"Polusi udara tidak hanya memengaruhi saluran pernapasan saja, tapi juga menyebabkan gangguan di seluruh sistem tubuh, mulai dari kepala hingga kaki, dan berbagai bagian tubuh bisa terganggu.” ucap dr Cynthia Centauri, Sp.A, Subsp. Respi.(K)
Waspada Asap Karhutla! Ini Ancaman Kesehatan yang Menghantui Anak

- Anak lebih rentan terhadap asap karhutla karena bernapas lebih cepat, paru-paru dan imun belum matang, serta sering bernapas lewat mulut saat aktif.
- Paparan PM2.5 dan gas beracun dapat memicu iritasi mata-hidung, asma, ISPA, gangguan paru, kulit, jantung, konsentrasi, daya tahan tubuh, hingga tumbuh kembang.
- Perlindungan meliputi masker N95/KN95, membatasi aktivitas luar, pemurni udara HEPA, mandi dan ganti pakaian, cukup minum, serta pemeriksaan medis bila gejala memburuk.
Mama, berita mengenai kebakaran hutan di Kalimantan membuat hati pilu ya. Bukan hanya tempat tinggal hewan-hewan yang terbakar tetapi asap akibat karhutla ini juga merusak kualitas udara di sana.
Melihat anak-anak yang masih harus menembus kabut asap karhutla demi pergi ke sekolah tentu membuat hati setiap Mama cemas, ya. Apalagi sistem pernapasan anak sebenarnya masih sangat rentan terhadap cemaran polusi udara.
Berdasarkan penjelasan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), laju napas anak yang lebih cepat membuat paru-paru mereka menyerap polutan asap jauh lebih banyak dibandingkan orang dewasa.
Jika anak terpaksa harus beraktivitas di luar rumah saat kabut asap melanda, paparan partikel mikroskopis PM 2.5 dapat memicu masalah kesehatan serius, mulai dari iritasi akut, serangan asma, hingga risiko ISPA. Oleh karena itu, Mama perlu memahami bahaya serta langkah pencegahannya dengan tepat. Berikut sudah Popmama.com rangkum informasinya.
Table of Content
Mengapa Anak Lebih Rentan Terhadap Asap Karhutla?

Pexels/Neron Photos Mama anak-anak secara biologis dan perilaku, jauh lebih rentan terhadap bahaya polusi udara seperti kabut asap. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, berikut alasan mengapa anak lebih rentan terhadap asap karhutla:
Laju napas dan butuh asupan udara lebih tinggi. Anak-anak termasuk kelompok yang mudah terpapar polusi udara seperti asap karhutla ini, Ma. Hal ini karena organ-organ dalam tubuh mereka masih berkembang serta membutuhkan waktu bernapas lebih cepat dibandingkan orang dewasa.
Berdasarkan data CDC dan jurnal Environ Health, diketahui anak-anak menghirup udara hingga 2–3 kali lebih banyak per kilogram berat badannya dibanding orang dewasa. Artinya, dosis partikel beracun yang masuk ke paru-paru mereka relatif jauh lebih besar.
Sistem paru dan imun yang masih berkembang. Mama seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa organ-organ di dalam tubuh anak masih berkembang. Apalagi paru-paru anak yang masih dalam tahap pembentukan sel (alveolarization), sementara sistem imun mukosanya belum matang.
Berdasarkan jurnal Environ Health, paparan partikel halus PM 2.5 dan toksin kimia pada tubuh saat proses pembentukan organ, berisiko mengganggu perkembangan struktur paru-paru anak secara permanen.
Hal ini membuat saluran napas mereka kesulitan mengeluarkan polutan alami, sehingga jaringan organ lebih mudah mengalami iritasi dan peradangan.
Kecenderungan bernapas lewat mulut. Mama ternyata anak memiliki kecenderungan mengambil nafas lewat mulut lho. Hal ini dilakukan saat anak aktif bergerak, seperti ketika bermain. Kondisi ini membuat asap karhutla masuk langsung ke paru-paru tanpa melewati penyaringan alami bulu hidung.
Dampak dan Ancaman Kesehatan Akibat Asap Karhutla pada Anak

