Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Viral Anak 4 Tahun Meninggal Usai Cabut 18 Gigi, Cek Faktanya!

Viral Anak 4 Tahun Meninggal Usai Cabut 18 Gigi, Cek Faktanya!
Instagram.com/tingting.now
Intinya Sih
  • Seorang balita 4 tahun di Kazakhstan meninggal setelah pencabutan 18 gigi sekaligus, diduga akibat komplikasi anestesi meski dokter sempat melakukan CPR namun nyawanya tak tertolong.

  • drg. Alana Aluditasari, Sp.K.G.A., menjelaskan pencabutan banyak gigi bisa dilakukan bila ada indikasi medis, namun umumnya dilakukan bertahap agar anak tetap nyaman dan kebutuhan bius tidak berlebihan.

  • Bius total pada balita diperbolehkan asal sesuai standar medis, dilakukan di ruang operasi dengan pengawasan dokter anestesi untuk memastikan kondisi anak terpantau aman selama tindakan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Viral video seorang balita berusia 4 tahun di Kazakhstan yang meninggal dunia setelah menjalani prosedur pencabutan 18 gigi sekaligus.

Tragedi memilukan ini memicu gelombang kecemasan dan spekulasi liar di kalangan Mama, terutama mengenai keamanan penggunaan bius total pada balita.

Di tengah rasa takut yang membayangi, penting bagi orangtua untuk tidak panik dan melihat kasus ini secara jernih dari kacamata medis. Lantas, bagaimana sebenarnya kronologi kejadian tersebut dan seperti apa standar tata laksana cabut gigi pada balita?

Berikut sudah Popmama.com rangkum informasinya. Yuk, cek faktanya bersama!

1. Kronologi balita meninggal usai cabut 18 gigi di Kazakhstan

Balita
Magnific/jcomp

Tragedi memilukan ini bermula ketika orangtua dari seorang balita berusia 4 tahun di Kazakhstan membawa anak mereka ke sebuah klinik dokter gigi.

Berdasarkan bukti rekaman CCTV yang beredar luas, peristiwa tragis tersebut diketahui terjadi pada bulan Oktober 2024 lalu. Rekaman tersebut memperlihatkan momen-momen sebelum si Kecil yang baru berusia 4 tahun itu harus menjalani prosedur medis yang terbilang sangat ekstrem untuk anak seusianya.

Ruang publik pun seketika dibanjiri oleh berbagai spekulasi.

Banyak warganet menduga kuat bahwa penyebab utama kematian bocah malang ini diakibatkan oleh komplikasi anestesi atau bius total, setelah tubuh kecilnya menerima dosis obat bius tertentu.

Dalam rekaman tersebut, dokter gigi yang menangani balita tampak panik dan langsung tergesa-gesa memberikan tindakan CPR sebagai upaya darurat memicu kembali detak jantung serta napasnya.

Nahas, usaha penyelamatan tersebut disinyalir terlambat dan nyawa si Kecil tidak tertolong lagi di tempat kejadian.

2. Penanganan cabut gigi pada balita

Anak sedang melakukan pemeriksaan gigi dengan dokter gigi
Pexels/Nadezhda Moryak

Melihat angka "18" gigi yang dicabut sekaligus, tentu membuat bulu kuduk para orangtua merinding ya, Ma. Apakah tindakan medis ini memang diperbolehkan dalam dunia kedokteran gigi anak?

Menjawab keraguan ini, drg. Alana Aluditasari, Sp.K.G.A., dokter spesialis kedokteran gigi anak RS Pondok Indah–Puri Indah, menjelaskan bahwa tindakan pencabutan gigi dalam jumlah banyak sekaligus pada balita sebenarnya memang ada indikasinya dalam dunia medis.

Namun, ada catatan yang sangat besar dan tegas di sini, Ma.

"Secara teori, batasan berapa gigi yang boleh dicabut dalam satu hari itu sebenarnya tidak ada angka pastinya. Namun, semua itu harus dikembalikan lagi pada kenyamanan pasien anak," ungkap drg. Alana.

Meski begitu, dalam praktik sehari-hari dokter gigi umumnya memilih melakukan pencabutan secara bertahap. Cara ini bertujuan agar anak tetap nyaman setelah tindakan dan tidak mengalami kesulitan makan akibat banyaknya luka di dalam mulut.

"Biasanya kita lakukan satu area dulu. Misalnya kalau ada gigi yang rusak di kanan atas dan kiri atas, kita lakukan yang sebelah kanan atas dulu. Baru nanti di kunjungan berikutnya kita tangani sisi lainnya supaya anak tetap nyaman dan bisa makan dengan baik." jelas drg. Alana.

Selain membantu proses pemulihan, tindakan bertahap juga dapat mengurangi kebutuhan anestesi dalam satu kali prosedur.

3. Penggunaan bius total pada balita

drg. Alana Aluditasari, Sp.K.G.A., dokter spesialis kedokteran gigi anak RS Pondok Indah dalam interview ekslusif bersama media
Popmama.com/Syiva Amalia

Buntut dari kasus tragis di Kazakhstan ini membuat takut apabila si Kecil harus dihadapkan kondisi dibius saat ke dokter gigi.

Namun, apakah penggunaan bius total pada balita memang semenakutkan itu?

Menurut drg. Alana, bius total bukanlah prosedur yang dilarang. Bahkan, tindakan ini dapat menjadi pilihan terbaik pada kondisi tertentu, misalnya ketika banyak gigi anak mengalami kerusakan atau anak tidak memungkinkan menjalani perawatan dalam keadaan sadar.

Namun, prosedur tersebut harus dilakukan sesuai standar medis.

"Bius umum atau bius total itu boleh, asal dilakukannya di kamar operasi dengan adanya dokter spesialis anestesi."

Anak harus berada di ruang operasi rumah sakit. Lalu kondisi anak akan dipantau secara menyeluruh selama tindakan berlangsung. Mulai dari tekanan darah anak, denyut jantung, hingga pernapasan semua harus terpantau dengan baik.

Drg. Alana juga mengingatkan bahwa semakin banyak tindakan yang dilakukan dalam satu prosedur, kebutuhan anestesi dapat meningkat, Ma.

Oleh karena itu, dokter akan mempertimbangkan manfaat dan risikonya sebelum menentukan jenis perawatan yang paling sesuai bagi setiap anak.

Dengan kata lain, Mama tidak perlu langsung takut jika dokter merekomendasikan bius total untuk anak.

Beberapa hal yang wajib menjadi perhatian antara lain:

  • selama tindakan dilakukan berdasarkan indikasi medis,
  • dilakukan dengan fasilitas kesehatan yang memadai,
  • diawasi oleh dokter spesialis anestesi,

maka prosedur ini umumnya dapat dilakukan dengan aman.

Itulah fakta di balik kasus tragis yang sempat menghebohkan media sosial belakangan ini, Ma.

Kehilangan yang terjadi di Kazakhstan menjadi alarm pengingat, bahwa menjaga kesehatan gigi si Kecil merupakan hal penting yang harus diperhatikan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More