Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Cara Mengajarkan Anak Jujur dengan Tepat dan pada Tempatnya
Pexels/Kampus Production
  • Pentingnya mengajarkan anak jujur sejak dini sambil memahami batasan privasi keluarga agar tidak semua informasi pribadi dibagikan kepada orang lain.

  • Konsep boundaries membantu anak mengenali mana informasi yang aman dibagikan dan melatih mereka menjaga keamanan diri di dunia nyata maupun digital.

  • Orangtua diajak membedakan rahasia baik dan buruk, serta menanamkan pemahaman bahwa rahasia yang membuat anak takut atau terancam harus segera diceritakan kepada orang dewasa tepercaya.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebagai orangtua, Mama tentu ingin mengajarkan anak untuk selalu berkata jujur. Nilai kejujuran memang menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.

Namun, seiring bertambahnya usia, anak juga perlu memahami bahwa jujur bukan berarti menceritakan semua hal kepada semua orang.

Ada informasi tertentu yang bersifat pribadi dan hanya boleh diketahui oleh keluarga atau orang-orang yang memang dipercaya.

Hal tersebut disampaikan oleh Heri Susilo, seorang konselor keluarga melalui akun Instagram @ayahersu. Menurutnya, mengajarkan anak menjaga privasi keluarga bukan berarti melatih mereka untuk berbohong.

Justru, ini merupakan bagian dari pendidikan tentang boundaries atau batasan diri.

Anak perlu memahami informasi mana yang aman dibagikan kepada orang lain dan mana yang sebaiknya disimpan demi keamanan serta kehormatan keluarga.

Jawaban polos dari anak bisa saja dimanfaatkan oleh orang yang memiliki niat buruk.

Lalu, bagaimana cara mengajarkan anak agar tetap jujur tanpa mengabaikan privasi keluarga? Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya. Yuk, simak!

1. Ajarkan anak bahwa tidak semua informasi harus dibagikan

Pexels/Ketut Subiyanto

Mama perlu membantu mereka memahami bahwa kejujuran memiliki batasan yang sehat.

Jujur bukan berarti menceritakan semua hal tentang diri sendiri maupun keluarga kepada siapa saja yang bertanya.

Anak perlu mengetahui bahwa ada informasi yang bersifat pribadi dan tidak harus dibagikan kepada orang lain, terutama kepada orang yang belum dikenal dekat.

Misalnya, ketika ada seseorang yang bertanya tentang:

  • pekerjaan orangtua,

  • kondisi keuangan keluarga,

  • kebiasaan di rumah.

Anak tidak wajib memberikan jawaban secara rinci. Mereka boleh memilih untuk tidak menjawab atau mengarahkan orang tersebut agar bertanya langsung kepada Mama atau Papa.

Ini bukan berarti anak sedang berbohong, melainkan sedang menjaga privasi keluarga.

Mama dapat memberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami. Katakan bahwa setiap keluarga memiliki cerita yang hanya boleh diketahui oleh anggota keluarga sendiri.

Sama seperti anak memiliki buku harian, mainan favorit, atau barang pribadi yang tidak selalu ingin dipinjamkan kepada orang lain, keluarga juga memiliki informasi yang perlu dijaga.

2. Kenalkan konsep boundaries atau batasan pribadi sejak dini

Pexels/Muziyan Du

Boundaries merupakan pemahaman bahwa setiap orang memiliki hak untuk menjaga privasi dirinya maupun keluarganya.

Mengajarkan boundaries bukan berarti membuat anak menjadi tertutup atau curiga terhadap semua orang.

Sebaliknya, anak justru belajar mengenali mana informasi yang aman untuk dibagikan dan mana yang sebaiknya hanya diketahui oleh keluarga atau orang dewasa yang dipercaya.

Kemampuan ini penting dimiliki karena anak sering kali belum bisa membedakan orang yang benar-benar peduli dengan orang yang sekadar ingin mengetahui urusan pribadi keluarga.

Mama bisa menjelaskan dengan contoh yang sederhana. Misalnya, ketika ada teman atau orang yang baru dikenal bertanya tentang isi rumah, penghasilan orangtua, atau kebiasaan keluarga, anak tidak harus menjawabnya.

Pemahaman tentang boundaries juga akan membantu anak dalam berbagai situasi lainnya.

Mereka menjadi lebih percaya diri untuk mengatakan tidak ketika merasa tidak nyaman, lebih berhati-hati saat membagikan informasi di media sosial, serta lebih mampu melindungi diri dari orang yang berusaha memanfaatkan kepolosannya.

