Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kebiasaan Anak yang Menandakan Kecerdasan Kinestetik
Pexels/Pavel Danilyuk
  • Anak dengan kecerdasan kinestetik cenderung aktif bergerak dan lebih mudah memahami sesuatu lewat pengalaman langsung, sehingga energinya dapat disalurkan melalui olahraga, seni, prakarya, atau aktivitas rumah.
  • Mereka mudah bosan pada kegiatan berulang, memiliki rasa ingin tahu tinggi, serta suka menyentuh, mencoba, membongkar, dan mempraktikkan hal yang menarik perhatian.
  • Anak juga dapat ekspresif lewat gerakan dan tidak betah diam terlalu lama; orang tua disarankan memberi jeda bergerak sambil tetap mengajarkan situasi yang membutuhkan ketenangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap anak memiliki cara berbeda dalam memahami dunia di sekitarnya. Ada anak yang lebih mudah belajar melalui gambar, suara, angka, hingga gerakan tubuh.

Salah satunya adalah anak dengan kecerdasan kinestetik yang cenderung menggunakan aktivitas fisik dan gerakan untuk mengeksplorasi lingkungan.

Anak dengan kecerdasan kinestetik biasanya terlihat aktif dan senang mencoba berbagai hal secara langsung. Namun, perilaku yang aktif terkadang membuat mereka dianggap sulit diatur atau bahkan dicap sebagai anak nakal.

Padahal, bisa saja kebiasaan tersebut merupakan bagian dari cara mereka belajar dan mengekspresikan diri.

Lantas, apa saja ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan kinestetik? Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya. Yuk, simak!

1. Aktif bergerak

Pexels/Antonius Ferret

Mama mungkin punya si Kecil yang rasanya tidak pernah kehabisan energi. Baru duduk sebentar, sudah berdiri lagi.

Tangannya ikut bergerak saat berbicara, kakinya tidak berhenti bergerak ketika menonton, atau ia memilih berjalan-jalan sambil mendengarkan cerita.

Kebiasaan seperti ini bisa menjadi salah satu tanda anak memiliki kecerdasan kinestetik.

Anak dengan kecerdasan ini umumnya lebih mudah memahami sesuatu melalui gerakan dan pengalaman langsung. Mereka senang ketika tubuhnya ikut terlibat dalam aktivitas yang dilakukan.

Mama tidak perlu langsung menganggap si Kecil sebagai anak yang tidak bisa diam atau sulit diatur.

Coba salurkan energinya melalui kegiatan yang menyenangkan, seperti bermain bola, menari, berenang, membuat prakarya, atau membantu Mama melakukan pekerjaan sederhana di rumah.

Aktif bergerak bukan berarti anak tidak bisa fokus. Justru, memberikan kesempatan untuk bergerak dapat membuatnya lebih nyaman saat belajar dan mengeksplorasi berbagai hal baru di sekitarnya.

2. Mudah bosan dengan kegiatan yang sama

Pexels/Gustavo Fring

Si Kecil baru saja mendapatkan mainan baru, tetapi beberapa menit kemudian sudah meninggalkannya dan mencari kegiatan lain?

Atau ia langsung kehilangan minat ketika diminta mengulang aktivitas yang sama?

Anak dengan kecerdasan kinestetik memang cenderung menyukai pengalaman yang beragam.

Mereka biasanya lebih tertarik pada kegiatan yang memberikan kesempatan untuk mencoba, mengeksplorasi, dan melakukan sesuatu secara langsung.

Hal ini juga bisa terlihat saat anak belajar. Duduk lama sambil mendengarkan penjelasan atau mengerjakan soal yang sama berulang kali mungkin membuatnya cepat kehilangan minat.

Mama bisa mencoba membuat kegiatan belajar menjadi lebih aktif, misalnya menghitung menggunakan benda di sekitar rumah, belajar sambil bernyanyi, atau melakukan eksperimen sederhana.

Dengan begitu, anak tetap mendapatkan pengalaman belajar tanpa merasa seperti sedang dipaksa untuk duduk dan menghafal.

Mama juga bisa memperhatikan aktivitas apa yang paling membuat si Kecil antusias agar lebih mudah menemukan cara belajar yang cocok untuknya.

