Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Waspada, Polio Sering Serang Anak Usia di Bawah 5 Tahun!
Dok. Pemerintah kota Bima Dinas Kesehatan Puskesmas Jatibaru
  • Polio adalah infeksi virus yang menyerang anak di bawah lima tahun dan dapat menyebabkan kelumpuhan permanen dalam hitungan jam jika tidak dicegah dengan imunisasi lengkap.

  • Virus polio menular lewat kontak dengan kotoran, makanan atau minuman tercemar, serta percikan air liur, terutama di lingkungan dengan sanitasi buruk dan daya tahan tubuh lemah.

  • Hingga kini belum ada obat untuk menyembuhkan polio; pencegahan terbaik dilakukan melalui vaksin tetes dan suntik sesuai jadwal imunisasi nasional bagi balita dan orang dewasa berisiko.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Melihat anak tumbuh dengan sehat, aktif bergerak, dan ceria tentu menjadi kebahagiaan terbesar bagi setiap orangtua di rumah. 

Namun, di balik keceriaan tersebut, Mama tetap harus selalu waspada terhadap berbagai ancaman penyakit menular berbahaya yang bisa mengancam masa depan buah hati, salah satunya adalah polio

Berikut Popmama.com rangkum 7 poin mendalam mengenai bahaya polio, gejala, hingga panduan pemberian perlindungannya!

1. Bahaya infeksi polio yang menyasar sistem saraf anak

Dok. Pemerintah kota Bima Dinas Kesehatan Puskesmas Jatibaru

Hal pertama yang sangat penting untuk dipahami adalah bahwa polio merupakan penyakit infeksi akibat serangan virus yang menyerang anak-anak usia di bawah 5 tahun. 

Kelompok anak yang belum genap mendapatkan pemenuhan zat pelindung atau imunisasi secara lengkap menjadi sasaran yang paling rentan terhadap serangan virus ini. 

Ketika berhasil masuk ke dalam tubuh, virus berbahaya ini akan bergerak cepat menyerang sistem saraf pusat dan dapat mengakibatkan kelumpuhan total yang terjadi hanya dalam hitungan jam saja. 

Kondisi kelumpuhan ini bersifat permanen serta tidak bisa disembuhkan, di mana satu dari dua ratus kasus infeksi dipastikan akan berakhir pada kelumpuhan total yang merusak masa depan fisik anak untuk selamanya.

2. Gejala tanpa kelumpuhan yang sering kali mengecoh

Pexel/Helena Jankovicova Kovacova

Banyak orangtua yang tidak menyadari bahwa anak telah terpapar karena pada awalnya virus ini sering kali tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas atau hanya memicu gejala ringan. 

Jenis pertama yang perlu diwaspadai adalah jenis yang tidak menyebabkan kelumpuhan atau dikenal dengan sebutan nonparalisis. Tanda-tanda dari jenis ini  adalah: 

  • Biasanya muncul dalam waktu kurang dari tiga minggu setelah tubuh terpapar virus

  • Muncul dengan keluhan berupa demam, sakit kepala, radang pada tenggorokan, hingga muntah

  • Mengeluhkan otot yang terasa lemah, kekakuan pada bagian leher serta punggung

  • Rasa nyeri dan mati rasa pada bagian lengan atau tungkai kaki yang biasanya akan mereda sendiri dalam waktu sepuluh hari

3. Gejala kelumpuhan permanen

Pexels/Deden Hendrawan

Jenis kedua yang jauh lebih menakutkan adalah jenis paralisis atau kondisi infeksi yang langsung menyerang saraf tulang belakang serta otak hingga memicu kelumpuhan permanen. 

Gejala awal jenis ini memang terlihat mirip dengan jenis ringan, gejalanya adalah:

  • Dalam waktu satu minggu anak akan mulai kehilangan refleks tubuh

  • Mengalami ketegangan otot yang terasa sangat nyeri

  • Lengan atau tungkai kaki lemas terkulai

Untuk memastikan apakah kondisi tersebut benar-benar disebabkan oleh serangan virus ini, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada refleks tubuh anak. 

