- Batching tugas serupa: Misalnya, kumpulkan semua pesanan untuk diproses sekaligus setiap hari Selasa malam, daripada mengerjakannya sedikit-sedikit setiap hari.
- Jadwalkan meeting dan panggilan telepon: Di jam-jam ketika energimu sedang tidak di puncak, dan simpan waktu terbaikmu untuk pekerjaan kreatif atau strategis.
- Beri tenggat waktu pada setiap tugas: Agar tidak ada yang menggantung terlalu lama.
- Ambil jeda secara berkala: Istirahat singkat 5 hingga 15 menit setiap jam justru bisa meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.
5 Cara Memulai Bisnis Sampingan untuk Perempuan yang Sibuk Kerja

- Artikel menyoroti pentingnya memisahkan pekerjaan utama dan bisnis sampingan agar tidak terjadi konflik kepentingan serta menjaga profesionalitas di tempat kerja.
- Ditekankan perlunya pengaturan waktu fleksibel, manajemen prioritas, dan sistem kerja efisien agar bisnis sampingan bisa berjalan tanpa mengganggu pekerjaan utama.
- Penulis menegaskan bahwa delegasi tugas kepada freelancer atau pihak lain membantu perempuan pekerja mengelola bisnis secara berkelanjutan tanpa kelelahan berlebih.
Punya penghasilan tambahan dari bisnis sendiri memang impian banyak perempuan. Tapi sering kali, rasa takut keteteran antara pekerjaan utama dan bisnis baru bikin langkah pertama terasa berat banget.
Kabar baiknya, kamu tidak harus langsung resign untuk memulai bisnis sampingan. Dikutip dari Shopify, pengusaha yang tetap mempertahankan pekerjaan utama mereka memiliki peluang kegagalan 33% lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang langsung berhenti bekerja.
Buat kamu yang mau mulai usaha sampingan tapi bingung memulainya, berikut Popmama.com merangkum 5 cara memulai bisnis sampingan untuk perempuan. Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
1. Jangan satukan pekerjaan utama dan bisnis sampingan

Ini kesalahan yang paling sering terjadi, yaitu mencampuradukkan urusan kantor dengan urusan bisnis pribadi. Padahal, memisahkan keduanya adalah fondasi utama agar kedua hal ini bisa berjalan beriringan tanpa masalah.
Dikutip dari Shopify, pastikan kamu tidak memulai bisnis yang bisa dianggap sebagai pesaing langsung dari perusahaan tempat kamu bekerja, karena ini bisa menimbulkan konflik kepentingan.
Penting juga untuk memeriksa kembali kontrak kerja, termasuk klausul kerahasiaan atau perjanjian non-kompetisi, sebelum terlalu jauh berinvestasi di bisnis sampingan.
Selain itu, jangan gunakan waktu kerja, perangkat kantor, atau sumber daya perusahaan untuk keperluan bisnis pribadi. Menggunakan jam kerja untuk urusan bisnis sendiri bisa dianggap sebagai "pencurian waktu" yang melanggar kebijakan perusahaan.
Kalau kamu merasa cukup nyaman, ada baiknya bersikap transparan kepada atasan. Siapa tahu perusahaanmu justru mendukung karyawan yang punya proyek sampingan.
2. Bebaskan diri dari rutinitas kantor yang kaku

Setelah urusan "batas wilayah" antara pekerjaan dan bisnis sudah jelas, tantangan berikutnya adalah soal waktu. Jadwal kerja 9 to 5 yang ketat memang bisa membatasi ruang gerak. Tapi bukan berarti tidak ada solusi.
Kamu bisa mencoba mengusulkan jadwal kerja fleksibel kepada atasan. Beberapa perusahaan menerapkan sistem "core hours", misalnya dari pukul 10 pagi hingga 3 sore, di mana selama kamu tersedia dan memenuhi tenggat waktu, sisa jam kerja bisa diatur sendiri.
Opsi kerja jarak jauh atau remote working juga bisa jadi solusi cerdas. Jika diizinkan bekerja dari mana saja, kamu bisa mengatur jadwal sehingga jam-jam paling produktifmu bisa dialokasikan untuk bisnis sendiri, sembari tetap memenuhi kewajiban pekerjaan utama.
Bonus tambahannya? Tidak perlu lagi terjebak kemacetan waktu berangkat atau pulang kerja. Waktu commuting yang tersisa itu bisa dialihkan untuk memajukan bisnis maupun kehidupan pribadi.
3. Atur waktu dengan cerdas

