Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Dampak Anak yang Sering Diteriaki, Cenderung Terlalu Perfeksionis
Pexels/Kampus Production
  • Anak yang sering diteriaki berisiko mengalami toxic stress, memicu penyakit kronis serta gangguan psikologis seperti kecemasan dan kehilangan rasa aman sejak dini.

  • Teriakan orangtua membuat si Kecil tumbuh perfeksionis, overthinking, mudah merasa bersalah, hingga sulit mengekspresikan emosi secara sehat di lingkungan rumah.

  • Kebiasaan komunikasi keras di rumah dapat menurunkan konsentrasi si Kecil, membentuk perilaku agresif, dan menghambat kemampuan belajar serta adaptasi sosial mereka.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Membesarkan si Kecil di tengah padatnya aktivitas harian terkadang bisa memicu rasa lelah yang luar biasa hingga membuat emosi menjadi tidak stabil ya, Ma. 

Namun, berhati-hatilah karena anak yang hidup penuh teriakan akan asing dengan diri sendiri. 

Dampak buruk ini akan terbawa sampai mereka dewasa, di mana mereka berisiko memiliki toxic stress, kondisi stres kronis ini juga berisiko memicu penyakit mematikan seperti jantung, darah tinggi, diabetes, depresi, dan gangguan kesehatan lainnya.

Berikut Popmama.com rangkum 7 dampak psikologis anak yang sering diteriaki beserta hal yang sebaiknya jangan dilakukan orangtua di setiap poinnya!

1. Anak menjadi selalu merasa was-was terhadap perubahan kecil

Pexels/www.kaboompics.com

Dampak psikologis pertama yang membekas pada jiwa si Kecil adalah mereka menjadi sangat peka terhadap perubahan kecil di sekitarnya. 

Mereka bisa langsung tahu kapan orangtuanya sedang kesal hanya dari perubahan nada bicara yang meninggi. 

Akibatnya, si Kecil jadi lupa cara untuk tenang karena batinnya selalu merasa was-was dan mengira bahaya akan datang secara tiba-tiba.

Melihat kondisi si Kecil yang selalu cemas ini, sebaiknya Mama jangan melakukan hal berikut:

  • Menganggap remeh ketakutan si Kecil dengan menyebut mereka terlalu penakut atau berlebihan saat mereka membaca perubahan ekspresi wajah Mama.

  • Setop sengaja meninggikan nada bicara atau menggebrak meja hanya untuk mengetes kepatuhan si Kecil di dalam rumah.

  • Mengabaikan kebutuhan si Kecil sepeti pelukan dan ketenangan ketika mereka mulai menunjukkan tanda-tanda panik atau gelisah.

2. Tumbuh menjadi pribadi yang perfeksionis dan overthinking

Pexels/Luis Becerra Fotografo

Ketika rumah selalu diwarnai dengan bentakan, si Kecil akan merasa bahwa kesalahan sekecil apa pun yang mereka perbuat akan memicu kemarahan yang sangat besar dari orangtua. 

Pola pikir yang penuh tekanan ini memaksa mereka tumbuh menjadi anak yang perfeksionis dan sering mengalami overthinking

Mereka selalu cemas karena menganggap kegagalan adalah hal yang mengancam keselamatan jiwanya.

Guna menjaga mental si Kecil agar tidak semakin tertekan oleh sifat perfeksionis ini, sebaiknya orangtua jangan melakukan hal berikut:

  • Memberikan tuntutan yang terlalu tinggi dan tidak realistis dalam hal akademis maupun aktivitas harian si Kecil.

  • Mengeluarkan kalimat sindiran atau membandingkan hasil kerja si Kecil dengan pencapaian anak lain yang dianggap lebih sempurna.

  • Menghukum secara berlebihan ketika mereka melakukan kecerobohan kecil yang tidak disengaja saat sedang belajar.

3. Memiliki rasa malu akibat sering disalahkan

Pexels/Monstera Production

Sering disalahkan secara membabi buta oleh orangtua yang sedang frustrasi akan menumbuhkan rasa malu yang mendalam pada diri si Kecil. 

Ia tumbuh dengan beban mental yang berat karena merasa bahwa dirinya adalah penyebab utama dari segala masalah dan amarah yang terjadi di dalam rumah. 

Hal ini membuat si Kecil kehilangan kepercayaan diri untuk mengeksplorasi kemampuannya.

Untuk memutus rantai rasa bersalah yang keliru pada masa pertumbuhan anak ini, sebaiknya orangtua jangan melakukan hal berikut:

  • Melabeli si Kecil dengan sebutan pembawa masalah, anak nakal, atau sebutan negatif lainnya saat Mama sedang kesal.

  • Melimpahkan kekesalan atau urusan masalah orang dewasa di tempat kerja kepada anak yang tidak tahu apa-apa di rumah.

  • Menolak untuk meminta maaf kepada si Kecil jika Mama secara sadar telah melakukan kekeliruan atau salah menuduh mereka.

