang berusaha menyampaikan kebutuhan, tetapi tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya dengan jelas.

Akibatnya, anak lebih mudah menangis atau tantrum. Bukan karena ingin membangkang, tetapi karena merasa tidak dipahami. Mama bisa membantu dengan mencoba menebak maksud anak dan mengulanginya dalam kalimat sederhana. Hal ini membantu anak merasa didengar sekaligus mendukung perkembangan bahasanya.

3. Transisi yang tiba-tiba

Pexels/Paveldanilyuk

Perubahan aktivitas secara mendadak juga dapat membuat anak usia 2 tahun sedih. Misalnya saat anak sedang asyik bermain lalu tiba-tiba diminta berhenti, harus pulang, atau langsung berganti aktivitas. Perubahan tanpa persiapan ini bisa membuat anak merasa tidak siap.

Anak usia toddler biasanya membutuhkan waktu untuk beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Ketika transisi terjadi secara mendadak, anak bisa merasa kehilangan kontrol dan akhirnya menangis.

Mama bisa membantu dengan memberikan pemberitahuan sebelumnya. Misalnya mengatakan, “Lima menit lagi kita pulang ya.” Cara lain yang bisa dicoba adalah menggunakan lagu sebagai tanda transisi, seperti menyanyikan lagu “Mari Pulang” saat waktu bermain selesai. Metode ini membantu anak memahami perubahan dengan lebih nyaman.

4. Terlalu banyak dikontrol

Pexels/MonsteraProduction

Terlalu sering mengatakan “jangan itu”, “bukan begitu”, atau “harus begini” juga bisa membuat anak sedih. Di usia sekitar 2 tahun, anak sedang berada dalam fase ingin mandiri. Mereka memiliki dorongan kuat untuk mencoba melakukan berbagai hal sendiri.

Anak mungkin ingin makan sendiri, memakai sepatu, atau membawa barang tanpa bantuan. Ketika terlalu banyak dikontrol, anak bisa merasa tidak dipercaya. Hal ini dapat membuatnya frustrasi dan kehilangan kesempatan untuk belajar.

Mama bisa memberi pilihan sederhana agar anak tetap merasa memiliki kontrol. Misalnya memilih sepatu sendiri atau menentukan warna baju. Dengan begitu, anak tetap belajar mandiri tanpa merasa dibatasi.

5. dipermalukan

Pexels/Annashvets

Hal kecil yang mungkin terlihat biasa bagi orang dewasa bisa terasa menyakitkan bagi anak. Misalnya saat toilet training, anak dimarahi atau diberi komentar seperti “ih jorok” atau “ih jijik”. Respons seperti ini bisa membuat anak merasa malu dengan tubuhnya sendiri.

Di usia 2 tahun, anak sedang belajar memahami fungsi tubuh dan kebiasaan baru. Jika ia dipermalukan, anak bisa merasa tidak nyaman dan bahkan takut mencoba lagi. Hal ini dapat menghambat proses belajar seperti toilet training.

Sebaliknya, Mama bisa memberikan respons yang lebih tenang dan suportif. Misalnya dengan mengatakan bahwa tidak apa-apa jika masih belajar. Dukungan seperti ini membantu anak merasa aman dan percaya diri.

6. Overstimulation

Pexels/Katrinbolotsova

Ketika anak tiba-tiba rewel, penyebabnya tidak selalu karena anak nakal. Anak usia 2 tahun sangat mudah mengalami overstimulation atau kelelahan akibat terlalu banyak rangsangan. Misalnya karena aktivitas terlalu padat, kurang tidur, atau lingkungan yang terlalu ramai. Terlalu banyak suara, cahaya, atau interaksi juga dapat membuat anak kewalahan. Karena belum mampu mengatur emosinya dengan baik, anak biasanya mengekspresikan kondisi ini dengan menangis atau tantrum.

Mama bisa membantu dengan memperhatikan tanda-tanda anak mulai lelah. Memberikan waktu istirahat, menjaga rutinitas tidur, dan menciptakan suasana yang lebih tenang dapat membantu anak merasa lebih nyaman. Dengan begitu, si Kecil juga lebih mudah mengatur emosinya.

Sebagai rekomendasi, Mama bisa mencoba lebih peka terhadap sinyal emosi anak usia 2 tahun dan memberikan respons yang tenang serta suportif. Di fase ini, anak masih belajar memahami perasaannya, sehingga dukungan dari orang tua sangat penting. Dengan komunikasi yang lembut, rutinitas yang konsisten, serta memberi ruang anak untuk mencoba sendiri, si Kecil akan merasa lebih aman dan emosinya pun lebih stabil.

Editorial Team