- Cedera kepala akut
- Gejala neurologis, seperti gelisah berlebihan, penurunan kesadaran, kejang, atau gangguan penglihatan
- Tanda kelumpuhan atau gangguan saraf akibat stroke
- Gangguan penglihatan akibat perdarahan pada retina
- Mual dan muntah yang bisa jadi tanda naiknya tekanan di dalam kepala
- Nyeri dada yang mengarah pada gangguan jantung
- Sesak napas akibat penumpukan cairan di paru-paru
Apa Itu Hipertensi Emergensi? Ini Gejala dan Pengobatannya

- Hipertensi emergensi adalah kondisi gawat darurat dengan tekanan darah di atas 180/120 mmHg disertai kerusakan organ seperti otak, jantung, ginjal, atau retina.
- Gejalanya meliputi sakit kepala berat, gangguan penglihatan, nyeri dada, sesak napas, hingga penurunan kesadaran yang menandakan kerusakan organ akibat lonjakan tekanan darah.
- Penanganan dilakukan di ruang intensif dengan obat antihipertensi infus serta dukungan gaya hidup sehat seperti diet rendah garam, olahraga rutin, dan pemantauan tekanan darah berkala.
Pernah dengar istilah hipertensi emergensi? Kondisi ini bukan sekadar tekanan darah tinggi biasa karena bisa berujung pada keadaan darurat medis yang mengancam nyawa jika terlambat ditangani.
Buat kamu yang punya riwayat darah tinggi atau ada anggota keluarga dengan kondisi serupa, penting untuk tahu apa itu hipertensi emergensi.
Penasaran tentang penyakit yang satu ini? Berikut Popmama.com mengulas apa itu hipertensi emergensi? Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
Pengertian Hipertensi Emergensi

Mengutip jurnal Galenical, hipertensi emergensi adalah kondisi gawat darurat medis yang ditandai dengan tekanan darah sistolik di atas 180 mmHg dan/atau diastolik di atas 120 mmHg, disertai tanda kerusakan organ akut, baik pada sistem saraf, jantung dan pembuluh darah, maupun ginjal.
Dikutip dari Journal of Midwifery Health Science of Sultan Agung, hipertensi emergensi merupakan kenaikan tekanan darah secara mendadak, umumnya lebih dari 180/110 mmHg, disertai kerusakan organ akibat hipertensi. Organ yang biasanya terdampak meliputi retina, otak, jantung, pembuluh darah besar, hingga ginjal.
Kondisi ini sedikit berbeda dari hipertensi urgensi, yang juga ditandai dengan tekanan darah tinggi mendadak, namun tanpa disertai kerusakan organ target. Karena itu, hipertensi emergensi harus segera ditangani, biasanya melalui pemberian obat antihipertensi melalui infus di ruang perawatan intensif.
Gejala Hipertensi Emergensi yang Perlu Diwaspadai

Sayangnya, gejala hipertensi emergensi tidak selalu terlihat jelas sejak awal. Menurut Journal of Midwifery Health Science of Sultan Agung, berikut beberapa tanda yang wajib diwaspadai saat tekanan darah naik drastis:
Selain itu, laporan kasus dari jurnal Galenical turut menunjukkan gejala nyata yang dialami pasien, yaitu pusing dan sakit kepala berdenyut di bagian belakang leher yang tidak hilang meski sudah beristirahat, disertai nyeri ulu hati, lemas, dan mual.
Penyebab Hipertensi Emergensi

Kenapa tekanan darah bisa melonjak drastis hingga mengancam nyawa? Mengutip jurnal Galenical, ada beberapa penyebab yang mendasari krisis hipertensi ini, di antaranya:
- Pengobatan hipertensi yang tidak terkontrol
- Kelainan pada jaringan ginjal
- Gangguan pembuluh darah ginjal
- Efek samping konsumsi obat-obatan tertentu
- Kelainan kolagen pada pembuluh darah
- Penyakit Cushing, gangguan akibat kelebihan hormon kortisol
- Pheokromositoma, tumor pada kelenjar adrenal
- Preeklamsia dan eklamsia pada ibu hamil
- Kondisi pascaoperasi
Faktor Risiko Hipertensi Emergensi

Tidak semua orang dengan darah tinggi bakal mengalami hipertensi emergensi. Namun, ada sejumlah faktor risiko yang bikin seseorang lebih rentan, seperti dirangkum dari Journal of Midwifery Health Science of Sultan Agung:
- Riwayat hipertensi yang sudah lama
- Hipertensi yang muncul di masa perioperatif atau sekitar operasi
- Penyakit ginjal
- Riwayat stroke
- Cedera kepala
- Preeklamsia
- Penggunaan kokain atau obat-obatan sejenis
- Penghentian mendadak obat beta blocker atau obat golongan tertentu seperti klonidin
- Pheokromositoma
Jurnal ini juga menyebutkan bahwa gaya hidup seperti konsumsi garam berlebih, obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik ikut berkontribusi pada risiko ini. Tidak hanya itu, dislipidemia atau kadar lemak darah tinggi dan gula darah yang tidak terkontrol pun turut memperbesar peluang munculnya kondisi ini.
Hal ini sejalan dengan laporan kasus di jurnal Galenical, di mana pasien yang mengalami hipertensi emergensi juga didiagnosis diabetes melitus tipe 2 dan dislipidemia sekaligus.
Perawatan untuk Pasien Hipertensi Emergensi

Selain pengobatan medis, ada juga langkah perawatan pendukung yang tidak kalah penting. Melansir jurnal Galenical, berikut beberapa bentuk perawatan nonfarmakologis yang biasa diberikan:
- Edukasi kesehatan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami
- Dukungan moral, motivasi, dan pendampingan keluarga
- Diskusi bersama pasien soal rencana pengobatan ke depan
- Program penurunan berat badan
- Pembatasan konsumsi garam
- Penerapan pola makan Diet DASH
- Olahraga secara teratur
- Berhenti merokok
Pasien juga perlu dipantau secara berkala, baik tekanan darah maupun kadar gula darahnya, apalagi jika disertai kondisi penyerta seperti diabetes.
Pengobatan Hipertensi Emergensi

Karena sifatnya darurat, penanganan hipertensi emergensi umumnya dilakukan di ruang perawatan intensif dengan pemberian obat antihipertensi melalui infus.
Menurut Journal of Midwifery Health Science of Sultan Agung, pemilihan obat parenteral disesuaikan dengan jenis kerusakan organ yang terjadi, di antaranya:
- Labetalol
- Nicardipin
- Nitroprusid
- Urapidil
- Nitrogliserin
Nah, itulah pembahasan mengenai apa itu hipertensi emergensi? Semoga informatif dan bermanfaat!





















