Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
5 Cara Mengajarkan Positive Masculinity pada Anak Laki-Laki
Ilustrasi ayah dan anak (Pinterest/John Moris)
  • Positive masculinity menekankan keseimbangan antara kekuatan dan empati, mendorong laki-laki untuk terbuka secara emosional tanpa terikat stereotipe maskulinitas tradisional.

  • Lima cara utama mengajarkannya pada anak meliputi mengenali emosi, mengeksplorasi minat bebas gender, menghormati orang lain, menumbuhkan empati, serta memahami pentingnya consent.

  • Mengajarkan konsep ini sejak dini membantu anak laki-laki tumbuh sehat secara mental, berpikir kritis terhadap konten toksik, dan membangun hubungan yang saling menghargai.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menampilkan pandangan yang optimistis tentang perubahan cara mendidik anak laki-laki, dengan menekankan pentingnya empati, rasa hormat, dan kesadaran emosional. Melalui penerapan konsep positive masculinity, anak diajak mengenali perasaannya, menghargai orang lain tanpa batasan stereotipe, serta tumbuh menjadi pribadi yang lebih terbuka dan berimbang secara emosional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Maskulinitas sering kali ditandai dengan ketangguhan, sifat yang keras, atau dominan. Laki-laki tidak boleh menunjukkan sisi emosionalnya, dituntut harus selalu kuat tanpa kelemahan.

Padahal tidak melakukan semua stereotip tersebut merupakan sifat yang manusiawi. Perkembangan zaman juga membuat masyarakat kini lebih terbuka dengan konsep positive masculinity. Apa itu?

Singkatnya, konsep ini mendorong laki-laki untuk tetap bisa menjadi pribadi yang kuat dengan tetap berempati dan terbuka secara emosional. Hal ini juga dapat membawa sejumlah dampak positif jika diajarkan pada anak sejak kecil.

Nah, ini dia beberapa cara mengajarkan positive masculinity pada anak yang telah Popmama.com rangkum berikut ini!

1. Ajak anak untuk kenali dan validasi emosinya

Ilustrasi orang tua tetap tenang mengahadpi anak menangis. (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Anak perlu tahu bahwa semua emosi yang ia rasakan merupakan hal yang wajar, entah sedih, marah, takut, atau kecewa. Mengutip dari Motherly, merangkul emosi dapat. membantu anak mengembangkan pemahaman yang lebih dalam soal empati, kasih sayang, hingga menumbuhkan kebaikan. 

Untuk itu, jangan remehkan atau mengomelinya saat anak menangis atau marah. Orangtua sebaiknya merespon dengan kalimat yang menenangkan dan memberikan solusi.

2. Dorong anak untuk mengeksplorasi minatnya

ilustrasi anak laki-laki sedang melihat ayahnya memperbaiki papan selancar (pexels.com/kampus)

Kebanyakan orangtua masih terjebak terhadap stereotipe bahwa anak laki-laki harus terlihat tangguh, sehingga cenderung menghindari hal-hal yang lebih dekat dengan stereotipe perempuan, misalnya memasak. 

Padahal, pemahaman seperti ini justru dapat memicu pemikiran maskulinitas yang toksik pada anak. Sebaiknya dorong anak sejak dini untuk mengeksplorasi berbagai minat, emosi, dan perilaku yang bebas dari batasan norma atau stereotip gender.

3. Ajarkan rasa hormat

ilustrasi anak laki-laki sedang mendengarkan ayahnya berbicara (pexels.com/august-de-richelieu)

Penting untuk menanamkan rasa hormat pada anak sejak usia dini agar dapat memperlakukan orang lain dengan baik.

Ajarkan anak untuk saling menghormati dan menghargai individu lain, terlepas dari jenis kelamin, ras, orientasi seksual, ataupun karakteristik lainnya.

4. Tanamkan empati dalam kesehariannya

ilustrasi tiga anak laki-laki menonton handphone (freepik.com/pressfoto)

Mencegah anak memiliki pemikiran maskulinitas yang toksik juga bisa dengan menanamkan empati dalam kesehariannya. Biasakan anak untuk memahami perasaan orang lain agar tidak tumbuh menjadi pribadi yang egois.

Mama bisa mengajaknya ikut berpikir soal bagaimana jika anak merasakan apa yang orang lain rasakan. Jika anak masih cukup kecil, konsep pemahaman ini bisa mulai diajarkan dengan cerita dongeng. 

5. Ajarkan pentingnya consent

Ilustrasi bersama anak laki-laki dan perempuan (pexels.com/Ivan S)

Mengajarkan consent membantu anak memahami bahwa kekuatan laki-laki bukan diukur dari kemampuan memaksakan kehendak, tetapi dari kemampuan menghormati batasan orang lain. Mengajarkan konsep ini sejak dini membantu anak tumbuh dengan pemahaman bahwa setiap orang memiliki hak atas tubuh dan perasaannya sendiri.

Pemahaman consent yang kuat, anak laki-laki akan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya percaya diri, tetapi juga memiliki empati, kesadaran diri, dan kemampuan membangun hubungan yang sehat serta saling menghargai.

Kenapa Positive Masculinity Perlu Diajarkan?

ilustrasi anak laki-laki (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

Konsep positive masculinity mengajarkan anak (terutama anak laki-laki) untuk mengubah stereotip yang membatasi potensinya. Hal ini juga penting untuk meningkatkan kesehatan mentalnya, membangun hubungan yang didasari rasa hormat dengan orang lain, dan menciptakan lingkungan yang lebih aman dan inklusif.

Melansir dari laman The Foundation for Positive Masculinity, konsep ini juga membekali anak agar dapat berpikir kritis dan mempertanyakan setiap informasi atau konten yang tersebar di internet, entah toksik, misoginis, atau agresif. 

Mengajarkan anak positive masculinity juga dapat menghindari risiko depresi atau kecemasan, sebab anak menjadi lebih leluasa mengekspresikan dirinya.

Itu dia penjelasan mengenai cara mengajarkan positive masculinity pada anak. Yuk, tanamkan pemahaman ini pada anak sejak dini!

Editorial Team

Related Article