Dokter juga akan mengambil sampel dahak dari tenggorokan, sampel kotoran, atau cairan otak untuk mendeteksi keberadaan virus secara pasti di dalam laboratorium.

4. Penyebaran virus polio

Pexels/fauxels

Penyakit ini disebabkan oleh virus polio yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui rongga mulut atau hidung, lalu mengalir dan menyebar ke seluruh tubuh melalui bantuan aliran darah, Ma. 

Cara penularan yang paling sering terjadi adalah melalui: 

  • Kontak langsung dengan kotoran penderita 

  • Mengonsumsi makanan dan minuman yang telah tercemari oleh virus tersebut

  • Menyebar lewat percikan air liur saat penderita sedang batuk atau bersin di dekat orang lain

  • Semakin drastis jika anak tinggal di daerah dengan tingkat kebersihan lingkungan yang buruk, keterbatasan akses air bersih, sedang mengandung, memiliki daya tahan tubuh lemah seperti penderita AIDS, atau merawat anggota keluarga yang sakit

5. Pengobatan gejala dan perawatan pendukung di rumah sakit

Pexels/Michelle Leman

Hingga detik ini, dunia medis belum menemukan satu pun obat yang terbukti efektif untuk menyembuhkan atau mematikan virus polio jika sudah terlanjur menginfeksi tubuh manusia. 

Tindakan medis yang diberikan oleh dokter hanya bertujuan untuk meredakan rasa sakit, mempercepat pemulihan gejala fisik, serta mencegah terjadinya komplikasi yang lebih parah. 

Dokter biasanya akan meresepkan obat pereda nyeri seperti ibuprofen untuk menurunkan demam, memberikan antibiotik jenis ceftriaxone jika ada infeksi bakteri tambahan seperti infeksi saluran kemih, serta memberikan obat pelemas otot seperti tolterodine dan scopolamine untuk mengurangi ketegangan. 

Pada kondisi yang parah, dokter akan memasang alat bantu pernapasan, menyarankan terapi fisik, hingga tindakan operasi.

6. Bahaya komplikasi jangka panjang hingga sindrom pascapolio

Pexels/Ksenia Chernaya

Serangan polio jenis kelumpuhan dapat memicu berbagai komplikasi berat yang sangat merugikan masa depan anak, mulai dari cacat fisik, kelainan bentuk tungkai dan pinggul, hingga kelumpuhan saraf pernapasan yang berujung kematian. 

Tidak hanya itu, penderita yang pernah sembuh juga berisiko mengalami serangan gejala berulang yang dikenal sebagai sindrom pascapolio setelah tiga puluh tahun kemudian. 

Gejala sindrom jangka panjang ini meliputi: 

  • Otot dan sendi yang semakin melemah

  • Gangguan tidur

  • Depresi

  • Sulit menelan

  • Penurunan fungsi memori atau gangguan ingatan

Oleh karena itu, pemerintah rutin mengadakan Pekan Imunisasi Nasional untuk memberikan tetes pelindung tambahan bagi seluruh balita tanpa memandang status kelengkapan imunisasi mereka sebelumnya.

7. Jadwal pemberian vaksin tetes dan suntik

Dok. Pemerintah kota Bima Dinas Kesehatan Puskesmas Jatibaru

Pemberian cairan pelindung tetes wajib diberikan berturut-turut pada beberapa usia, di antaranya:

  • Dosis polio-1 diberikan saat usia 2 bulan

  • Dosis polio-2 diberikan saat usia 3 bulan

  • Dosis polio-3 diberikan saat usia 4 bulan

  • Dosis terakhir diberikan pada usia 18 bulan sebagai dosis booster

Jika anak memuntahkan vaksin tetes dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Mama harus segera meminta petugas memberikan dosis ulang yang sama, atau menundanya keesokan hari jika anak terus muntah. 

Perlindungan ini juga penting bagi orang dewasa yang belum pernah imunisasi berupa tiga dosis vaksin suntik dengan jeda waktu tertentu, terutama bagi yang ingin bepergian ke daerah wabah aktif.

Itulah, Ma, informasi mengenai polio. Apakah Mama sudah menjaga kebersihan sanitasi di rumah dan sekitar anak?

Editorial Team

Related Article