Lantas, apakah kantor sama sekali tidak boleh menghubungi pekerja setelah jam kerja? Bukti ilmiah menunjukkan jawabannya tidak sesederhana itu.
Systematic review oleh Wendy Nilsen dan kolega pada 2026 mengevaluasi 12 studi dengan total 2.306 peserta mengenai kebijakan dan intervensi untuk membatasi ekspektasi ketersediaan setelah jam kerja.
Hasilnya, kebijakan formal seperti right to disconnect atau aturan larangan menghubungi setelah jam kerja tidak selalu memberikan efek besar jika berdiri sendiri.
Pendekatan yang lebih menjanjikan justru melibatkan kombinasi beberapa hal, seperti dukungan atasan, batas yang jelas, fleksibilitas, dan kemampuan pekerja mengendalikan batas antara kerja dan kehidupan pribadi.
Sementara itu, Simon Renk dan Christine Sutter yang merangkum 17 studi juga menemukan bahwa tuntutan untuk selalu tersedia berkaitan dengan lebih banyak work-family conflict, stres dan burnout, serta mental well-being yang lebih rendah.
Namun, efeknya turut dipengaruhi oleh otonomi, beban kerja, budaya organisasi, dan cara seseorang mengatur batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar “boleh atau tidak boleh chat setelah jam kerja”. Hal yang lebih penting adalah adanya kesepakatan mengenai kapan pesan memang mendesak, kapan bisa menunggu hingga hari kerja berikutnya, serta apakah pekerja benar-benar memiliki hak untuk menikmati waktu off tanpa merasa harus selalu siap membalas.
Jadi, chat kantor setelah jam kerja memang dapat berkaitan dengan kesehatan mental dan proses pemulihan setelah bekerja, terutama ketika pekerja merasa harus terus tersedia.
Namun, satu pesan setelah jam kerja bukan berarti otomatis menyebabkan stres atau burnout. Hal yang lebih perlu diperhatikan adalah budaya selalu stand by, frekuensi komunikasi, beban kerja, dan seberapa besar kontrol seseorang terhadap batas waktu kerjanya.