Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Nail Art Tebal, Perempuan Ini Tak Bisa di Cek Tekanan Jantung di IGD
Pexels/Fernanda Neitzel
  • Seorang perempuan 28 tahun di Hunan, China, mengalami serangan jantung mendadak dan sulit didiagnosis karena kuku palsu tebal menghalangi alat pulse oximeter.
  • Tim medis kesulitan membaca detak jantung dan kadar oksigen pasien hingga harus memanggil ahli manicure untuk melepas kuku palsu agar tindakan darurat bisa dilakukan.
  • Kasus ini menyoroti pentingnya penggunaan fake nails yang aman, termasuk menyisakan beberapa jari tanpa hiasan agar pemeriksaan medis tetap bisa dilakukan saat keadaan darurat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Seorang perempuan di China tidak bisa diukur tekanan jantungnya saat masuk IGD. Padahal perempuan berusia 28 tahun itu dibawa IGD karena mengalami serangan jantung mendadak. 

Saat dokter akan melakukan proses diagnosis, kuku yang dikenakan perempuan itu menghalangi pulse oximeter. Sehingga tekanan darah, jantung dan oksigennya tidak bisa terdeteksi di awal.

Bagaimana bisa?

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya!

1. Cerita perempuan di China tak bisa terdeteksi detak jantungnya

Pexels/Salim Da

Nail art baik berupa tempel-lepasan atau semi-permanen menjadi penghias tangan tangan yang menarik. Namun, fake nails yang terlalu tebal membuat perempuan di China justru mengalami kesulitan diagnosis saat ia dilarikan ke IGD karena mengalami serangan jantung,.

Risiko itu dialami langsung oleh seorang perempuan berusia 28 tahun di Provinsi Hunan, Tiongkok Tengah. Dikutip dari South China Morning Post, saat itu ia mengalami serangan jantung mendadak pada awal Februari 2026. Saat dilarikan ke rumah sakit, tim medis tidak dapat segera melakukan tindakan karena terhambat fake nails yang ia gunakan.

2. Nyawa perempuan itu hampir tidak terselamatkan

Pexels/Salim Da

Dikutip dari pemberitaan itu, perempuan tersebut hampir saja tidak bisa diselamatkan. Pasalnya fake nails yang terlalu tebal itu sulit dilepaskan untuk kebutuhan observasi dokter di sana. 

Untuk menolongnya, tim medis akhirnya memanggil ahli manicure agar tindakan medis dapat dijalankan.

3. Mengapa kuku palsu tebal menjadi masalah?

Pexels/abolfazl zarghami

Belajar dari kasus ini, masalah utama terletak pada penggunaan alat Pulse Oximeter (alat penjepit jari). Alat ini bekerja menggunakan sinar inframerah untuk mengukur kadar oksigen dalam darah dan detak jantung.

Namun, karena ada fake nails tebal dan panjang sehingga membuat lapisan kuku gel atau kuku palsu itu memblokir sinyal cahaya dari alat tersebut. Tim medis pun tidak bisa membaca data vital pasien secara akurat, yang mengakibatkan kondisi pasien tidak terpantau dengan jelas di tengah situasi kritis.

Kemudian, lem kuku yang terlalu kuat membuat dokter tidak bisa melepas kuku tersebut secara manual. Ini yang membuat pihak RS harus memanggil tenaga manicure profesional ke ruang darurat untuk membongkarnya dengan alat khusus.

4. Cara aman menggunakan fake nails

shopee.com/getnailed by nas

Tidak dapat dipungkiri jika fake nails memang mendukung penampilan menjadi lebih menarik. Namun, kita juga harus mempertimbangkan keamanan diri sendiri sekaligus tetap bisa tampil maksimal.

Ada beberapa tips agar bisa menggunakan fake nail dengan aman nih. Jika menggunakan fake nails, sebaiknya gunakan lem yang tidak terlalu kuat dan mudah dilepas saat darurat.

Tips selanjutnya, dari Dokter IGD Rumah Sakit Afiliasi Kedua Fakultas Kedokteran Universitas Zhejiang, Liu Xiao, menyarankan agar menyisakan 1-2 jari kosong (fake nails atau kutek) agar tindakan medis tetap dapat dilakukan di situasi darurat.

Itulah tadi informasi mengenai seorang perempuan di China tidak bisa di cek tekanan jantung di IGD karena nail art terlalu tebal. Wah, bisa jadi pelajaran berharga nih.

Editorial Team