Otak si Kecil terdiri dari dua komponen utama yang bekerja bersama untuk mendukung setiap aspek kehidupannya. Grey matter atau materi abu-abu berfungsi memproses informasi, seperti pusat kendali yang menganalisis, berpikir, dan membuat keputusan.
Sementara white matter atau materi putih berperan sebagai jalur komunikasi antar bagian otak, seperti kabel-kabel yang menghubungkan berbagai pusat kendali agar bisa bekerja sama.
Pada otak si Kecil, volume grey matter berkembang optimal terutama di area yang bertanggung jawab untuk perhatian, memori, dan kemampuan mengatur perilaku.
Koneksi white matter pun tumbuh baik, memungkinkan berbagai bagian otak berkomunikasi dengan lancar. Hasilnya, si Kecil bisa fokus saat belajar, mengingat dengan baik, dan mengontrol perilakunya.
Kondisi ini tentu berbeda ketika kebutuhan tidur si Kecil tidak terpenuhi. Dr. Ze Wang dari National Institute of Health (NIH) menjelaskan temuan dari penelitiannya:
"Children who had insufficient sleep had less grey matter or smaller volume in certain areas of the brain responsible for attention, memory, and inhibition control"
Dalam penelitian yang sama, ditemukan juga bahwa:
"these differences persisted after two years, a concerning finding that suggests long-term harm for those who do not get enough sleep".
Artinya, kurang tidur bukan hanya membuat si Kecil mengantuk atau rewel, tapi secara fisik mengubah struktur otaknya dalam jangka panjang.
Volume otak yang lebih kecil di area-area krusial ini bukan sesuatu yang bisa diperbaiki dalam semalam, bahkan dampaknya masih terlihat bertahun-tahun kemudian.