Mendidik si Kecil dalam Islam bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik dan materi saja ya, Ma.
7 Cara Belajar Parenting Rasulullah SAW untuk Kebaikan Anak

Parenting Islami terbaik adalah dengan meneladani cara mendidik Rasulullah SAW demi membentuk karakter anak yang saleh dan berakhlak mulia.
Langkah nyata yang bisa diterapkan di rumah meliputi pembiasaan adab, disiplin salat, menumbuhkan cinta agama, menjaga keikhlasan niat, hingga mengawasi pergaulan si Kecil.
Parenting ini membutuhkan kekompakan orangtua serta konsistensi penuh kasih sayang agar nilai-nilai kebaikan melekat kuat di dalam diri si Kecil.
Lebih dari itu, pola parenting yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW merupakan fondasi utama untuk membentuk karakter anak yang mulia, beriman, dan selamat dunia akhirat.
Meneladani cara mendidik ala Nabi Muhammad SAW akan membantu orangtua mengarahkan potensi terbaik si Kecil agar tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan salihah.
Berikut Popmama.com rangkum 7 cara belajar parenting berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW untuk kebaikan si Kecil!
Table of Content
1. Meluruskan niat dalam mengasuh anak

Ketulusan hati orangtua dalam mendidik si Kecil sangat menentukan keberkahan dan nilai spiritual dari setiap usaha parenting yang dilakukan.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Innamal a'maalu bin-niyyaat.
Arti: "Amal itu tergantung pada niatnya." (HR Bukhari)
Bentuk evaluasi spiritual untuk Mama dalam mendidik anak di rumah adalah:
Lakukan afirmasi positif setiap pagi, sebelum memulai kesibukan mengurus rumah tangga, Mama bisa meluangkan waktu satu menit untuk meniatkan seluruh rasa lelah dalam merawat si Kecil murni sebagai ibadah untuk mencari rida Allah SWT.
Fokus memuji proses dan usaha kebaikan anak, saat si Kecil belajar, usahakan untuk tidak hanya fokus memuji hasil nilai akademisnya saja. Mama bisa mengutamakan pujian pada sikap jujur, kesabaran, dan usaha keras yang sudah ditunjukkan si Kecil.
Biasakan berdoa bersama setelah beraktivitas, ajarkan si Kecil untuk selalu mengakhiri kegiatan belajar atau menyelesaikan tugas sekolah dengan membaca doa bersama, sebagai bentuk syukur dan pembiasaan untuk berserah diri pada ketetapan-Nya.
Menjaga keikhlasan niat dalam mengasuh akan mengubah setiap lelah dan peluh orangtua menjadi ladang pahala yang berharga.
2. Menyadari tanggung jawab parenting

Parenting merupakan sebuah tugas kepemimpinan bersama yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya secara mutlak di hadapan Allah.
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Kullukum raa'in wa kullukum mas-uulun 'an ra'iyyatihi.
Arti: "Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya." (HR Bukhari)
Untuk mewujudkan hal tersebut, strategi kekompakan Papa dan Mama dalam mengelola rumah tangga dapat diperkuat dengan:
Bagi tugas mengasuh anak secara kompak, Mama dan Papa harus satu suara dalam menerapkan aturan di rumah, misalnya menyepakati bersama batasan waktu bermain gadget agar si Kecil tidak mencari celah kelonggaran dari salah satu pihak.
Sediakan waktu berkualitas tanpa gadget, sediakan waktu khusus minimal 30 menit setiap hari untuk fokus mendampingi si Kecil bermain atau mengobrol tanpa ada gangguan dari notifikasi ponsel pintar milik Mama dan Papa.
Agendakan forum diskusi keluarga yang santai, Mama bisa membuat sesi ngobrol bareng mingguan untuk mendengarkan keluh kesah, keinginan, atau mendengarkan masukan dari si Kecil mengenai kenyamanan mereka selama berada di dalam rumah.
Kesadaran bersama mengenai amanah kepemimpinan ini akan membuat orangtua lebih kompak dan serius dalam mendampingi tumbuh kembang si Kecil.
3. Memuliakan anak dengan memperbaiki adab

