Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Chat Kantor di Luar Jam Kerja Bisa Ganggu Mental Health?
Pexels/cottonbro studio
  • Tekanan untuk selalu tersedia dan cepat membalas pesan kerja berkaitan dengan burnout, gangguan pemulihan, kualitas tidur, dan absensi.

  • Penggunaan smartphone untuk pekerjaan di waktu pribadi dapat memperburuk work-life conflict, meski dampaknya dipengaruhi beban kerja dan budaya organisasi.

  • Batas komunikasi yang jelas, dukungan atasan, fleksibilitas, dan kontrol pekerja menjadi bagian penting dalam menjaga waktu di luar jam kerja.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2024

Scoping review oleh Holly Blake dan kolega menganalisis 23 penelitian mengenai penggunaan smartphone untuk pekerjaan di luar jam kerja dan konflik kehidupan-kerja.

2026

Systematic review oleh Wendy Nilsen dan kolega mengevaluasi 12 studi dengan total 2.306 peserta mengenai kebijakan dan intervensi untuk membatasi ekspektasi ketersediaan setelah jam kerja.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Komunikasi kerja di luar jam kerja berkaitan dengan gangguan pemulihan, konflik kehidupan-kerja, stres, burnout, dan gejala kecemasan.
  • Who?
    Pekerja yang menerima atau menggunakan komunikasi kerja di luar jam kerja, termasuk melalui smartphone, email, dan aplikasi perpesanan.
  • Where?
    Komunikasi berlangsung melalui perangkat komunikasi, termasuk saat pekerja berada di rumah atau di luar waktu kerja.
  • When?
    Setelah jam kerja selesai atau ketika pekerja sedang memasuki waktu pribadi dan istirahat.
  • Why?
    Tekanan untuk selalu tersedia dapat mengaburkan batas pekerjaan dan kehidupan pribadi serta menghambat pelepasan pikiran dari pekerjaan.
  • How?
    Dampak berkaitan dengan frekuensi komunikasi, beban kerja, budaya organisasi, dukungan atasan, serta kontrol pekerja terhadap batas waktu kerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Chat kantor setelah jam kerja bisa membuat orang tetap memikirkan pekerjaan walau sudah di rumah. Pekerja dapat merasa harus cepat membalas atasan, teman kerja, atau klien. Penelitian menemukan hal ini berkaitan dengan stres, cemas, sulit beristirahat, dan pikiran yang terus berputar. Namun, satu chat tidak otomatis membuat seseorang sakit.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Temuan penelitian membantu memperjelas bahwa persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya pesan setelah jam kerja. Pemahaman tentang frekuensi komunikasi, beban kerja, dukungan atasan, fleksibilitas, dan kontrol pekerja dapat menjadi dasar untuk membentuk batas kerja yang lebih jelas tanpa menganggap semua komunikasi sebagai masalah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jam kerja sudah selesai, laptop sudah ditutup, tetapi notifikasi pekerjaan masih terus masuk. Kondisi ini mungkin terasa biasa, apalagi sejak komunikasi kerja banyak dilakukan melalui WhatsApp, email, atau aplikasi perpesanan lainnya.

Namun, persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya satu chat setelah jam kerja. Penelitian justru menyoroti kondisi ketika pekerja merasa harus selalu tersedia dan segera membalas pesan, bahkan ketika sudah memasuki waktu istirahat.

Sejumlah penelitian mengaitkan komunikasi kerja di luar jam kerja dengan berkurangnya kemampuan untuk benar-benar melepaskan pikiran dari pekerjaan, meningkatnya konflik antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, hingga gejala stres dan kecemasan.

Berikut Popmama.com rangkum fakta mengenai dampak chat kantor setelah jam kerja berdasarkan sejumlah penelitian.

1. Perasaan harus selalu membalas chat kerja punya istilah tersendiri

Pexels/Kaboompics

Pernah merasa tidak tenang ketika melihat pesan kantor belum dibalas meski jam kerja sudah selesai? Dalam penelitian psikologi kerja, kondisi ini dikenal sebagai workplace telepressure.

Istilah tersebut diperkenalkan Larissa K. Barber dan Alecia M. Santuzzi dalam penelitian Please Respond ASAP: Workplace Telepressure and Employee Recovery. W

orkplace telepressure digambarkan sebagai rasa terus memikirkan pesan kerja sekaligus dorongan untuk segera merespons pesan dari atasan, rekan kerja, maupun klien.

Masalahnya bukan hanya pesan yang masuk, melainkan ekspektasi bahwa seseorang harus terus tersedia dan cepat membalas.

Penelitian itu menyebut kalau workplace telepressure berkaitan dengan burnout fisik dan kognitif, kualitas tidur, absensi, serta perilaku membalas email. Para peneliti juga menyoroti bagaimana kondisi tersebut dapat mengganggu proses pemulihan setelah bekerja.

Dengan kata lain, sekadar menerima satu pesan kantor setelah pulang belum tentu menjadi masalah. Tekanan untuk selalu stand by dan tidak bisa benar-benar lepas dari pekerjaan yang lebih perlu diperhatikan.

2. Pikiran bisa tetap berada di kantor meski tubuh sudah di rumah

Pexels/SHVETS production

Salah satu konsep penting dalam penelitian mengenai kehidupan setelah bekerja adalah psychological detachment, yakni kemampuan untuk secara mental melepaskan diri dari pekerjaan ketika sedang tidak bekerja.

Sebuah scoping review oleh Holly Blake dan kolega pada 2024 menganalisis 23 penelitian mengenai penggunaan smartphone untuk pekerjaan di luar jam kerja dan konflik kehidupan-kerja.