Sekarang waktumu sudah lebih fleksibel. Pertanyaannya: bagaimana mengisinya dengan benar? Di sinilah manajemen waktu menjadi kunci segalanya.
Langkah pertama adalah membebaskan diri dari hal-hal yang tidak esensial, seperti scrolling media sosial tanpa tujuan atau menonton TV berjam-jam. Kebiasaan ini bisa menyita banyak waktu yang sebenarnya bisa dipakai untuk hal yang lebih produktif.
Setelah "membersihkan" jadwal dari distraksi, saatnya mengisi ulang dengan hal-hal yang benar-benar berarti. Beberapa trik yang bisa langsung diterapkan:
4. Buat sistem kerja yang bisa berjalan

Bisnis yang sehat bukan bisnis yang sepenuhnya bergantung pada pemiliknya setiap saat. Kalau kamu harus turun tangan untuk setiap hal kecil, pertumbuhan bisnis akan mentok di satu titik dan kamu akan mudah kelelahan.
Solusinya yaitu membangun sistem. Cari pekerjaan-pekerjaan yang berulang, lalu ubah menjadi prosedur yang bisa dijalankan secara konsisten. Berikut beberapa contoh:
- Buat SOP (Standar Operasional Prosedur): Untuk proses pemenuhan pesanan, penanganan retur, layanan pelanggan, hingga jadwal unggahan konten.
- Siapkan template: Untuk balasan pesan pelanggan yang sering ditanyakan seperti konfirmasi pesanan, update pengiriman, atau pertanyaan soal ukuran produk.
- Tentukan "jam operasional" bisnismu: Misalnya, kamu hanya membalas pesan pelanggan dua kali sehari agar tidak mengganggu pekerjaan utama.
- Manfaatkan fitur otomatisasi: Untuk notifikasi pesanan atau pengiriman, sehingga pelanggan tetap mendapat respons cepat bahkan saat kamu sedang sibuk.
5. Jangan coba lakukan semuanya sendiri

Ini mungkin pelajaran paling penting dan yang paling sering diabaikan. Banyak perempuan yang menjalankan bisnis sampingan merasa harus mengurus semuanya sendiri karena takut repot mendelegasikan atau tidak punya cukup anggaran untuk merekrut orang.
Padahal, seberapa pun kamu mengatur waktu dan produktivitas, tetap saja hanya ada 24 jam dalam sehari. Dari 24 jam itu, sekitar 8 jam dibutuhkan untuk tidur agar kamu bisa berfungsi optimal.
Pengusaha yang cerdas dan sukses memahami bahwa ada batas kemampuan personal, bahwa mereka tidak mungkin ahli di semua aspek bisnis, dan bahwa tugas-tugas yang tidak dikuasai atau tidak disukai bisa didelegasikan kepada orang lain.
Tidak harus langsung merekrut karyawan tetap. Kamu bisa menggunakan jasa freelancer untuk berbagai tugas yang bisa di-outsourcing. Mulai dari mana? Buat dua daftar:
- Daftar tugas yang kamu kurang kuasai dan sukai: Outsource semua yang ada di daftar ini. Kamu akan lebih bersemangat untuk fokus pada hal yang kamu cintai.
- Daftar tugas yang menyita waktu tapi tidak butuh keahlian khusus: Ini juga bisa dikerjakan oleh orang lain dengan pelatihan singkat.
Beberapa pekerjaan yang umum bisa didelegasikan ke freelancer antara lain: pengembangan dan pengelolaan website, desain grafis, penulisan konten, manajemen media sosial, hingga pembukuan keuangan.
Nah, itulah pembahasan mengenai 5 cara memulai bisnis sampingan untuk perempuan. Semoga bermanfaat!


















