Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Ini Penanganan Anak Diare sesuai WHO, Mama Wajib Tahu!

4 min read
Ini Penanganan Anak Diare sesuai WHO, Mama Wajib Tahu!
Unsplash/Jerry Wang
  • Penanganan utama diare anak adalah mencegah dehidrasi dengan oralit low-osmolarity 245 mOsm/L, diberikan sedikit tetapi sering setelah buang air besar atau muntah.

  • Suplemen zinc 5 mg per hari membantu pemulihan sel usus; ASI dan makanan tetap diberikan, sementara asupan tinggi gula perlu diperhatikan karena dapat memperparah feses cair.

  • Antibiotik tidak boleh diberikan sembarangan karena mayoritas diare dipicu virus; probiotik bukan terapi rutin, dan konsultasi dokter diperlukan bila tak membaik atau terjadi dehidrasi berat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika anak terkena diare tentu membuat Mama panik bukan main ya. Melihat anak mengeluh sakit di bagian perutnya dan ingin terburu-buru ingin ke toilet tentu membuat hati pilu. Betul nggak Ma?

Mungkin ada sebagian Mama yang langsung memberikan obat atau bahkan menyuruh si Kecil berpuasa.

Ternyata penanganan seperti itu kurang tepat, Ma!

Malah bisa membahayakan kondisi pencernaan dan memperlambat proses penyembuhan anak lho!

Melalui unggahan edukasi medis di akun Instagram pribadinya, dr. Amrina Rosyada, Sp.A (@amrinaroo), sang dokter membagikan pembaruan informasj dari WHO (World Health Organization) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), terdapat penyesuaian mengenai diare anak yang lebih efektif dan aman.

Intip rangkuman Popmama.com mengenai penanganan anak diare sesuai WHO.

  1. Berikan Oralit Low-Osmolarity untuk Mencegah Dehidrasi

    Pemberian oralit oleh Mama pada anak yang sedang diare
    Popmama.com/Syiva Amalia/AI

    Pertolongan pertama paling krusial saat anak mengalami diare bukanlah memberikan puasa atau memberikan obat, Ma, tetapi mencegah dehidrasi.

    Menurut pembaruan panduan medis WHO dan IDAI, kenapa jenis oralit yang kini sangat direkomendasikan adalah Oralit Low-Osmolarity. Karena memiliki tingkat osmolaritas 245 mOsm/L.

    Formula ini terbukti jauh lebih efektif dalam menekan volume cairan yang keluar melalui feses.

    Berbeda dengan oralit standar terdahulu, larutan low-osmolarity tidak memberatkan kinerja usus. Malah mengurangi frekuensi buang air besar dan menekan volume cairan yang keluar.

    Tidak hanya itu, oralit ini juga mampu menurunkan risiko anak membutuhkan perawatan infus hingga 33℅.

    Mama bisa berikan larutan oralit ini sedikit demi sedikit tapi sering, terutama setiap kali anak selesai buang air besar atau muntah.

  2. Berikan Suplemen Zinc 5 mg/hari untuk Mempercepat Pemulihan Usus

    Anak diberikan suplemen zinc oleh Mama
    Popmama.com/Syiva Amalia/AI

    Pemberian suplemen Zinc merupakan komponen vital dalam diare anak.

    Sebab kandungan mineral ini berperan dalam membantu proses regenerasi sel-sel epitel usus yang rusak akibat infeksi.

    Tidak hanya itu, manfaat lainnya juga menjaga integritas mukosa usus, serta meningkatkan daya tahan tubuh anak.

    Dosis terukur 5 mg/hari ini dirancang agar jauh lebih ramah di lambung anak. Sebab dosis Zinc yang lebih tinggi kerap memicu rasa tidak nyaman pada perut anak, serta efek samping mual dan muntah.

  3. Tetap Lanjutkan Pemberian ASI dan Real Food

    Mama tetap memberikan anak asupan nutrisi
    Popmama.com/Syiva Amalia/AI

    Anggapan lama bahwa saluran pencernaan anak wajib dipuasakan saat diare adalah mitos medis yang keliru dan justru berbahaya.

    Sebab artinya sama dengan menghentikan asupan makanan. Hal ini berisiko memperburuk kondisi dehidrasi, memicu penurunan berat badan secara drastis, serta memperlambat proses penyembuhan jaringan usus.

    Nutrisi justru harus diberikan karena dinding usus yang rusak akibat infeksi membutuhkan asupan agar bisa membelah dan pulih kembali dengan cepat.

    Bagi bayi yang masih menyusu, ASI wajib terus diberikan bahkan lebih sering dari biasanya.

    Karena ASI mengandung antibodi, faktor pertumbuhan, serta enzim yang membantu melawan infeksi penyebab diare.

    Saat memberikan asupan pada anak, Mama harus perhatikan kandungan gula.

    Kandungan gula yang tinggi dapat menarik air lebih banyak ke dalam usus. Yang justru membuat feses anak semakin cair dan diare bertambah parah.

  4. Batasi Penggunaan Antibiotik dan Probiotik

    Mama sedang memeriksa obat
    Popmama.com/Syiva Amalia/AI

    Banyak Mama secara mandiri langsung memberikan obat, probiotik, atau bahkan antibiotik. Dengan harapan diare si Anak bisa langsung terhenti.

    Padahal, penggunaan obat-obatan yang tidak melalui resep dokter itu justru berisiko membahayakan usus dan kesehatan anak secara keseluruhan.

    Mama, Mayoritas kasus diare pada anak dipicu oleh infeksi virus, seperti Rotavirus yang tidak mempan dibunuh dengan antibiotik.

    Pemberian antibiotik tanpa indikasi yang tepat tidak akan menyembuhkan diare, Ma. Malahan dapat merusak keseimbangan bakteri baik di dalam usus.

    Ingat ya Ma! Antibiotik hanya boleh diberikan berdasarkan resep dan diagnosis langsung dari dokter. Terutama ketika ditemukan tanda-tanda spesifik, seperti diare berdarah, kolera, atau infeksi bakteri berat tertentu.

    Sementara perihal probiotik sering digunakan untuk kesehatan pencernaan, tetapi pedoman terbaru WHO menegaskan bahwa probiotik bukan merupakan terapi rutin wajib di kasus diare anak.

    Fokus utama penanganan diare tetaplah rehidrasi dengan oralit low-osmolarity dan pemberian suplemen Zinc.

    Demikian penanganan anak diare sesuai WHO. Ingat ya, Ma, selalu hindari memberikan antibiotik secara sembarangan tanpa petunjuk dokter.

    ​Jika diare anak mama tak kunjung membaik atau disertai gejala dehidrasi berat. Jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More