4. Memiliki keinginan untuk mengontrol semua hal agar merasa aman

Pexels/Max Fischer

Dampak lanjutan dari rasa malu dan kecemasan yang mendalam karena sering disalahkan adalah munculnya keinginan kuat pada diri si Kecil untuk mengontrol segala hal di sekitarnya. 

Si Kecil merasa bahwa dengan mengatur semua situasi, mereka bisa memprediksi dan menghindari potensi ledakan amarah orangtua, yang di mana perilaku ini justru membuat mereka kaku dan sulit beradaptasi.

Saat mendapati si Kecil mulai menunjukkan sifat suka mengatur yang berlebihan, sebaiknya Mama jangan melakukan hal berikut:

  • Membalas sikap kaku si Kecil dengan kekerasan baru atau bentakan yang justru memperparah rasa tidak aman di hati mereka.

  • Mengubah jadwal atau aturan di rumah secara mendadak tanpa memberikan penjelasan yang logis terlebih dahulu kepada si Kecil.

  • Membiarkan si Kecil memikul tanggung jawab yang seharusnya menjadi kewajiban dan tugas penuh orangtua.

5. Mengabaikan emosi sendiri akibat tidak ada ruang aman

Pexels/Vika Glitter

Dampak berikutnya adalah terjadinya penolakan terhadap emosi diri sendiri karena si Kecil merasa tidak ada ruang untuk berekspresi secara bebas di rumah. 

Setiap kali mereka mencoba menunjukkan perasaan jujur mereka seperti rasa marah, sedih, atau kecewa, mereka justru mendapat tatapan mata yang tajam dan kata-kata keras dari orangtouanya.

Guna mencegah si Kecil tumbuh menjadi pribadi yang mati rasa dan memendam bom waktu, sebaiknya orangtua jangan melakukan hal berikut:

  • Mengeluarkan kalimat larangan menangis seperti menyuruh si Kecil berhenti menangis secara paksa dengan ancaman fisik.

  • Memberikan tatapan mata mengancam atau senyuman sinis yang membuat si Kecil merasa bersalah karena telah merasa sedih.

  • Meninggalkan si Kecil sendirian di dalam kamar dalam kondisi menangis histeris tanpa ditemani dan ditenangkan emosinya.

6. Tumbuh dengan meniru pola komunikasi yang meledak-ledak

Pexels/Keira Burton

Lingkungan rumah yang bising dengan suara teriakan lambat laun akan memengaruhi bagaimana si Kecil mengolah emosi dan memperlakukan orang lain. 

Anak yang terbiasa melihat orangtuanya menyelesaikan masalah dengan amarah akan menyerap perilaku tersebut sebagai hal yang wajar. 

Mereka berisiko tinggi tumbuh menjadi pribadi yang kasar saat berinteraksi dengan teman sebaya.

Agar si Kecil tidak menjadi pelaku perundungan di luar rumah akibat meniru kebiasaan keluarga, sebaiknya orangtua jangan melakukan hal berikut:

  • Membiasakan diri berteriak atau memaki pasangan di depan mata dan pendengaran si Kecil saat sedang berdiskusi di rumah.

  • Memaklumi kekerasan fisik yang dilakukan si Kecil kepada temannya dengan alasan bahwa itu hanya candaan masa kecil.

  • Menggunakan hukuman fisik seperti mencubit atau memukul sebagai jalan pintas untuk mendisiplinkan perilaku si Kecil.

7. Sulit konsentrasi akibat otak terlalu was-was

Pexels/Yan Krukau

Dampak tambahan yang tidak kalah fatal dari paparan suara keras yang konstan dari orangtua adalah rusaknya daya konsentrasi si Kecil akibat stres. 

Otak si Kecil yang terus-menerus memproduksi hormon kortisol akan mengalami hambatan dalam menyerap informasi baru. 

Energi otak mereka habis hanya untuk mengantisipasi ancaman bentakan berikutnya, sehingga fokus belajar mereka menurun drastis.

Sebagai bentuk pemulihan fungsi berpikir si Kecil agar kembali optimal di sekolah, sebaiknya orangtua jangan melakukan hal berikut:

  • Memaksa si Kecil belajar dalam kondisi lingkungan rumah yang tegang atau sesaat setelah Mama baru saja memarahi mereka.

  • Memberikan cap anak bodoh atau lambat ketika mereka kesulitan memahami sebuah materi pelajaran akibat kehilangan fokus.

  • Memotong waktu istirahat atau waktu bermain santai si Kecil hanya untuk mengejar target nilai akademis yang tinggi.

Intinya, Ma, mengganti bentakan dengan komunikasi yang penuh rasa aman tidak hanya menyelamatkan kesehatan mental si Kecil, tetapi juga melindungi fisik mereka dari ancaman penyakit kronis di masa depan.

Apakah Mama sudah menerapkan komunikasi dua arah yang baik dan aman dengan si Kecil hari ini?

Editorial Team

Related Article