3. Punya rasa ingin tahu yang tinggi

Pexels/RDNE Stock project

"Ini buat apa, Ma?"

"Kok bisa begitu?"

"Kalau dibuka, isinya apa?"

Mama mungkin sudah tidak asing dengan rentetan pertanyaan seperti ini dari si Kecil.

Anak yang memiliki kecerdasan kinestetik biasanya punya rasa ingin tahu yang tinggi dan senang mengeksplorasi sesuatu yang menarik perhatiannya.

Menariknya, rasa penasaran tersebut tidak selalu berhenti pada pertanyaan. Anak mungkin langsung ingin menyentuh, mencoba, membongkar, atau mempraktikkan sesuatu untuk menemukan jawabannya sendiri.

Misalnya, ketika melihat mainan yang bisa bergerak, si Kecil mungkin penasaran bagaimana mainan tersebut dapat berjalan.

Ia pun mencoba mengamati atau memainkan bagian-bagiannya.

Mama bisa mendukung kebiasaan ini dengan memberikan kesempatan eksplorasi yang aman.

Ajak anak berkebun, membuat prakarya, memasak bersama, atau melakukan eksperimen sederhana di rumah.

Tidak perlu khawatir jika rumah jadi sedikit berantakan selama prosesnya. Dari rasa penasaran dan pengalaman mencoba itulah, si Kecil bisa mendapatkan banyak hal baru.

4. Ekspresif lewat gerakan tubuh

Pexels/Antonius Ferret

Pernah melihat si Kecil bercerita sambil menggerakkan tangan ke sana kemari? Atau ketika menceritakan sesuatu, seluruh tubuhnya ikut bergerak? Kebiasaan tersebut bisa menjadi salah satu cara anak mengekspresikan pikiran dan perasaannya.

Anak dengan kecerdasan kinestetik cenderung nyaman menggunakan tubuhnya untuk berkomunikasi.

Ketika sedang bermain peran, misalnya, ia bisa menirukan gerakan, ekspresi, bahkan cara berjalan dari karakter yang dimainkan.

Mama mungkin juga melihat si Kecil lebih bersemangat ketika bisa langsung mempraktikkan apa yang sedang diceritakannya.

Bagi mereka, bergerak bukan sekadar bermain, tetapi juga menjadi bagian dari cara untuk menyampaikan sesuatu.

Sayangnya, anak yang banyak bergerak terkadang mudah mendapat cap nakal atau tidak bisa diam. Padahal, belum tentu demikian.

Mama bisa memberikan ruang untuk menyalurkan ekspresinya melalui bermain peran, menari, olahraga, atau kegiatan seni lainnya.

Selama dilakukan pada tempat dan situasi yang tepat, biarkan si Kecil menikmati caranya sendiri dalam berekspresi.

5. Tidak betah berdiam diri terlalu lama

Pexels/Hannah Barata

Duduk tenang dalam waktu lama bukan hal yang mudah bagi sebagian anak. Si Kecil mungkin mulai menggoyangkan kaki, memainkan benda di dekatnya, berdiri, atau berjalan-jalan ketika harus menunggu terlalu lama.

Jika Mama sering melihat kebiasaan seperti ini, bisa jadi si Kecil memang lebih nyaman melakukan aktivitas yang melibatkan gerakan.

Anak dengan kecerdasan kinestetik umumnya menikmati kegiatan yang membuat mereka bisa menggunakan tubuh sekaligus mengeksplorasi lingkungan.

Mama dapat memberikan jeda bergerak di antara kegiatan yang membutuhkan anak untuk duduk dan berkonsentrasi.

Setelah belajar beberapa saat, misalnya, ajak si Kecil melakukan peregangan atau bermain sebentar sebelum kembali belajar.

Meski begitu, bukan berarti anak bebas bergerak kapan saja. Mama tetap perlu mengajarkan bahwa ada situasi yang mengharuskannya duduk tenang, seperti saat makan, belajar, atau berada di tempat umum.

Dengan memahami kebutuhan si Kecil, Mama bisa membantu menyalurkan energinya ke aktivitas yang positif sekaligus mendukung cara belajarnya.

Itulah beberapa ciri anak dengan kecerdasan kinestetik yang penting untuk Mama ketahui.

Semoga informasi ini bisa membantu ya, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article