7 Penyebab Autoimun pada Anak Semakin Meningkat, Orangtua Perlu Tahu

- Kasus autoimun pada anak meningkat karena kombinasi faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup modern yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh.
- Polusi, pola makan tinggi makanan ultra-proses, kurang aktivitas fisik, serta minim paparan sinar matahari menjadi pemicu utama gangguan imun anak.
- Kemajuan ilmu kedokteran membuat diagnosis autoimun lebih cepat terdeteksi, sehingga angka kasus tampak meningkat meski kesadaran orangtua juga semakin tinggi.
Belakangan ini, kasus autoimun pada anak disebut semakin meningkat dan mulai menjadi perhatian banyak orangtua. Kondisi ini kerap memunculkan pertanyaan, mengapa sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang sel sehat?
Autoimun sendiri merupakan kondisi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali bagian tubuhnya sendiri sebagai ancaman. Akibatnya, tubuh justru menyerang organ, jaringan, atau sel sehat yang seharusnya dilindungi.
Meski penyebab autoimun pada anak belum sepenuhnya dipahami, para ahli menilai ada beberapa faktor yang diduga ikut berkontribusi terhadap peningkatan kasusnya. Namun perlu dipahami, tidak semua anak dengan faktor risiko tertentu pasti mengalami autoimun karena setiap anak memiliki kondisi tubuh dan faktor genetik yang berbeda.
Lalu, apa saja penyebab yang diduga membuat kasus autoimun pada anak semakin meningkat?
Berikut Popmama.com rangkum 7 penyebab autoimun pada anak semakin meningkat.
1. Perubahan lingkungan dan polusi yang semakin tinggi

Lingkungan tempat anak tumbuh mengalami banyak perubahan dibanding beberapa dekade lalu. Polusi udara, asap kendaraan, hingga paparan bahan kimia dari lingkungan menjadi faktor yang kini semakin sering diperhatikan oleh para peneliti.
Paparan polusi dalam jangka panjang diduga dapat memicu inflamasi atau peradangan di dalam tubuh. Pada anak yang memiliki kerentanan tertentu, kondisi ini diyakini dapat memengaruhi cara kerja sistem imun.
Selain itu, lingkungan perkotaan yang semakin padat juga membuat anak lebih sering terpapar berbagai zat yang sebelumnya mungkin lebih minim ditemukan.
Meski belum menjadi penyebab tunggal, faktor lingkungan dianggap memiliki peran penting dalam meningkatnya risiko gangguan imun, termasuk autoimun.
2. Pola makan modern dan konsumsi makanan ultra-proses (UPF)

Pola makan anak zaman sekarang juga mengalami perubahan besar. Konsumsi makanan ultra-proses atau ultra processed food (UPF), seperti camilan kemasan, minuman tinggi gula, makanan instan, hingga makanan cepat saji menjadi semakin umum.
Makanan jenis ini umumnya tinggi gula, garam, lemak tambahan, serta bahan aditif tertentu, tetapi rendah serat dan nutrisi penting.
Padahal, kesehatan saluran cerna memiliki hubungan erat dengan sistem kekebalan tubuh. Banyak ahli menyebut usus sebagai salah satu “pusat” sistem imun karena sebagian besar sel imun berada di area ini.
Ketika pola makan kurang seimbang, mikrobioma usus atau kumpulan bakteri baik di saluran pencernaan dapat terganggu. Kondisi tersebut diduga dapat memengaruhi regulasi sistem imun anak.
Karena itu, memastikan anak mendapatkan asupan makanan utuh seperti buah, sayur, protein berkualitas, dan sumber serat tetap penting untuk kesehatan jangka panjang.
3. Anak semakin jarang bergerak dan terlalu banyak screen time

Di era digital, anak cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar dibanding bermain aktif di luar rumah.
Mulai dari menonton video, bermain games, hingga belajar menggunakan gadget membuat aktivitas fisik anak perlahan berkurang.
Dilansir dari timesindoensia.co.id, seorang dosen Pendidikan Jasmani memberikan pendaptnya bahwa anak-anak Gen Alpha semakin jarang berkeringat dan lebih akrab dengan layar dibandingkan dengan rumput hijau. Hal tersebut tentunya menjadi sebuah peringatan bahaya untuk para generasi alpha.
Kurangnya aktivitas fisik dapat memengaruhi metabolisme tubuh dan meningkatkan risiko inflamasi kronis tingkat rendah. Selain itu, kebiasaan sedentary atau terlalu lama duduk juga berkaitan dengan meningkatnya risiko obesitas pada anak.
Padahal, aktivitas fisik rutin membantu menjaga keseimbangan tubuh, termasuk mendukung fungsi sistem imun agar bekerja optimal.
Tidak harus olahraga berat, aktivitas sederhana seperti bermain di taman, bersepeda, berenang, atau sekadar aktif bergerak di rumah juga tetap bermanfaat untuk anak.
4. Kurang paparan sinar matahari dan vitamin D

