Alergi Bisa Bikin Anak Sulit Naik Berat Badan? Ini Penjelasannya!

Penelitian menunjukkan anak dengan alergi makanan, terutama alergi susu sapi atau beberapa alergi sekaligus, dapat memiliki berat dan tinggi badan lebih rendah, meski tidak terjadi pada semua anak.
Pembatasan banyak makanan berisiko mengurangi energi, protein, kalsium, vitamin, dan mineral; makanan yang dieliminasi perlu diganti sumber gizi setara sesuai kondisi anak.
Anak dengan alergi atau dermatitis atopik tetap dapat tumbuh optimal melalui pengelolaan pemicu, asupan bergizi, tidur berkualitas, serta evaluasi dokter anak dan ahli gizi bila pertumbuhan terhambat.
Mama mungkin pernah merasa khawatir ketika berat badan si Kecil sulit bertambah, apalagi jika anak memiliki alergi makanan atau dermatitis atopik.
Kondisi kulit yang sering kambuh maupun adanya makanan yang harus dihindari memang dapat membuat orangtua perlu lebih cermat dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak.
Informasi dari ahli gizi @leonavictoria_ahligizi menyebutkan bahwa sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara alergi makanan, dermatitis atopik, dan pertumbuhan anak.
Anak dengan dermatitis atopik yang juga memiliki alergi makanan, terutama alergi susu sapi, tercatat memiliki ukuran berat dan tinggi badan yang lebih rendah dibandingkan anak dengan dermatitis atopik tanpa alergi makanan.
Lantas, apakah anak dengan alergi lebih sulit naik berat badan? Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya. Yuk, simak!
1. Alergi makanan dapat berkaitan dengan pertumbuhan yang kurang optimal

Pexels/Kampus Production Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak dengan alergi makanan, terutama jika memiliki lebih dari satu jenis alergi, dapat memiliki berat dan tinggi badan yang lebih rendah dibandingkan dengan anak tanpa kondisi tersebut.
Salah satu penelitian yang dikutip @leonavictoria_ahligizi melibatkan 77 anak dengan dermatitis atopik. Anak yang juga memiliki alergi makanan, khususnya alergi susu sapi, memiliki z-score berat dan tinggi badan yang lebih rendah dibandingkan anak dengan dermatitis atopik saja.
Penelitian lain yang dilakukan pada anak dengan alergi makanan di Singapura juga menemukan bahwa anak dengan multiple food allergy memiliki berat dan tinggi badan yang lebih rendah.
Meski begitu, temuan tersebut tidak berarti semua anak dengan alergi pasti mengalami masalah pertumbuhan. Kondisi setiap anak dapat berbeda dan dipengaruhi oleh jenis alergi, jumlah makanan yang harus dihindari, asupan harian, hingga pengelolaan alergi.
2. Semakin banyak makanan yang harus dihindari, kebutuhan gizi perlu diperhatikan

Pexels/cottonbro studio Anak dengan alergi makanan mungkin perlu menghindari makanan tertentu untuk mencegah munculnya reaksi alergi. Jika makanan yang dieliminasi cukup banyak dan tidak mendapatkan pengganti yang sesuai, kebutuhan energi, protein, vitamin, maupun mineral anak bisa saja tidak terpenuhi.
Kondisi ini menjadi perhatian terutama pada anak dengan multiple food allergy. Penelitian yang dikutip ahli gizi tersebut juga menemukan bahwa anak dengan dua atau lebih alergi cenderung memiliki tinggi badan lebih rendah dibandingkan dengan anak dengan satu alergi.
Anak dengan alergi susu sapi atau multiple food allergy juga berisiko mengalami kekurangan kalsium. Karena itu, makanan yang dihilangkan sebaiknya tidak sekadar dihapus dari menu, tetapi perlu digantikan dengan sumber zat gizi yang setara dan sesuai dengan kondisi anak.
3. Dermatitis atopik dan alergi bisa membuat waktu makan menjadi lebih menantang

Pexels/Jonathan Borba Pertumbuhan anak tidak hanya dipengaruhi oleh jenis makanan yang dikonsumsi, tetapi juga seberapa banyak makanan yang mampu masuk ke tubuh.
Anak dengan alergi atau dermatitis atopik dapat mengalami berbagai tantangan yang membuat pemenuhan asupan menjadi lebih sulit. Pembatasan makanan, kesulitan makan, hingga kondisi tubuh yang mengalami proses peradangan akibat alergi dapat menjadi beberapa faktor yang perlu diperhatikan.
Penelitian lain yang melibatkan lebih dari 5.000 anak menemukan bahwa anak yang memiliki alergi dan eczema pada usia satu tahun memiliki persentil berat dan tinggi badan yang lebih rendah dibandingkan anak yang tidak memiliki keduanya. Kondisi tersebut masih terlihat hingga batas akhir penelitian, yaitu usia empat tahun.
Namun, penelitian tersebut juga menemukan bahwa anak yang alerginya sudah teratasi dapat mengalami catch-up growth, yaitu pertumbuhan yang mengejar ketertinggalan sebelumnya.
4. Anak tetap bisa tumbuh optimal meski memiliki alergi

Pexels/Jep Gambardella Memiliki alergi atau dermatitis atopik bukan berarti si Kecil tidak bisa mengalami pertambahan berat dan tinggi badan yang baik, Ma.
Hal yang penting adalah memastikan pencetus alergi dapat diminimalkan dan kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi. Jika ada makanan yang harus dieliminasi, Mama perlu memberikan alternatif makanan yang sesuai agar anak tetap memperoleh energi, protein, kalsium, serta zat gizi lain yang dibutuhkan untuk tumbuh.
Pemilihan pengganti makanan sebaiknya disesuaikan dengan jenis alergi dan kebutuhan anak. Pada kondisi tertentu, konsultasi dengan dokter anak dan ahli gizi dapat membantu Mama menyusun pola makan yang aman sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi si Kecil.
5. Jangan lupa perhatikan kualitas tidur si Kecil

Pexels/Tatiana Syrikova Selain makanan, tidur juga menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan anak. Anak membutuhkan waktu tidur yang cukup agar proses tumbuh kembangnya dapat berlangsung dengan baik.
Pada anak dengan dermatitis atopik atau kondisi alergi tertentu, rasa tidak nyaman dapat mengganggu kualitas tidur. Hidung yang tersumbat atau pembesaran adenoid juga dapat membuat anak lebih sulit tidur nyenyak.
Karena itu, jika Mama melihat si Kecil sering mengalami gangguan tidur, mendengkur, bernapas melalui mulut, atau tampak tidak mendapatkan tidur yang berkualitas, kondisi tersebut sebaiknya diperiksakan.
Penanganan yang tepat dapat membantu anak mendapatkan waktu istirahat yang lebih baik sekaligus mendukung tumbuh kembangnya.
Jadi, anak dengan alergi atau dermatitis atopik tidak selalu lebih sulit naik berat badan, Ma. Namun, alergi makanan dan pembatasan makanan tertentu memang dapat meningkatkan risiko asupan gizi yang kurang jika tidak dikelola dengan tepat.
Mama tetap bisa membantu si Kecil tumbuh optimal dengan memastikan makanan yang dieliminasi memiliki pengganti yang sesuai, memperhatikan kecukupan zat gizi, meminimalkan pencetus alergi, serta memastikan anak mendapatkan tidur yang cukup.
Jika berat badan atau tinggi badan si Kecil tampak tidak bertambah sesuai pola pertumbuhannya, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter anak atau ahli gizi untuk mendapatkan evaluasi yang lebih menyeluruh ya, Ma!






