Sebagian besar studi yang dianalisis menemukan hubungan antara penggunaan smartphone untuk pekerjaan saat waktu pribadi dengan meningkatnya work-life conflict.

Salah satu penjelasannya adalah teknologi membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi semakin kabur.

Artinya, seseorang mungkin sudah berada di rumah secara fisik, tetapi pikirannya masih tertahan pada pekerjaan karena harus mengecek pesan, memikirkan balasan, atau mengantisipasi notifikasi berikutnya.

Hal ini tidak berarti penggunaan smartphone untuk bekerja selalu berbahaya. Dampaknya juga dapat bergantung pada beban kerja, kontrol pekerja terhadap batas waktu kerja, preferensi pribadi, hingga budaya di tempat kerja.

3. Sering cek email kerja setelah pulang dapat mengganggu waktu recovery

Magnific

Waktu setelah bekerja bukan hanya waktu kosong, tetapi juga kesempatan tubuh dan pikiran untuk melakukan recovery atau pemulihan.

Tomohide Kubo dan kolega meneliti terhadap 58 pekerja perusahaan teknologi informasi memantau kondisi peserta selama satu bulan.

Peneliti melihat hubungan frekuensi email pekerjaan setelah jam kerja dengan psychological detachment, rumination atau pikiran yang terus berputar soal pekerjaan, kelelahan yang terbawa ke hari berikutnya, tidur, dan kortisol.

Hasilnya, semakin sering email pekerjaan dilakukan setelah jam kerja berkaitan dengan psychological detachment yang lebih buruk, lebih banyak rumination, carry-over fatigue, serta perbedaan pada kualitas tidur yang diukur dengan actigraphy.

Namun, ada detail penting. Studi tersebut tidak menemukan hubungan signifikan antara frekuensi email dengan durasi tidur maupun cortisol awakening response.

Jadi, temuan ini tidak berarti setiap kali membuka email kantor malam hari seseorang pasti kurang tidur atau mengalami gangguan hormon stres.

Penelitian tersebut lebih menunjukkan bahwa kualitas waktu setelah bekerja juga penting, bukan hanya berapa lama seseorang memiliki waktu istirahat.

4. Komunikasi kerja di luar jam kantor berkaitan dengan gejala kecemasan

Pexels/MART PRODUCTION

Penelitian berskala jauh lebih besar juga menemukan hubungan antara komunikasi kerja di luar jam kerja dan kesehatan mental.

Studi yang diterbitkan dalam Journal of Occupational Health menganalisis data 46.055 pekerja di Korea Selatan. Peneliti membandingkan jam kerja panjang dengan penggunaan perangkat komunikasi untuk urusan pekerjaan di luar jam kerja.

Pekerja yang menggunakan perangkat komunikasi untuk pekerjaan di luar jam reguler, tetapi tidak bekerja dalam jam yang panjang, memiliki odds gejala kecemasan 2,18 kali dibanding kelompok rujukan.

Sementara kelompok yang sekaligus memiliki jam kerja panjang dan menggunakan perangkat komunikasi kerja di luar jam kantor menunjukkan odds tertinggi, yakni 2,57 kali.

Namun, penelitian ini bersifat cross-sectional. Artinya, penelitian menunjukkan hubungan atau asosiasi, bukan membuktikan bahwa chat kantor setelah jam kerja secara langsung menyebabkan gangguan kecemasan.

Meski demikian, temuan tersebut memperkuat alasan mengapa batas antara pekerjaan dan waktu pribadi perlu diperhatikan, terutama ketika seseorang terus dituntut terhubung setelah jam kerja selesai.

5. Solusinya bukan berarti tidak boleh menghubungi sama sekali

Pexels/Andrea Piacquadio

Lantas, apakah kantor sama sekali tidak boleh menghubungi pekerja setelah jam kerja? Bukti ilmiah menunjukkan jawabannya tidak sesederhana itu.

Systematic review oleh Wendy Nilsen dan kolega pada 2026 mengevaluasi 12 studi dengan total 2.306 peserta mengenai kebijakan dan intervensi untuk membatasi ekspektasi ketersediaan setelah jam kerja.

Hasilnya, kebijakan formal seperti right to disconnect atau aturan larangan menghubungi setelah jam kerja tidak selalu memberikan efek besar jika berdiri sendiri.

Pendekatan yang lebih menjanjikan justru melibatkan kombinasi beberapa hal, seperti dukungan atasan, batas yang jelas, fleksibilitas, dan kemampuan pekerja mengendalikan batas antara kerja dan kehidupan pribadi.

Sementara itu, Simon Renk dan Christine Sutter yang merangkum 17 studi juga menemukan bahwa tuntutan untuk selalu tersedia berkaitan dengan lebih banyak work-family conflict, stres dan burnout, serta mental well-being yang lebih rendah.

Namun, efeknya turut dipengaruhi oleh otonomi, beban kerja, budaya organisasi, dan cara seseorang mengatur batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar “boleh atau tidak boleh chat setelah jam kerja”. Hal yang lebih penting adalah adanya kesepakatan mengenai kapan pesan memang mendesak, kapan bisa menunggu hingga hari kerja berikutnya, serta apakah pekerja benar-benar memiliki hak untuk menikmati waktu off tanpa merasa harus selalu siap membalas.

Jadi, chat kantor setelah jam kerja memang dapat berkaitan dengan kesehatan mental dan proses pemulihan setelah bekerja, terutama ketika pekerja merasa harus terus tersedia.

Namun, satu pesan setelah jam kerja bukan berarti otomatis menyebabkan stres atau burnout. Hal yang lebih perlu diperhatikan adalah budaya selalu stand by, frekuensi komunikasi, beban kerja, dan seberapa besar kontrol seseorang terhadap batas waktu kerjanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article