Langkah pertama yang paling mendasar dalam parenting Islami adalah menanamkan nilai-nilai kesopanan dan memberikan penghormatan yang layak kepada si Kecil sebagai manusia.
أَكْرِمُوْا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوْا آدَابَهُمْ
Akrimuu aulaadakum wa ahsinuu aadaabahum.
Arti: "Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka." (HR Ibnu Majah)
Untuk memulai hal tersebut, langkah praktis untuk menanamkan sopan dan santun pada si Kecil yang bisa Mama coba di rumah adalah:
Gunakan tutur kata yang lembut, dalam kehidupan sehari-hari, Mama bisa membiasakan diri untuk memanggil si Kecil dengan nama kesayangan yang bermakna baik. Menghindari bentakan atau kata-kata kasar saat menegur kesalahan si Kecil adalah salah satu cara memuliakan perasaan mereka di rumah.
Ajarkan 3 kata ajaib sejak dini, Mama bisa melatih sopan santun si Kecil lewat pembiasaan tiga kata penting, yaitu mengucapkan kata "tolong" saat meminta bantuan, "maaf" ketika melakukan kesalahan, dan "terima kasih" setelah menerima kebaikan dari anggota keluarga lain.
Aktif mendengarkan, ketika si Kecil sedang ingin bercerita tentang harinya, cobalah untuk menghentikan aktivitas sejenak, tatap matanya, dan dengarkan dengan penuh perhatian. Hal sederhana ini membuat si Kecil merasa dihargai dan didengarkan oleh orangtuanya.
Dengan memuliakan dan memperbaiki adab si Kecil sejak dini, Mama sedang membangun pondasi karakter yang kuat agar anak tumbuh menjadi pribadi yang beretika tinggi.
4. Menanamkan kebiasaan salat sejak dini

Menanamkan disiplin ibadah wajib membutuhkan pembiasaan yang konsisten dan dilakukan dengan penuh kasih sayang sejak anak-anak.
Sesuai hadis Rasulullah yang berbunyi:
مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ
Muruu aulaadakum bis-shalaati wa hum abnaau sab'i siniin.
Arti: "Suruhlah anak-anakmu shalat pada usia tujuh tahun." (HR Muslim)
Tips membangun disiplin salat yang bisa Mama terapkan di rumah di antaranya adalah:
Buat jadwal salat berjamaah, untuk membangun kedekatan spiritual, Mama dan Papa bisa membuat rutinitas salat Maghrib atau Subuh berjamaah di rumah. Momen ini sekaligus melatih si Kecil untuk memahami pentingnya beribadah bersama keluarga.
Sediakan perlengkapan salat yang menarik, meningkatkan semangat ibadah si Kecil bisa dilakukan dengan menghadiahi mereka perlengkapan saalat baru, seperti sejadah, mukena, atau sarung dengan motif dan warna kesukaan yang mereka pilih sendiri.
Berikan apresiasi atas usahanya, jangan ragu untuk memberikan pujian yang tulus atau pelukan hangat setiap kali melihat si Kecil menunjukkan inisiatif sendiri untuk mengambil wudu dan bersiap salat tanpa harus disuruh berulang kali.
Melatih si Kecil shalat di usia tujuh tahun adalah bentuk pengenalan disiplin spiritual yang akan membentengi diri mereka hingga dewasa kelak.
5. Menumbuhkan cinta kepada Nabi dan Al-Qur'an

Membangun kecintaan terhadap figur-figur suci dan kitab suci merupakan pilar utama dalam memperkokoh keimanan di dalam hati anak.
Sesuai dengan hadis yang diriwayatkan At-Tirmidzi sebagai berikut:
أَدِّبُوا أَوْلَادَكُمْ عَلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ حُبِّ نَبِيِّكُمْ وَحُبِّ أَهْلِ بَيْتِهِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
Addibuu aulaadakum 'alaa thalaathi khisaalin: hubbi nabiyyikum, wa hubbi ahli baitihi, wa qiraaatil qur'aan.
Arti: "Didiklah anakmu mencintai Nabi, keluarganya, dan membaca Al-Qur’an." (HR At-Tirmidzi)
Cara-cara kreatif untuk mengenalkan agama lewat aktivitas harian di rumah adalah:
Rutin membacakan kisah nabi sebelum tidur, daripada sekadar dongeng biasa, Mama bisa memanfaatkan bedtime story untuk membacakan kisah-kisah keteladan Nabi Muhammad SAW yang dikemas secara menarik agar si Kecil bisa meniru sifat mulia beliau.
Putar lantunan ayat suci di area rumah, menciptakan lingkungan yang tenang bisa dimulai dengan rajin memutar murrotal Al-Qur'an di rumah, terutama saat sore hari, menjelang waktu tidur, atau ketika si Kecil sedang bersantai.
Adakan sesi mengaji bersama setelah maghrib, sediakan waktu khusus sekitar 10 hingga 15 menit setiap harinya untuk mendampingi si Kecil belajar membaca Iqra atau Al-Qur'an, sehingga aktivitas membaca kitab suci menjadi bagian dari kebiasaan harian mereka.
Ketika hati si Kecil sudah dipenuhi rasa cinta kepada Nabi dan Al-Qur'an, mereka akan memiliki kompas moral yang kuat dalam menjalani kehidupan.
6. Mengutamakan pendidikan karakter