Semakin banyak anak menghabiskan waktu di dalam ruangan, baik untuk sekolah, les, maupun bermain gadget. Hal ini membuat paparan sinar matahari alami menjadi lebih terbatas.
Padahal, tubuh membutuhkan sinar matahari untuk membantu produksi vitamin D, nutrisi yang diketahui memiliki peran penting dalam menjaga sistem imun.
Dilansir dari halodoc.com kekurangan vitamin D dikaitkan dengan gangguan regulasi kekebalan tubuh dan peningkatan risiko beberapa penyakit autoimun karena keseimbangan respons imun ya terganggu.
Meski begitu, paparan sinar matahari tetap perlu dilakukan secara aman dan tidak berlebihan. Mengajak anak bermain di luar rumah pada waktu yang tepat bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut.
5. Lingkungan yang terlalu steril juga bisa berpengaruh

Banyak orangtua tentu ingin menjaga kebersihan anak sebaik mungkin. Namun, beberapa ahli juga menyoroti bahwa lingkungan yang terlalu steril mungkin membuat sistem imun anak kurang “belajar” mengenali berbagai mikroorganisme di sekitarnya.
Dilansir dari alodokter.com hal ini dikenal sebagai hygiene hypothesis, yaitu teori yang menyebut bahwa minimnya paparan mikroba tertentu pada masa kecil dapat memengaruhi perkembangan sistem imun. Akibatnya, sistem imun diduga menjadi lebih sensitif dan berisiko bereaksi secara berlebihan.
Dilansir dari fk.ui.ac.id sebuah penelitian mengungkapkan bahwa jika seseorang kurang terpapar beberapa mikroorganisme nonpatogenik bisa menjadi awal gangguan alergi hingga perkembangan respon imun individu.
Namun, ini bukan berarti orangtua harus mengabaikan kebersihan ya, Ma. Kebersihan tetap penting untuk mencegah penyakit. Hanya saja, anak juga tetap perlu mendapat kesempatan bereksplorasi di lingkungan yang aman, seperti bermain di luar rumah atau berinteraksi dengan alam.
6. Stres dan kurang tidur pada anak semakin meningkat

Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalami stres.
Jadwal yang padat, tekanan akademik, ekspektasi sosial, hingga perubahan lingkungan dapat memengaruhi kondisi emosional anak.
Selain itu, banyak anak juga mengalami waktu tidur yang kurang karena penggunaan gadget atau aktivitas yang terlalu padat.
Padahal, tidur merupakan salah satu waktu penting bagi tubuh untuk melakukan pemulihan, termasuk menjaga sistem kekebalan tetap optimal.
Stres berkepanjangan dan kurang tidur diduga dapat meningkatkan peradangan di dalam tubuh, yang kemudian memengaruhi keseimbangan sistem imun.
Karena itu, menjaga rutinitas tidur yang cukup dan memberikan ruang bagi anak untuk beristirahat juga penting dilakukan.
7. Ilmu kedokteran semakin maju, diagnosis jadi lebih cepat

Peningkatan kasus autoimun tidak selalu berarti jumlah penyakitnya benar-benar melonjak drastis. Dalam banyak kasus, peningkatan angka juga dipengaruhi oleh perkembangan ilmu kedokteran.
Kini, dokter memiliki alat diagnosis yang lebih baik dibanding sebelumnya. Kesadaran orangtua terhadap gejala penyakit juga meningkat, sehingga anak lebih cepat dibawa untuk pemeriksaan.
Penyakit yang dulu mungkin tidak terdiagnosis atau dianggap sebagai kondisi lain, kini bisa dikenali lebih dini.
Dengan diagnosis yang lebih cepat, anak pun memiliki peluang lebih besar mendapatkan penanganan yang tepat sejak awal.
Nah, Ma, meningkatnya kasus autoimun pada anak biasanya tidak disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan kombinasi dari genetik, lingkungan, pola hidup, hingga perkembangan ilmu medis.
Hal terpenting, orangtua bisa mulai fokus pada hal-hal sederhana yang dapat mendukung kesehatan anak, seperti menjaga pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, dan kesehatan emosional Si Kecil. Jika muncul gejala yang tidak biasa atau berlangsung lama, jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter ya, Ma.



















