Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Langkah Cepat Menangani Anak Dalam Kondisi Gawat Darurat
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana
  • IDAI menggelar media briefing di Jakarta membahas langkah cepat penanganan gawat darurat anak, menekankan pentingnya orangtua memahami pertolongan pertama dasar seperti teknik ABC.

  • Dokter anak menjelaskan perbedaan penanganan tersedak pada bayi dan anak usia 1–8 tahun, termasuk penggunaan hentakan punggung serta Heimlich Maneuver sesuai kondisi anak.

  • Langkah penyelamatan mencakup pemeriksaan napas, pemberian napas bantuan, hingga resusitasi jantung paru (RJP) dengan ritme tepat sambil menunggu bantuan darurat melalui nomor 112 atau 119.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Melihat si Kecil tersedak atau tiba-tiba tidak sadarkan diri pasti menjadi mimpi buruk yang paling ditakuti oleh setiap orangtua di rumah.

Namun, kepanikan justru bisa menjadi musuh terbesar, sehingga Mama perlu membekali diri dengan pengetahuan pertolongan pertama yang tepat demi menyelamatkan nyawa buah hati tercinta.

Menanggapi hal ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyelenggarakan media briefing pada Senin (13/4/2026) di Jakarta Pusat mengenai langkah cepat dan tepat dalam penanganan gawat darurat anak. 

Acara rutin tahunan yang kali ini bertajuk Reshaping Pediatric in Digital Age tersebut menghadirkan narasumber ahli yaitu DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), Prof DR Dr Rismala Dewi, SpA, Subsp ETIA(K), Dr dr Madelaine Jasin, SpA, Subsp Respi(K), Dr Yogi Prawira, SpA, Subsp ETIA(K), serta Dr Tuti Rahayu, SpA, Subsp ETIA(K).

Berikut Popmama.com rangkum 5 poin penting penanganannya!

1. Memahami teknik ABC sebagai dasar pertolongan pertama

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Langkah pertama yang harus Mama pahami adalah perbedaan teknik penanganan antara orang dewasa dan anak-anak. 

Jika dewasa menggunakan urutan CAB (Cardiac, Airway, Breathing), maka untuk anak-anak wajib menggunakan teknik ABC yaitu Airway (jalan napas), Breathing (bernapas), dan Cardiac (jantung). 

Pengetahuan ini sangat krusial karena terlambat sedikit saja akan berbahaya untuk anak.

“Berkurangnya oksigen pada otak anak akan merusak otaknya,” ujar Prof Dewi.

Oleh karena itu, bantuan hidup dasar ini harus dikuasai oleh siapa saja.

“Penanganan kegawatdaruratan itu bukan cuma dimiliki oleh dokter maupun dokter spesialis anak, orangtua, pengasuh, bahkan para wartawan juga harus punya agar tau harus apa selain berdoa,” ujar dr Madelaine. 

2. Penanganan tersedak untuk bayi di bawah 1 tahun

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Kondisi bayi yang tersedak hingga biru memerlukan tindakan back blow segera karena hitungan detik sangat berharga. Mengenai hal ini, Dr Yogi memberikan panduan awal untuk menilai kondisi anak.

“Karena kalo dia masih bisa nangis kencang dan bisa batuk kuat, tandanya jalan nafasnya aman.”

Namun jika bayi merintih atau tidak bersuara, Mama harus segera melakukan back blow dengan cara berikut:

  • Pegang dagu anak dan posisikan kepalanya lebih rendah menghadap ke bawah agar benda asing terdorong gravitasi.

  • Hentakkan telapak tangan di antara tulang punggung sebanyak 5 kali menggunakan bagian thenar eminence (bantalan ibu jari).

  • Gunakan tenaga yang cukup untuk memberikan efek kejut guna meningkatkan tekanan di rongga dada secara tiba-tiba.

  • Jika belum berhasil dan anak tidak memberikan respon, segera lakukan tindakan RJP.

