Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Lewat Busana Adat, Kebakaran Hutan Disuarakan dengan Kuat

4 min read
Lewat Busana Adat, Kebakaran Hutan Disuarakan dengan Kuat
Instagram.com/menjaga.api; Instagram.com/muhmdrais__; Instagram.com/ichalago
  • Seni, fashion, dan identitas budaya digunakan untuk menyuarakan dampak karhutla terhadap lingkungan dan masyarakat.

  • Busana adat dan Tari Tanggai hadir dalam karya visual yang menyampaikan kritik terhadap kerusakan hutan.

  • Para seniman menempatkan tari serta tubuh manusia di lanskap hangus sebagai bahasa perlawanan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dari bara yang tersisa, budaya dan tubuh manusia menjadi suara perlawanan yang tak mudah dipadamkan

Resahnya masyarakat mengenai Isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) disuarakan melalui banyak cara. Kali ini, seni, fashion, dan identitas budaya dipertemukan untuk menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya meninggalkan jejak hangus, pun kehidupan masyarakat sekitarnya juga terdampak.

Misalnya akun Instagram @menjaga.api menjadi ruang kolaborasi para seniman untuk menyuarakan keresahan tentang karhutla melalui karya visual. Mereka memotret bagaimana kebakaran hutan membawa dampak besar di Palembang dan Jambi.

Kemudian ada juga karya dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang menunjukkan keindahan budaya tetapi “megap-megap” tengah menari di tengah kawasan kebakaran hutan. Keindahan yang menyesakkan itu dipotret oleh Instagram @muhmdrais__.

Kontras antara kekayaan budaya, warna busana, dan latar hutan yang menghitam membuat pesan yang disampaikan terasa semakin kuat. 

Berikut Popmama.com rangkum bagaimana busana adat, tari, dan seni visual digunakan untuk menyuarakan isu karhutla.

  1. 1. Busana adat hadir di tengah lanskap hutan yang terbakar

    Busana adat hadir di tengah lanskap hutan yang terbakar
    Instagram.com/ichalago

    Deretan karya kolaborasi seniman di @menjaga.api membawa identitas budaya daerah langsung ke lokasi kebakaran hutan. Pakaian adat dengan warna, aksesori, dan detail yang kaya terlihat sangat kontras dengan tanah kelabu, pepohonan hangus, serta suasana berkabut di sekelilingnya.

    Kontras visual tersebut membuat busana tidak lagi sekadar menjadi elemen estetika. Kehadirannya di tengah bekas kebakaran seolah mengingatkan bahwa ketika alam rusak, kehidupan dan kebudayaan masyarakat yang hidup berdampingan dengannya ikut terdampak.

  2. 2. “Tarian Kehancuran Budaya” satirkan isu karhutla lewat Tari Tanggai

    “Tarian Kehancuran Budaya” satirkan isu karhutla lewat Tari Tanggai
    Instagram.com/menjaga.api

    Salah satu karya dari Palembang diberi judul “Tarian Kehancuran Budaya”. Karya tersebut disebut sebagai fraktal satir terhadap pembakaran hutan dan lahan yang dipadukan dengan Tari Tanggai Palembang, tarian yang biasanya digunakan dalam prosesi penyambutan.

    Namun, makna penyambutan tersebut sengaja dibalik. Dalam keterangan karya, akun Instagram @trialfiaaa_  yang merupakan salah satu model yang ada di foto menyebut bahwa tidak ada penyambutan bagi kekuasaan yang membiarkan lahan korporasi meluas dengan cara yang merusak lingkungan.

    “Polusi asap membuat sesak, nafas berat tersengal. Lahan cukong beranak pinak, berpesta pora dengan binal,” tulisnya di-caption.

    Lewat tarian yang seharusnya membawa nuansa penghormatan dan keramahan, karya ini justru menyampaikan kemarahan terhadap kerusakan lingkungan.