Memberikan pendidikan moral dan agama yang berkualitas kepada si Kecil dinilai sebagai investasi terbaik yang nilainya melampaui sumbangan materi.
لِأَنْ يُؤَدِّبَ الرَّجُلُ وَلَدَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ
Li-an yu-addibar-rajulu waladahu khairun lahu min an yatashaddaqa bishaa'.
Arti: "Seseorang mendidik anaknya itu lebih baik baginya daripada ia bersedekah satu sha'." (HR At-Tirmidzi)
Metode efektif untuk membentuk akhlak mulia si Kecil yang bisa diterapkan adalah:
Ajarkan konsep berbagi lewat hal kecil, Mama bisa melatih jiwa sosial si Kecil di rumah dengan membiasakan mereka mau membagi camilan makanan atau bergantian menggunakan mainan secara adil bersama kakak atau adiknya.
Berikan contoh keteladan nyata dari orangtua, mengingat si Kecil meniru orangtuanya, pastikan Mama dan Papa selalu menunjukkan sikap jujur, disiplin waktu, dan bertanggung jawab di depan si Kecil agar perilaku baik tersebut otomatis dicontoh oleh mereka.
Lakukan evaluasi harian yang hangat, setiap malam sebelum memejamkan mata, ajak si Kecil mengobrol santai mengenai hal baik apa saja yang sudah mereka lakukan hari ini, sekaligus memperbaiki kekeliruan sikap yang mungkin tidak sengaja mereka perbuat.
Fokus pada perbaikan karakter dan pemahaman agama si Kecil adalah bentuk hadiah paling mulia yang bisa diberikan orangtua untuk masa depan mereka.
7. Menjaga lingkungan dan teman pergaulan anak

Karakter dan kebiasaan si Kecil sangat mudah terbentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan terdekat serta dengan siapa mereka menghabiskan waktu.
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Ar-rajulu 'alaa diini khaliilihi, falyanzhur ahadukum man yukhaaliil.
Arti: "Seseorang bergantung pada agama temannya. Maka hendaknya ia melihat dengan siapa dia berteman." (HR Abu Dawud)
Upaya dalam memantau lingkungan sosial anak yang bisa Mama terapkan di rumah adalah:
Kenali teman dekat si Kecil dengan baik, sempatkan waktu untuk menyapa, berkenalan, atau sekadar mengobrol ringan dengan teman-teman bermain si Kecil saat mereka datang berkunjung ke area rumah.
Fasilitasi tempat bermain yang aman di rumah, Mama bisa mengizinkan si Kecil mengundang temannya untuk belajar atau bermain di rumah, sehingga Mama bisa memantau cara mereka berinteraksi dan gaya bahasa yang digunakan.
Berikan pemahaman tentang batasan pergaulan, lewat obrolan santai, berikan pemahaman kepada si Kecil mengenai mana perilaku teman yang membawa dampak positif dan boleh ditiru, serta mana kebiasaan buruk yang harus mereka hindari dengan tegas.
Dengan memastikan si Kecil berada di lingkaran pertemanan yang positif, Mama telah membantu menjaga kesucian hati dan keluhuran akhlak si Kecil dari pengaruh luar.
Menerapkan pola parenting yang diajarkan oleh Rasulullah SAW memang membutuhkan kesabaran, kelapangan dada, dan konsistensi yang tinggi dari kita sebagai orangtua ya, Ma.
Semoga ketujuh poin panduan parenting Islami di atas bisa menjadi refleksi yang bermanfaat bagi Mama dan Papa dalam membimbing si Kecil menuju jalan yang diridai-Nya.



















