Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mata Anak Juling, Haruskah Dioperasi? Ini Penjelasan Dokter!
Popmama.com/Violin Heldina/AI
  • Strabismus membuat kedua mata tidak sejajar dan dapat mengganggu penglihatan binokular, persepsi kedalaman, serta meningkatkan risiko mata malas pada anak dan penglihatan ganda pada dewasa.
  • Dampaknya juga menyentuh aspek sosial-psikologis: anak dapat kurang percaya diri dan rentan perundungan, sementara pasien dewasa bisa tidak nyaman berinteraksi serta mengalami risiko kecemasan atau depresi.
  • Penanganan disesuaikan kondisi, mulai dari kacamata, prisma, patching, dan latihan penglihatan hingga operasi; ketidaksejajaran menetap setelah sekitar empat bulan atau muncul mendadak perlu diperiksakan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mama mungkin pernah melihat anak yang posisi kedua matanya tampak tidak sejajar. Salah satu mata bisa terlihat mengarah ke dalam, ke luar, bahkan ke atas atau bawah.

Kondisi tersebut dikenal sebagai strabismus atau mata juling.

Strabismus terjadi ketika kedua bola mata tidak sejajar atau melihat ke arah yang berbeda.

Sayangnya, mata juling masih kerap dianggap sebagai masalah penampilan semata. Padahal, jika tidak ditangani dengan tepat, strabismus dapat memengaruhi fungsi penglihatan, kepercayaan diri, hingga kualitas hidup seseorang.

Bertepatan dengan World Strabismus Day yang diperingati setiap 10 Agustus, RS Mata JEC @ Menteng meresmikan Pusat Operasi Mata Juling, layanan khusus untuk menangani strabismus pada pasien anak dan dewasa.

Lantas, mengapa kondisi ini penting untuk diperiksa dan kapan operasi dibutuhkan? Berikut Popmama.com telah merangkum informasinya.

1. Strabismus dapat mengganggu fungsi penglihatan

Popmama.com/Violin Heldina/AI

Strabismus atau mata juling bukan hanya membuat posisi kedua mata terlihat tidak sejajar.

Kondisi ini juga dapat memengaruhi cara kedua mata bekerja sama dalam melihat suatu objek. Ketika mata tidak mengarah ke titik yang sama, otak dapat kesulitan menggabungkan informasi visual dari kedua mata.

Pada anak, kondisi ini perlu mendapat perhatian lebih karena sistem penglihatannya masih dalam tahap perkembangan.

Strabismus yang tidak ditangani dapat meningkatkan risiko ambliopia atau mata malas, yaitu ketika salah satu mata memiliki kemampuan melihat yang lebih rendah dibandingkan mata lainnya.

Selain itu, strabismus juga dapat menyebabkan gangguan pada persepsi kedalaman, sehingga anak mungkin lebih sulit memperkirakan jarak atau melihat objek secara tiga dimensi.

Sementara pada orang dewasa, ketidaksejajaran mata dapat memicu diplopia atau penglihatan ganda.

Karena itu, pemeriksaan sejak dini penting dilakukan agar dokter dapat menentukan penyebab dan memberikan penanganan yang sesuai sebelum gangguan penglihatan berkembang lebih jauh.

2. Mata juling juga bisa memengaruhi kesehatan mental dan kepercayaan diri

Popmama.com/Violin Heldina/AI

Dampak strabismus ternyata tidak hanya berkaitan dengan fungsi penglihatan.

Kondisi mata yang tampak tidak sejajar juga dapat memengaruhi kehidupan sosial dan psikologis seseorang, terutama ketika anak mulai banyak berinteraksi dengan teman sebaya.

Anak dengan mata juling mungkin merasa berbeda dari teman-temannya atau menjadi kurang percaya diri saat berada di lingkungan sosial.

Bahkan, kondisi tersebut dapat membuat anak lebih rentan mengalami perundungan karena penampilannya.

Dampaknya juga dapat terbawa hingga dewasa.

Seseorang dengan strabismus bisa merasa kurang nyaman ketika melakukan kontak mata, berinteraksi dengan orang lain, atau berada di lingkungan profesional.

Strabismus bahkan dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan.

Karena itu, penanganan mata juling sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan aspek kosmetik.

Dengan penanganan yang tepat, pasien diharapkan tidak hanya mendapatkan posisi mata yang lebih baik, tetapi juga dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman, percaya diri, dan bebas dari kekhawatiran terhadap penampilannya.

