Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Daftar Obat Autoimun Kulit, dari Obat Oles sampai Suntik
Magnific/magnific
  • Penyakit autoimun kulit dapat memicu ruam, sisik, gatal, dan perubahan warna; gejalanya belum dapat disembuhkan sepenuhnya, tetapi bisa dikontrol melalui pengobatan sesuai jenis serta tingkat keparahan.

  • Pilihan obatnya mencakup hydrocortisone oles, methylprednisolone dan prednison, hingga imunosupresan methotrexate serta azathioprine untuk menekan peradangan atau aktivitas sistem kekebalan.

  • Rituximab diberikan lewat infus oleh tenaga medis, sedangkan adalimumab melalui suntikan bawah kulit; seluruh dosis, jadwal, dan penghentian obat harus mengikuti arahan dokter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Penyakit autoimun kulit bisa membuat kulit merah, gatal, bersisik, atau berubah warna. Penyakit ini belum bisa hilang sepenuhnya, tapi obat bisa membantu. Ada krim hydrocortisone, obat minum seperti prednison, dan obat suntik atau infus seperti adalimumab dan rituximab. Semua obat harus dipakai sesuai kata dokter dan tidak boleh berhenti sendiri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penyakit autoimun kulit bisa menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari ruam, kulit bersisik, gatal, hingga perubahan warna kulit. 

Penyakit autoimun memang belum bisa disembuhkan sepenuhnya, tetapi gejalanya dapat dikontrol dengan pengobatan yang sesuai.

Pilihan obatnya pun cukup beragam, tergantung jenis dan tingkat keparahan autoimun yang dialami. Ada obat yang dioleskan langsung ke kulit hingga obat yang disuntikkan ke kulit. 

Lantas, apa saja obat yang biasanya digunakan untuk membantu mengatasi autoimun kulit? Berikut Popmama.com berikan 7 daftar obat autoimun kulit.

1. Hydrocortisone

Kalbemed.com

Hydrocortisone merupakan obat golongan kortikosteroid yang bekerja dengan menekan respons sistem kekebalan tubuh sekaligus mengurangi peradangan, kemerahan, dan rasa gatal pada kulit. 

Obat ini dapat digunakan untuk beberapa masalah kulit, seperti eksim, dermatitis, dan psoriasis. Pada kondisi autoimun, penggunaannya perlu disesuaikan dengan anjuran dokter.

Komposisi:
Hidrokortison asetat. 

Dosis dan aturan pakai:
Untuk bentuk krim atau salep, hydrocortisone biasanya dioleskan tipis pada area kulit yang bermasalah sekitar 2–4 kali sehari, sesuai kondisi dan petunjuk dokter.

2. Methylprednisolone

Ogbdexa.com

Methylprednisolone merupakan obat golongan kortikosteroid yang bekerja dengan mengurangi peradangan dan menekan sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif. 

Obat ini dapat digunakan untuk membantu menangani berbagai kondisi, termasuk reaksi alergi berat dan penyakit autoimun.

Komposisi:
Methylprednisolone

Dosis dan aturan pakai:
Dosis methylprednisolone disesuaikan dengan kondisi, tingkat keparahan, dan respons tubuh. 

Obat ini termasuk obat keras sehingga penggunaannya harus berdasarkan resep dan pengawasan dokter. 

Obat juga sebaiknya diminum pada waktu yang sama setiap hari dan tidak dihentikan secara tiba-tiba tanpa arahan dokter karena dapat memicu gejala putus obat.

3. Prednison

Primayahospital.om

Prednison adalah obat golongan kortikosteroid yang bekerja dengan menekan respons sistem kekebalan tubuh sekaligus mengurangi peradangan. 

Obat ini dapat digunakan untuk membantu menangani reaksi alergi dan berbagai penyakit autoimun. 

Komposisi:
Prednison

Dosis dan aturan pakai:
Dosis prednison disesuaikan dengan jenis penyakit dan kondisi masing-masing pasien, jadi penggunaannya harus mengikuti resep dokter.

Jangan menghentikan obat secara tiba-tiba, karena dosis perlu diturunkan secara bertahap sesuai arahan dokter.

4. Methotrexate

Ajmc.com

Methotrexate merupakan obat imunosupresan yang bekerja dengan menekan aktivitas sistem kekebalan tubuh. Obat ini digunakan untuk membantu menangani penyakit autoimun seperti psoriasis dan rheumatoid arthritis.

Komposisi:
Methotrexate

Dosis dan aturan pakai:
Untuk penyakit autoimun, obat ini umumnya dikonsumsi 1 kali seminggu pada hari yang sama. Tablet ditelan utuh dengan air putih. 

Dokter juga dapat memberikan asam folat untuk membantu mengurangi efek samping. 

5. Azathioprine

Alodokter.com

Azathioprine adalah obat imunosupresan yang bekerja dengan menekan aktivitas sistem kekebalan tubuh. 

Obat ini digunakan untuk membantu menangani penyakit autoimun berat, seperti rheumatoid arthritis, dan mencegah penolakan organ setelah transplantasi.

Komposisi:
Azathioprine

Dosis dan aturan pakai:
Dosis azathioprine disesuaikan dengan berat badan dan kondisi pasien, sehingga harus mengikuti resep dokter. Tablet ditelan utuh dengan air dan bisa dikonsumsi bersama makanan.

Jangan mengubah dosis atau menghentikan obat sendiri tanpa arahan dokter.

6. Rituximab

Hellosehat.com

Rituximab adalah obat jenis antibodi monoklonal yang bekerja dengan menargetkan sel B, yaitu salah satu jenis sel dalam sistem kekebalan tubuh. 

Obat ini dapat digunakan untuk menangani beberapa penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis, serta beberapa jenis kanker darah.

Komposisi:
Rituximab

Dosis dan aturan pakai:
Rituximab hanya diberikan melalui infus ke pembuluh darah oleh dokter atau tenaga medis di rumah sakit. Dosis dan jadwal pemberiannya disesuaikan dengan jenis penyakit dan kondisi pasien.

7. Adalimumab

Medicalmex.com

Adalimumab adalah obat biologis berupa antibodi monoklonal yang digunakan untuk mengurangi peradangan akibat penyakit autoimun, seperti psoriasis, rheumatoid arthritis, dan penyakit Crohn. 

Obat ini bekerja dengan menghambat TNF-alpha, yaitu protein yang berperan dalam memicu peradangan.

Komposisi:
Adalimumab

Dosis dan aturan pakai:
Dosis dan jadwal penggunaan adalimumab harus mengikuti resep dokter. Obat diberikan melalui suntikan di bawah kulit, biasanya di area paha atau perut. Penggunaannya bisa dilakukan sendiri setelah mendapat pelatihan dari tenaga medis. 

Itulah 7 daftar obat autoimun kulit dari obat oles sampai suntik. Jika sedang menjalani pengobatan, ikuti dosis dan jadwal yang sudah diberikan serta jangan menghentikan obat secara tiba-tiba tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.

Curated For You

Editorial Team

Related Article