Pexels/Anastasia Shuraeva Bahaya kabut asap karhutla tidak boleh dipandang sebagai masalah saluran pernapasan semata, ya, Ma.
Menurut dr Cynthia Centauri, Sp.A, Subsp. Respi.(K), dalam seminar media bersama IDAI menjelaskan bahwa polusi udara memicu gangguan pada seluruh sistem tubuh anak.
Senyawa beracun dan partikel mikroskopis seperti PM 2.5 yang terhirup mampu menyusup ke dalam sistem sirkulasi darah dan memicu dampak sistemik pada seluruh organ tubuh anak. Berikut dampak sistemik kesehatan yang menghantui si Kecil dari kepala hingga kaki:
Sistem saraf dan otak. Dalam jurnal Environ Health, menunjukkan bahwa partikel ultra-halus PM 2.5 sanggup menembus pembuluh darah hingga melintasi sawar darah otak (blood-brain barrier).
Kondisi ini dapat memicu sakit kepala, pusing, rasa lelah berlebih, hingga menurunkan fokus dan konsentrasi belajar si Kecil di sekolah.
Mata dan hidung. Data CDC mencatat bahwa kontak langsung dengan gas beracun (seperti sulfur dioksida dan formaldehida) memicu iritasi akut pada lapisan luar tubuh.
Anak akan sering mengeluhkan mata merah, gatal, dan perih (konjungtivitis iritatif), serta pembengkakan mukosa hidung yang memicu mimisan dan hidung tersumbat.
Paru-paru dan tenggorokan. Kedua organ ini merupakan organ yang paling cepat terdampak. Paparan asap memicu iritasi tenggorokan, batuk kronis, serta meningkatkan risiko serangan asma akut.
CDC dan jurnal Environ Health, menegaskan bahwa rusaknya pertahanan mukosa paru-paru membuat anak sangat rentan terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), bronkitis, hingga pneumonia. Paparan berulang bahkan berisiko menghambat pertumbuhan fungsi paru anak secara permanen.
Jantung dan pembuluh darah. Saat partikel PM 2.5 masuk ke dalam sirkulasi darah, partikel tersebut memicu terjadinya peradangan pada dinding pembuluh darah. Hal ini memaksa jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah beroksigen ke seluruh tubuh si Kecil.
Kulit. Tumpukan debu dan abu karhutla yang menempel pada tubuh dapat merusak lapisan pelindung kulit (skin barrier), memicu gatal-gatal, bintik merah, hingga memperparah kekambuhan pada anak yang memiliki riwayat eksim.
Daya tahan tubuh dan tumbuh kembang. Paparan racun dari lingkungan yang terus-menerus memicu penekanan sistem imun (immune suppression). Membuat tubuh anak sibuk melawan peradangan, ditambah kualitas tidur yang buruk akibat sesak napas, pada akhirnya dapat mengganggu proses tumbuh kembang idealnya.
Langkah Perlindungan untuk Mengurangi Risiko Asap Karhutla pada Anak

Pexels/cottonbro studio Mengingat tingginya ancaman kesehatan sistemik akibat asap karhutla, Mama perlu mengambil langkah siaga ekstra untuk menekan paparan polutan pada anak.
Mengacu pada panduan pencegahan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), berikut adalah langkah perlindungan praktis yang wajib diterapkan saat anak tetap harus beraktivitas dan bersekolah di tengah kabut asap:
- Wajibkan penggunaan masker respirator berstandar (N95/KN95).
- Batasi aktivitas luar ruangan (outdoor).
- Gunakan pemurni udara (air purifier) yang dilengkapi filter HEPA (High-Efficiency Particulate Air) untuk menyaring partikel halus di dalam ruangan.
- Minta anak untuk segera mandi dan berganti pakaian bersih begitu sampai di rumah sebelum beristirahat atau bermain.
- Pastikan anak minum air putih yang cukup dan bekali anak dengan buah dan sayuran kaya Vitamin C dan E (seperti jeruk, apel, dan brokoli) guna memperkuat daya tahan tubuh.
- Segera bawa anak ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat jika ia mulai menunjukkan gejala batuk terus-menerus, mata merah parah, atau napas cepat dan berbunyi (wheezing).
Itulah ancaman kesehatan akibat asap karhutla pada anak yang nyata adanya dan tidak boleh dianggap sepele. Bagaimana kondisi kualitas udara di wilayah Mama saat ini? Langkah perlindungan apa yang paling ampuh diterapkan untuk anak di rumah maupun di sekolah?





