Kemampuan menjaga batasan seperti ini merupakan bekal penting yang akan terus berguna hingga anak beranjak remaja dan dewasa.

3. Beri tahu informasi apa saja yang tidak boleh dibagikan kepada orang lain

Pexels/Vitaly Gariev

Anak biasanya belum memahami bahwa ada beberapa informasi yang terlihat sederhana, tetapi sebenarnya bersifat sensitif. Karena itu, daripada hanya mengatakan "jangan cerita ke orang lain", Mama sebaiknya menjelaskan secara spesifik informasi apa saja yang perlu dijaga.

Dengan begitu, anak tidak merasa bingung dan memiliki gambaran yang jelas mengenai batasan yang harus diterapkan saat berbicara dengan orang lain.

Beberapa informasi yang sebaiknya tidak dibagikan kepada sembarang orang antara lain:

  • kondisi keuangan keluarga,

  • password atau PIN,

  • alamat lengkap rumah,

  • nomor telepon orangtua,

  • Nomor Induk Kependudukan (NIK),

  • lokasi penyimpanan uang maupun barang berharga,

  • jadwal rumah sedang kosong,

  • konflik yang terjadi antara Mama dan Papa.

Informasi tersebut termasuk bagian dari privasi keluarga yang perlu dijaga bersama.

Mama dapat mengajarkan hal ini melalui situasi sehari-hari. Misalnya, saat anak pulang sekolah dan bercerita bahwa ada teman yang bertanya berapa gaji ayahnya atau kapan rumahnya kosong karena orangtua bekerja.

Gunakan momen tersebut untuk berdiskusi bahwa tidak semua pertanyaan harus dijawab. Jelaskan bahwa anak boleh mengatakan,

"Maaf, itu cerita keluarga kami," atau "Aku tidak tahu, silakan tanya langsung ke Mama atau Papa."

Kebiasaan ini juga membantu anak lebih berhati-hati saat menggunakan internet atau media sosial.

4. Jelaskan risiko yang bisa terjadi jika informasi pribadi tersebar

Pexels/Jep Gambardella

Mama perlu membantu anak memahami bahwa setiap informasi yang disampaikan kepada orang lain bisa saja dimanfaatkan dengan cara yang tidak baik.

Mama tidak perlu menakut-nakuti anak saat menjelaskan hal ini. Gunakan bahasa yang sederhana sesuai usianya.

Misalnya, jelaskan bahwa tidak semua orang memiliki niat baik. Ada orang yang bisa berpura-pura ramah hanya untuk mendapatkan informasi pribadi.

Informasi tersebut berpotensi disalahgunakan untuk tindakan kriminal seperti pencurian, penipuan, hingga pemerasan.

Selain itu, konselor keluarga @ayahersu juga mengingatkan bahwa informasi pribadi anak dapat dimanfaatkan oleh pelaku grooming.

Grooming adalah proses ketika seseorang membangun kedekatan dengan anak untuk mendapatkan kepercayaan mereka, lalu memanfaatkannya untuk tujuan yang merugikan.

Pelaku biasanya mengumpulkan informasi sedikit demi sedikit melalui percakapan yang terlihat biasa.

Karena itulah, anak perlu memahami bahwa menjawab pertanyaan orang asing atau orang yang baru dikenal secara berlebihan dapat membuka peluang terjadinya tindakan yang membahayakan.

Hal-hal yang tampak sepele ini dapat dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Oleh sebab itu, penting bagi Mama untuk membiasakan anak berpikir sebelum berbagi informasi, baik saat berbicara secara langsung maupun ketika menggunakan internet.

5. Ajarkan bahwa tidak semua masalah keluarga perlu diumbar

Pexels/Werner Pfennig

Setiap keluarga pasti pernah menghadapi masalah, baik itu perbedaan pendapat, konflik, maupun tantangan lainnya.

Hal tersebut merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan berkeluarga. Namun, anak perlu memahami bahwa tidak semua persoalan di rumah harus diceritakan kepada orang lain.

Mengajarkan hal ini bukan berarti meminta anak menutupi kenyataan atau berpura-pura semuanya baik-baik saja, melainkan membantu mereka memahami pentingnya menjaga privasi dan martabat keluarga.

Mama bisa menjelaskan bahwa setiap masalah memiliki tempat penyelesaiannya sendiri.