Tujuan kekuatan hentakan adalah meningkatkan tekanan di dada.

“Tujuannya adalah meningkatkan tekanan di rongga dada secara tiba-tiba sehingga benda yang tersangkut itu akan terdorong keluar. Harus ada efek kejut,” jelas Dr Yogi.

3. Prosedur Heimlich Maneuver untuk anak usia 1-8 tahun

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Pada anak yang lebih besar karena sudah bisa berdiri sendiri, saat tersedak, teknik yang digunakan berbeda namun tetap mengutamakan tekanan pada rongga dada. Berikut adalah langkah-langkah yang harus dilakukan:

  • Posisikan diri Mama sejajar di belakang anak dan rangkul tubuhnya dari belakang.

  • Berikan pukulan pada bagian punggung anak sebanyak 5 kali dengan kuat.

  • Lakukan Heimlich Maneuver jika pukulan punggung belum efektif, kepalkan tangan dan letakkan di antara pusar dan tulang iga, lalu dorong ke arah dalam dan atas sebanyak 5 kali.

  • Pantau apakah benda asing sudah keluar atau anak justru kehilangan kesadaran.

Penting untuk diingat bahwa Mama dilarang keras memberi minum atau mencoba mengorek benda asing dengan jari karena berisiko mendorong benda tersebut masuk lebih dalam ke jalur pernapasan.

4. Langkah penyelamatan saat anak tidak sadarkan diri

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Jika anak sudah kehilangan kesadaran, Mama tidak boleh menangani kondisi ini sendirian. Segera panggil bantuan melalui nomor darurat 112 atau 119 yang disediakan Dinkes Jakarta secara gratis. 

“Anaknya bernafas kita lihat aja, ada kembang kempis atau gerakan dadanya naik turun. Atau beberapa anak kecil itu perutnya naik turun, atau kadang batuk,” jelas Dr Yogi.

Sambil menunggu bantuan datang, lakukan pengecekan sebagai berikut:

  • Pegang dahi dan angkat dagu anak untuk membuka jalan napasnya.

  • Lakukan penilaian napas dengan melihat gerakan dada atau perut anak.

  • Berikan napas bantuan menggunakan masker filter khusus sebanyak 5 kali awal jika anak tidak bernapas.

  • Pastikan posisi kepala sudah benar agar setiap napas bantuan yang diberikan membuat dada anak terangkat.

5. Teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP) yang benar

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Apabila tidak ditemukan tanda kehidupan (sign of life), segera lakukan kompresi dada dengan teknik yang tepat. Dr Yogi mengingatkan kapan kompresi dada harus dan tidak harus dilakukan.

“Kalo anaknya ada gerakan, tidak perlu kompresi dada. Kalo dia batuk batuk ga perlu dikompresi dada. Kalo dia ternyata ada nafas, ga perlu dikompresi dada. Ga ada tiga-tiganya, maka harus langsung dikompresi dada.”

Berikut adalah langkah teknis RJP pada anak:

  • Letakkan anak di permukaan yang keras seperti lantai agar kekuatan tekanan tidak berkurang hingga 50%.

  • Lakukan kompresi dada dengan perbandingan 15 kali tekanan dan 2 kali napas bantuan menggunakan masker.

  • Ulangi ini sebanyak 5 kali atau selama kurang lebih 2 menit, lalu nilai kembali kondisinya.

  • Jaga irama tekanan agar tetap stabil dan tidak terburu-buru hingga bantuan medis tiba.

Selama proses darurat ini, Mama perlu memahami bahwa risiko seperti lebam atau cedera tulang adalah hal yang wajar demi menyelamatkan nyawa anak.

Tetap tenang adalah kunci utama agar langkah pertolongan pertama bisa berjalan efektif. Apakah Mama sudah menyimpan nomor darurat 112/119 di kontak ponsel untuk berjaga-jaga?

Editorial Team