  3. 3. “Parade Asap” tampilkan barisan perempuan di tengah lahan hangus

    “Parade Asap” tampilkan barisan perempuan di tengah lahan hangus
    Instagram.com/ichalago

    Foto ini merupakan bagian dari aksi teatrikal dan karya seni visual bertajuk “Parade Asap” yang diinisiasi seniman asal Jambi, Ichalago Chaniago di akun Instagram @ichalago. Karya tersebut dilakukan di kawasan perbatasan Jambi dan Sumatera Selatan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.

    Penari perempuan berbaris di tengah lanskap yang hangus. Kontras antara pakaian yang penuh identitas budaya dengan lahan yang terbakar menciptakan pesan visual yang kuat tentang dampak karhutla terhadap masyarakat dan ruang hidup mereka.

  4. 4. Gas mask dan busana adat jadi simbol kuat di tengah karhutla

    Gas mask dan busana adat jadi simbol kuat di tengah karhutla
    Instagram.com/ichalago

    Busana adat Palembang bernuansa hitam dan emas dipadukan dengan gas mask, menciptakan kesan satire yang sangat kuat. Baju adat dengan elemen budaya serupa biasanya hadir dalam suasana perayaan, tetapi kali ini ditempatkan di tengah hutan yang hangus dan dipenuhi kabut asap.

    Sang penari juga terlihat menggendong seekor monyet di tengah lanskap yang terbakar. Ini seolah mempertegas bahwa karhutla bukan hanya berdampak pada manusia, tetapi juga pada satwa dan habitat yang ikut kehilangan ruang hidup. Semua elemen visual di foto ini menyatu menjadi simbol tentang budaya, kehidupan, dan alam yang sama-sama terancam karena kebakaran hutan ini.

  5. 5. Gerak dalam kehancuran, tari jadi bahasa perlawanan

    Gerak dalam kehancuran, tari jadi bahasa perlawanan
    Instagram.com/muhmdrais__

    Tidak hanya lewat fashion, gerakan tubuh juga menjadi bagian penting dalam menyampaikan pesan tentang karhutla. 

    Dalam karya “Gerak Dalam Kehancuran”, akun Instagram @muhmdrais__ membawa tarian ke tengah lanskap yang telah hangus sambil menyampaikan pesan mengenai betapa merusaknya kebakaran hutan untuk masyarakat sekitar.

    “The forest is not silent. Neither are we,” tulisnya di foto itu.

    Kontras antara gerak tari yang hidup dan latar hutan yang kehilangan warna membuat karya ini terasa kuat. Kebudayaan yang biasanya hadir dalam ruang perayaan justru ditempatkan di tengah kerusakan lingkungan, menjadikan tari sebagai bahasa perlawanan tanpa harus bergantung pada pidato atau tulisan.

  6. 6. Karhutla bukan hanya persoalan pohon yang terbakar

    fashion kebarakan hutan (7).jpg
    Instagram.com/ichalago

    Pesan terbesar dari karya-karya ini adalah bahwa karhutla tidak berhenti pada hilangnya pepohonan. Dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat melalui polusi udara, perubahan lingkungan tempat tinggal, hingga ancaman terhadap kehidupan dan identitas budaya mereka.

    Suara lantang mengenai karya yang menempatkan pakaian adat di tengah hutan terbakar penting karena menghubungkan persoalan lingkungan dengan manusia yang hidup di sekitarnya. Identitas budaya ditempatkan sebagai saksi atas perubahan hutan akibat kebakaran.

    Dua karya dari Jambi dan Palangkaraya ini memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi medium untuk menyuarakan kritik. Seni juga bisa menjadi pengingat masyarakat akan dampak karhutla yang lebih luas.

    Itulah potret para penari yang mengenakan busana adat di tengah lanskap bekas kebakaran hutan. Ketika suara terasa tak cukup didengar, seni menjadi bentuk perlawanan yang paling dekat dengan masyarakat. Karhutla tidak hanya menyisakan asap, abu, dan tanah yang hangus.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More