Pasti kamu sudah pernah lihat kerucut berwarna oranye di jalan raya sebelumnya. Benda ini bernama traffic cone, salah satu atribut keselamatan di jalan raya.
Asal Usul Traffic Cone, Ide Sederhana Simbol Keselamatan di Jalan

- Traffic cone pertama kali diciptakan oleh Charles D. Scanlon di Los Angeles tahun 1940-an untuk melindungi pekerja jalan dan memberi tanda aman bagi pengendara.
- Awalnya dibuat dari beton, traffic cone kemudian beralih ke bahan karet dan termoplastik agar lebih ringan, fleksibel, serta tidak membahayakan kendaraan saat tertabrak.
- Warna oranye terang dengan pita reflektif dipilih agar mudah terlihat dalam berbagai kondisi, sementara kini traffic cone juga menjadi simbol budaya di beberapa kota dunia.
Meski terlihat sepele, ternyata traffic cone punya fungsi penting sebagai penanda yang mengharuskan pengendara mengurangi kecepatan. Entah karena ada perbaikan jalan, kecelakaan lalu lintas, atau penyempitan jalur.
Di balik tampilannya yang sederhana, traffic cone juga punya sejarah yang cukup panjang lho. Benda ini lahir dari masalah yang dihadapi para pekerja jalan, lalu terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.
Ingin tahu awal mula traffic cone tercipta? Ikut Popmama.com membahas asal usul traffic cone berikut ini, yuk!
Table of Content
Awal Mula Traffic Cone

Kisah traffic cone dimulai pada tahun 1940-an di Los Angeles, Amerika Serikat. Saat itu, seorang pekerja bernama Charles D. Scanlon yang bertugas mengecat marka jalan sering menghadapi masalah yang sama.
Cat yang baru selesai dibuat sering kali rusak karena terlindas kendaraan, sementara para pekerja di lapangan juga berada dalam risiko yang cukup besar. Nah, kondisi tersebut membuat Scanlon berpikir untuk menciptakan penanda jalan yang lebih aman dan mudah terlihat.
Menurut Arizona Department of Transportation, ide tersebut akhirnya melahirkan penanda berbentuk kerucut yang kemudian dipatenkan pada tahun 1943.
Dalam dokumen patennya, Scanlon menjelaskan bahwa tujuan utama penemuannya adalah menciptakan penanda yang mudah dilihat pengemudi, tapi tidak berisiko kalau tidak sengaja tertabrak. Dari sinilah cikal bakal traffic cone modern mulai lahir.
Sebelum Ada Traffic Cone, Pengaturan Jalan Lebih Merepotkan

Sebelum traffic cone ditemukan, mengatur arus kendaraan bukanlah pekerjaan yang mudah. Pada awal abad ke-19, petugas jalan biasanya harus berdiri langsung di jalan sambil membawa peluit atau papan tanda untuk mengarahkan kendaraan.
Wellington City Council mencatat bahwa metode tersebut semakin berisiko seiring bertambahnya jumlah mobil di jalan. Karena itu, berbagai penghalang dari kayu dan tripod mulai digunakan sebagai alternatif.
Sayangnya, cara tersebut juga punya banyak kekurangan. Selain berat dan sulit dipindahkan, papan kayu membutuhkan tempat penyimpanan yang besar.
Kalau tertabrak kendaraan, material kayu juga lebih mudah rusak dan bahkan bisa menyebabkan kerusakan pada mobil. Itulah kenapa, dunia transportasi membutuhkan solusi yang lebih praktis dan aman.
Sempat Menggunakan Beton sebelum Beralih ke Material Modern

Perjalanan traffic cone tidak berhenti di Amerika Serikat. Pada akhir 1950-an, benda ini mulai digunakan di Inggris bersamaan dengan pembukaan jalan tol M6 bypass Preston.
Menariknya, bentuk kerucut pada masa itu sangat berbeda dengan yang kita kenal sekarang. Fine Times Recorder menyebutkan bahwa generasi awal traffic cone di Inggris justru dibuat dari beton padat.
Material tersebut dipilih agar kerucut tidak mudah bergeser karena angin. Selain itu, benda ini digunakan untuk menggantikan lampu lentera minyak tanah merah yang sebelumnya dipasang di area konstruksi.
Meski cukup efektif, kerucut berbahan beton ternyata memiliki masalah tersendiri. Kalau tertabrak kendaraan, dampaknya bisa sangat berbahaya.
Karena alasan itulah, industri kemudian beralih menggunakan bahan yang lebih ringan dan lentur seperti karet serta termoplastik, yang masih digunakan sampai sekarang.
Warna Traffic Cone Tidak Dipilih Sembarangan

Kalau diperhatikan, hampir semua traffic cone berwarna oranye terang dengan garis putih yang bisa memantulkan cahaya. Ternyata, desain ini merupakan hasil dari berbagai penyempurnaan yang dilakukan selama puluhan tahun.
Menurut American Society of Civil Engineers (Texas Section), warna oranye dipilih karena termasuk warna yang paling mudah terlihat dalam berbagai kondisi cuaca. Baik saat siang hari maupun ketika hujan, warna tersebut tetap mencolok bagi pengemudi.
Kemajuan lainnya muncul pada tahun 1970-an ketika para perancang mulai menambahkan pita reflektif di bagian badan kerucut.
Material ini membantu pengemudi melihat penanda jalan dari jarak yang lebih jauh, terutama pada malam hari, saat berkabut, atau ketika hujan deras.
Berkat perubahan tersebut, traffic cone menjadi jauh lebih efektif dalam menjaga keselamatan di jalan raya hingga saat ini.
Kini juga Menjadi Simbol Budaya

Seiring berjalannya waktu, traffic cone ternyata bukan cuma berfungsi sebagai pembatas jalan. Benda sederhana ini juga mulai masuk ke dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Dilansir dari The Times, traffic cone sering dimanfaatkan sebagai media humor maupun simbol kritik di ruang publik. Salah satu contoh yang paling terkenal berasal dari Kota Glasgow, Skotlandia.
Sejak tahun 1980-an, masyarakat setempat punya kebiasaan unik dengan meletakkan traffic cone di atas kepala patung Duke of Wellington.
Aksi yang awalnya dianggap sebagai kenakalan ringan perlahan menjadi ciri khas kota dan menarik perhatian wisatawan dari berbagai negara.
Sampai saat ini, tradisi tersebut masih terus berlangsung dan menjadi bukti bahwa benda yang awalnya diciptakan demi keselamatan jalan raya ternyata bisa berkembang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.
Itu dia penjelasan lengkap seputar asal usul traffic cone. Semoga bermanfaat ya!





