Jika Mama dan Papa sedang berselisih, misalnya, persoalan tersebut sebaiknya diselesaikan melalui komunikasi di dalam keluarga atau dengan bantuan pihak yang memang berkompeten, seperti konselor atau psikolog keluarga.

Anak tidak perlu menjadikan konflik tersebut sebagai bahan cerita kepada teman sekolah, tetangga, atau orang yang baru dikenalnya.

Dengan begitu, anak belajar bahwa menjaga privasi adalah bentuk rasa hormat kepada seluruh anggota keluarga. Penting juga bagi orangtua untuk tidak memberikan beban yang terlalu besar kepada anak.

Hindari melibatkan anak dalam konflik orang dewasa atau meminta mereka menyimpan rahasia yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya.

Sebab, hal tersebut justru dapat membuat anak merasa cemas, bingung, bahkan tertekan.

6. Bedakan rahasia yang boleh dijaga dan yang harus diceritakan

Pexels/Vitaly Gariev

Mama dan Papa perlu menjelaskan bahwa ada perbedaan antara rahasia yang menjaga privasi keluarga dan rahasia yang justru membahayakan keselamatan anak.

Pemahaman ini penting agar anak tidak salah mengartikan pesan orangtua tentang menjaga informasi keluarga.

Namun, jika suatu saat anak mengalami atau melihat sesuatu yang membuatnya merasa takut, terluka, atau tidak nyaman, mereka justru harus segera bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya. Misalnya ketika anak mengalami:

  • kekerasan, pelecehan seksual,

  • perundungan (bullying),

  • ancaman,

  • penelantaran.

Sayangnya, tidak sedikit pelaku kekerasan yang memanfaatkan kepolosan anak dengan mengatakan,

"Jangan bilang ke Mama dan Papa, ya. Ini rahasia kita."

Kalimat seperti ini perlu dikenali oleh anak sebagai tanda bahaya.

Jika ada seseorang yang meminta anak merahasiakan sesuatu hingga membuatnya tidak nyaman, anak harus segera menceritakannya kepada Mama, Papa, guru, atau orang dewasa lain yang dipercaya.

Agar lebih mudah dipahami, Mama bisa mengenalkan konsep rahasia baik dan rahasia buruk.

Rahasia baik misalnya kejutan ulang tahun untuk anggota keluarga yang hanya disimpan sementara hingga waktunya tiba.

Sementara itu, rahasia buruk adalah rahasia yang membuat anak merasa takut, terancam, atau dipaksa untuk diam. Rahasia seperti ini tidak boleh disimpan sendirian dan harus segera diceritakan kepada orang dewasa yang dapat melindunginya.

7. Latih anak saat menghadapi pertanyaan pribadi

Pexels/olia danilevich

Setelah anak memahami informasi apa saja yang perlu dijaga, langkah berikutnya adalah melatih mereka merespons pertanyaan pribadi dengan sopan dan percaya diri.

Sebab, banyak anak yang sebenarnya tahu bahwa suatu informasi tidak boleh dibagikan, tetapi tetap menjawab karena merasa tidak enak, bingung, atau mengira orang dewasa harus selalu diberi jawaban.

Mama dapat mengajak anak berlatih melalui role play di rumah. Cobalah berpura-pura menjadi orang yang mengajukan pertanyaan, lalu minta anak mempraktikkan jawabannya.

Cara ini akan membuat anak lebih siap ketika menghadapi situasi serupa di dunia nyata. Beberapa kalimat sederhana yang bisa diajarkan antara lain:

"Maaf, itu cerita keluarga kami."

"Mama dan Papa mengajarkan kalau itu informasi pribadi."

"Aku tidak boleh menceritakan hal itu."

"Silakan tanya langsung ke Mama atau Papa, ya."

"Aku kurang nyaman membicarakannya."

Selain melatih anak menjawab, Mama juga perlu menjelaskan bahwa orang yang baik akan menghargai jawaban tersebut dan tidak akan memaksa mereka untuk bercerita.

Namun, jika ada seseorang yang terus mendesak, membujuk, atau membuat anak merasa tidak nyaman demi mendapatkan informasi, anak sebaiknya segera menjauh dan memberi tahu orangtua.

Dengan begitu, anak belajar mengenali situasi yang aman sekaligus memahami bahwa mereka berhak menjaga privasi dirinya dan keluarganya.

Itulah 7 cara mengajarkan anak untuk jujur dengan tepat dan pada tempatnya. Semoga bermanfaat ya, Ma.

Editorial Team

Related Article