Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Jangan Didik Anak Laki-Laki yang Bersifat Toxic Masculinity

3 min read
Jangan Didik Anak Laki-Laki yang Bersifat Toxic Masculinity
Magnific.com/jcomp
  • Orangtua perlu menghindari pola asuh lama yang berpotensi membentuk toxic masculinity, karena perlakuan sejak kecil memengaruhi kepribadian dan kemandirian anak laki-laki saat dewasa.

  • Anak laki-laki perlu dibiasakan mengerjakan pekerjaan rumah, seperti menyapu, mencuci piring, dan merapikan kamar, sebagai bekal kemandirian ketika kelak hidup sendiri.

  • Anak laki-laki perlu bebas mengekspresikan emosi serta diajarkan memperlakukan perempuan dengan empati, menghargai batasan, dan tidak melampiaskan emosi secara kasar atau agresif.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sebagai orangtua yang memiliki anak laki-laki tentu memiliki tantangan tersendiri yang tidak mudah. 

Banyak dari Mama atau Papa yang tanpa sadar masih terbawa pola asuh lama saat mendidik si Kecil di rumah. 

Padahal, cara orangtua memperlakukan anak hari ini akan sangat menentukan bagaimana kepribadian mereka saat dewasa nanti, lho.

Tanpa disadari, beberapa kebiasaan kecil dalam mendidik anak laki-laki justru berpotensi membentuk karakter yang kurang mandiri. 

Hal ini tentu menjadi pengingat bagi orangtua agar tidak salah langkah dalam mengawal tumbuh kembang anak. 

Oleh karena itu, penting bagi Mama dan Papa untuk mengenali berbagai kekeliruan pola asuh yang kerap dianggap sepele padahal dampaknya besar!

Tenang aja Ma, Popmama.com punya rangkuman dan penjelasan mengapa jangan didik anak laki-laki yang bersifat toxic masculinity.

Yuk disimak, Ma!

  1. 1. Tidak membiasakan anak laki-laki mengerjakan pekerjaan rumah

    Anak laki-laki sedang mengepel
    Pinterest.com/luongphamm

    Ma, masih suka berpikir gak bahwa pekerjaan rumah harus dilakukan oleh perempuan?

    Kalau masih berpikir seperti itu, segera dihentikan ya, Ma!

    Karena pekerjaan rumah adalah tugas siapa saja yang menempati rumah tersebut. 

    Banyak orangtua menganggap remeh keterlibatan anak laki-laki dalam urusan membersihkan rumah sehari-hari. 

    Padahal tugas seperti menyapu, mencuci piring, hingga merapikan kamar adalah bekal kemandirian yang penting untuk si Kecil nantinya. 

    Keterampilan dasar ini akan sangat berguna ketika mereka harus hidup sendiri di masa depan, Ma.

    Sebagai orangtua, kita tentu tidak akan bisa mendampingi mereka selamanya dalam segala situasi. 

    Oleh karena itu, melatih mereka mandiri sejak kecil adalah bentuk pelajaran dan kasih sayang yang nyata. 

  2. 2. Melarang anak laki-laki untuk menangis

    Anak laki-laki menangis
    Pinterest.com/hailxys

    Setiap manusia pasti memiliki perasaan dan pikiran ya, Ma. 

    Begitu juga dengan anak laki-laki Mama dan Papa!

    Hanya karena anak laki-laki akan menjadi pemimpin rumah tangga nantinya, bukan berarti ia tidak boleh menangis dan harus kuat terus, lho.

    Stigma bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis masih sering ada dalam lingkungan keluarga di Indonesia. 

    Padahal, baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama untuk merasakan dan mengekspresikan emosi. 

    Larangan untuk menangis justru membuat anak terbiasa memendam perasaan sedih atau kecewa yang dialaminya. 

    Akibatnya Ma, si Kecil akan tumbuh menjadi pribadi yang kesulitan mengelola emosi dengan baik. 

    Jika dibiarkan, dampaknya akan panjang dan menyebabkan gangguan kesehatan mental pada anak. 

  3. 3. Kurang memberikan contoh cara memperlakukan perempuan dengan baik

    Anak laki-laki dan anak perempuan
    Pinterest.com/Aliceapple

    Anak laki-laki sering kali dibiarkan melampiaskan emosi dengan cara berkata kasar atau bahkan bersikap agresif kepada orang lain. 

    Tanpa arahan yang tepat dari Mama dan Papa, si Kecil bisa tumbuh menjadi pribadi yang kurang menghargai sesama, termasuk lawan jenis. 

    Orangtua perlu mengajarkan cara berinteraksi yang penuh empati dan kasih sayang kepada perempuan di sekitar anak. 

    Salah satu cara efektif adalah mengajak mereka memposisikan diri agar paham bagaimana rasanya disakiti, Ma.

    Dengan begitu, si Kecil akan belajar menghargai batasan dan menjaga sikap dalam kesehariannya.

    Mendidik anak laki-laki agar tumbuh menjadi sosok yang mandiri, peka, dan bertanggung jawab memang membutuhkan kesabaran ekstra, ya.

    Gimana, Ma, sudah paham rangkuman dan penjelasan mengapa jangan didik anak laki-laki yang bersifat toxic masculinity?

    Evaluasi kecil yang Mama dan Papa lakukan hari ini akan memberikan dampak yang sangat besar bagi masa depan si Kecil, lho. 

    Yuk ubah pola asuh lama demi melahirkan generasi masa depan yang lebih berempati pada sesama.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More