3. Operasi strabismus tidak selalu hanya untuk memperbaiki penampilan

Popmama.com/Violin Heldina

Mendengar kata operasi mungkin membuat Mama atau pasien merasa khawatir. Namun, operasi strabismus tidak semata-mata dilakukan untuk membuat posisi mata terlihat lebih simetris.

Tujuan utama operasi adalah membantu mencapai alignment atau kesejajaran mata yang stabil, sehingga fungsi kedua mata dapat dioptimalkan.

Tindakan ini dilakukan dengan memperbaiki posisi dan kerja otot-otot penggerak mata sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

Operasi juga dapat menjadi pilihan ketika terapi nonbedah belum memberikan hasil yang memadai atau memang menjadi pilihan paling sesuai berdasarkan diagnosis.

Pada pasien tertentu, tindakan dapat membantu mengurangi penglihatan ganda, memperbaiki posisi kepala yang sebelumnya harus dimiringkan atau ditengadahkan untuk mendapatkan penglihatan tunggal, serta memperbaiki aspek kosmetik.

"Keputusan operasi tidak dibuat hanya untuk memperbaiki penampilan, namun lebih jauh untuk memperbaiki fungsi mata secara menyeluruh, sedapat mungkin dicapai penglihatan binokular tunggal," jelas dr. Gusti G. Suardana, SpM(K), Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus sekaligus Ketua Layanan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics.

Ia menjelaskan, sebelum operasi dilakukan, dokter perlu menilai pola dan besar deviasi, fungsi kedua mata, usia, penyebab, hingga kondisi kesehatan pasien.

Dengan begitu, perencanaan operasi dapat dibuat secara individual sesuai kebutuhan masing-masing pasien dan dilanjutkan dengan pemantauan setelah tindakan.

4. Tidak semua mata juling langsung membutuhkan operasi

Popmama.com/Violin Heldina/AI

Mama mungkin mengira setiap anak atau orang dewasa dengan mata juling pasti membutuhkan operasi.

Padahal, penanganan strabismus akan disesuaikan dengan kondisi setiap pasien dan operasi bukan selalu menjadi pilihan pertama.

Dokter akan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti:

  • penyebab strabismus,

  • usia,

  • arah dan besar deviasi,

  • ketajaman penglihatan,

  • kelainan refraksi,

  • ambliopia,

  • fungsi penglihatan binokular.

Pada sebagian pasien, penanganan dapat dilakukan menggunakan kacamata untuk mengoreksi kelainan refraksi.

Dokter juga dapat memberikan lensa khusus atau prisma pada kondisi tertentu, terutama untuk membantu mengurangi deviasi atau penglihatan ganda.

Anak dengan ambliopia dapat menjalani terapi patching, yaitu menutup mata yang lebih kuat dalam durasi tertentu agar mata yang lebih lemah mendapatkan stimulasi.

Latihan penglihatan juga dapat diberikan sesuai indikasi.

Sementara itu, operasi dapat dipertimbangkan apabila ketidaksejajaran mata menetap meskipun sudah mendapatkan terapi nonbedah, atau ketika operasi dinilai sebagai pilihan yang paling sesuai berdasarkan hasil pemeriksaan dokter.

5. Kenali tanda strabismus dan jangan menunggu sampai anak besar

Popmama.com/Violin Heldina/AI

Strabismus dapat muncul dalam berbagai bentuk sehingga tanda-tandanya perlu dikenali sejak dini. Berdasarkan arah pergeseran mata, terdapat:

  • esotropia ketika mata bergerak ke arah dalam,

  • exotropia ketika mata bergerak ke arah luar,

  • hypertropia dan hypotropia ketika mata bergerak ke atas atau bawah.

Pada anak, Mama dapat memperhatikan beberapa tanda, seperti:

  • sering memiringkan kepala,

  • menutup salah satu mata,

  • menyipit ketika melihat,

  • sulit menangkap benda,

  • sering menabrak benda di sekitarnya,

  • kesulitan memperkirakan jarak,

  • mengeluhkan penglihatan ganda.

Dr. Lely Retno Wulandari, SpM(K), menjelaskan bahwa jika ketidaksejajaran mata menetap setelah usia sekitar empat bulan, kondisi tersebut perlu diperiksakan karena dapat memengaruhi penglihatan tiga dimensi dan meningkatkan risiko ambliopia.

Mama juga perlu segera membawa anak ke dokter apabila mata juling muncul secara mendadak, terlebih jika disertai sakit kepala, muntah, kelopak mata turun, kelemahan anggota tubuh, atau gangguan saraf lainnya.

Jadi, jangan menunggu mata juling membaik dengan sendirinya. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu menentukan penanganan yang tepat.

Semoga informasi ini membantu ya, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article