Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Pilu! Anak 2 Tahun Meninggal Alami Kedinginan di Pengungsian Gempa NTT

Pilu! Anak 2 Tahun Meninggal Alami Kedinginan di Pengungsian Gempa NTT
Facebook.com/Nona Fbw
  • Mario Calviano Guru, balita dua tahun, meninggal di RSUD Bajawa pada 20 Agustus 2026 setelah kondisi fisiknya memburuk akibat paparan udara dingin ekstrem di pengungsian pascagempa NTT.
  • Selama berada di posko Bukit Puta yang terbuka dan minim perlengkapan penghangat, Mario mengalami demam tinggi, kejang, dan tubuh kaku sebelum dilarikan ke rumah sakit.
  • Mario sempat dirawat di RS Aeramo lalu dirujuk ke RSUD Bajawa, sementara pengungsian dilaporkan kekurangan selimut, kelambu, air bersih, obat darurat, serta perlindungan dari angin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kabar pilu kembali datang dari korban terdampak gempa di NTT. Kisah tragis menimpa Mario Calviano Guru, balita berusia dua tahun yang menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Bajawa, Kabupaten Ngada. Balita malang ini wafat pada Kamis (20/8/2026) setelah kondisi fisiknya merosot tajam akibat paparan udara dingin ekstrem di tempat pengungsian Bukit Puta, Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, NTT.

Diketahui sejak mengungsi bersama keluarganya pasca gempa bumi menimpa NTT pada 15 Agustus 2026, Mario terpaksa tinggal di posko darurat yang minim fasilitas dan logistik, Ma.

Tragedi memilukan ini menjadi pengingat keras mengenai buruknya pemenuhan kebutuhan dasar, kelayakan tempat bernaung, serta perlindungan kesehatan bagi kelompok rentan di lokasi terdampak bencana, ya. Berikut fakta dari peristiwa yang sudah Popmama.com rangkum.

  1. Berawal dari Demam Tinggi Hingga Kejang

    Kondisi balita bernama Mario sebelum meninggal di pengungsian gempa NTT
    Dok. IDN Times

    Dilansir dari berbagai sumber kematian Mario Calviano Guru diawali dari penurunan kondisi fisik secara mendadak selama berada di tempat penampungan.

    Meski sempat bertahan dalam keadaan sehat pada hari-hari awal evakuasi, balita dua tahun ini tak kuasa melawan perubahan cuaca ekstrem di perbukitan.

    Fasilitas pengungsian yang sangat terbuka tanpa penahan angin membuat Mario terus-menerus terpapar udara dingin setiap malam. Dampaknya, daya tahan tubuh korban merosot tajam hingga memicu serangan demam tinggi.

    Keterbatasan perlengkapan penghangat seperti selimut dan kelambu di dalam tenda semakin memperparah keadaannya. Kedinginan ekstrem akhirnya membuat balita malang ini mengalami kejang-kejang parah dan tubuh kaku.

    Peristiwa mendadak tersebut dikonfirmasi oleh relawan dan keluarga sebagai titik awal kritis sebelum Mario dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat.

  2. Sempat Dirujuk ke Dua Rumah Sakit

    Kondisi balita sebelum meninggal di pengungsian gempa NTT
    Dok. IDN Times

    Balita tersebut mulanya dilarikan ke Rumah Sakit Aeramo di Kabupaten Nagekeo untuk mendapatkan tindakan medis darurat. Namun, akibat keterbatasan fasilitas kesehatan di lokasi serta kondisi pasien yang terus memburuk, tim medis memutuskan untuk merujuk Mario ke RSUD Bajawa di Kabupaten Ngada.

    Walaupun telah mendapatkan perawatan intensif di ruang perawatan, Tuhan lebih menyayangi Mario. Nyawa balita 2 tahun ini tidak dapat diselamatkan.

    Melansir dari berbagai sumber Kapolres Ngada AKBP Gede Harimbawa mengonfirmasi bahwa setelah dinyatakan meninggal dunia, jenazah Mario langsung diserahterimakan kepada pihak keluarga untuk dipulangkan dan dimakamkan di rumah duka.

  3. Minimnya Fasilitas dan Logistik di Tempat Pengungsian Gempa

    Kondisi pengungsian gempa di NTT
    Facebook.com/Nona Fbw

    Meninggalnya Mario menunjukkan betapa minimnya penanganan logistik bencana di pengungsian terdampak bencana, khususnya di perbukitan Nagekeo.

    Melansir dari berbagai sumber diketahui bahwa pihak keluarga dan pengelola posko mengungkapkan kondisi yang dalam serba keterbatasan, seperti tanpa kedap udara, ketiadaan kelambu penangkal serangga, serta pasokan selimut hangat yang amat minim.

    Belum lagi terpaan angin kencang di dataran tinggi yang dapat memicu timbulnya ancaman hipotermia dan infeksi saluran pernapasan (ISPA). Situasi serba minim ini juga diperparah oleh kurangnya persediaan air bersih dan obat-obatan darurat, yang membuktikan masih lemahnya pemenuhan hak-hak dasar bagi kelompok rentan di area terdampak bencana.

    Tragedi memilukan yang menimpa Mario menjadi pengingat keras bahwa keselamatan para pengungsi, apalagi kelompok rentan sangatlah bergantung pada kecepatan serta kelayakan bantuan di lapangan. Semoga kondisi para korban gempa NTT senantiasa diberikan kekuatan serta perlindungan. Mari kirimkan doa serta bantuan ke lembaga terpercaya untuk membantu saudara-saudara kita di sana.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More